18. Kumpulan Artikel Yang Membahas Komunitas “Samarinda Low Rider Community”


Artikel Yang Membahas Komunitas “Samarinda Low Rider Community” dari berbagai sumber, seperti dari koran dan majalah.

01. Didatangkan dari Pulau Jawa, Harganya Mencapai Puluhan Juta Sepeda Low Rider yang Mulai Menjamur di Samarinda

Quantcast

Senin, 8 September 2008

SAMARINDA. Ada banyak komunitas sepeda di Samarinda. Ada yang memilih Mountain Trail Bike (MTB), BMX atau sepeda ontel. Tetapi kalau sepeda low rider? Sebagian dari Anda mungkin ada yang belum pernah mendengar atau melihat sepeda jenis yang satu ini.

Penggemar sepada dengan bentuk unik ini dapat dijumpai di halaman parkir GOR Segiri saban sore hari. Biasanya beberapa anak muda berkumpul sembari mengelilingi halaman parkir dengan sepeda yang bentuknya mirip motor Harley Davidson beraliran chopper ini.

Menurut Gentur Wibisono, salah seorang pehobi sepeda low rider, sepeda dengan ciri khas memiliki banyak ruji itu berasal dari Amerika Serikat. Sepeda low rider pertama kali di perkenalkan pada tahun 1960an. Sepeda ini pertama kali di perkenalkan The “custom” King, George Barris, sebelum menemukan sepeda low rider, George Barris pekerjaannya menceperkan mobil. Beberapa varian sepeda low rider diantaranya classic, chopper, beach bike dan extreme.

Gentur Wibisono (Pejabat BI)Gentur Wibisono (Pejabat BI)

“Kalau di Samarinda sejak setahun lalu sudah mulai masuk,” ujar Gentur mengisahkan asal mula sepeda unik tersebut masuk ke Kota Tepian.

Harga sepeda low rider ternyata tidak murah. Untuk yang paling murah, dibandrol Rp1,8 juta. Besarnya harga tergantung dari jenis dan merek sepeda. Gentur mencontohkan, limo long beach miliknya dibeli seharga Rp3,2 juta. Bahkan, katanya, harganya ada yang mencapai puluhan juta. Itu pun harus dibeli di Pulau Jawa. Sepeda low rider cukup banyak di Jakarta, Bandung, Surabaya atau Bali. “Kalau di Kaltim yang memasok baru di Balikpapan. Kalau di Samarinda belum ada,” ujar pria yang sudah memiliki 4 jenis sepeda low rider ini.

Di Samarinda, lanjut Gentur, jumlah sepeda low rider masih belum terlalu banyak, baru sekitar 15 unit. Meski demikian, niat untuk membentuk komunitas pehobi sepeda low rider sangat tinggi. Gentur memiliki cita-cita, di Samarinda ada sebuah komunitas khusus sepeda. Komunitas itu kemudian membawahi pehobi sepeda dari berbagai jenis, seperti ontel, BMX dan MTB.

 

Sore hari di Gor Segiri Samarinda 

Sore hari di Gor Segiri Samarinda

“Kita ingin tidak ada eksklusifitas di sepeda, semuanya sama,” ungkap pria yang sehari-harinya naik sepeda jika ke kantor ini. (nin)

————————————————————————————————-

02. Makin Ceper Lebih Disukai

Tribun Kaltim, Jum’at 12 Desember 2008

Halaman 20

TRIBUN KOMUNITAS

 

SAMARINDA LOW RIDER COMMUNITY

VOX POPULI

Koleksi Tiga (Angga Mahasiswa Akper Poltekkes)

Pertama kali naksir sepeda low riders saat melihat bentuknya. Aneh bin lucu. Tapi, kerena saat itu kantong lagi tipis, saya pun merakit sendiri sepedanya. Pertama, saya pesen dulu komponen sepeda ini di Bandung, misalnya stang, bangku, pelek, hingga garpu depan. Setelah barang sampai, saya bawa ke tukang las untuk disambung, sesuai dengan gambar desain saya. Sekarang koleksi sepeda low rider saya ada 3 unit, dua unit rakitan sendiri dengan harga Rp. 800.000,- dan Rp. 1,5 juta, satu unit pesan dari Jakarta, kalau enggak salah pabrikan dari Jerman seharga Rp. 7,5 juta sudah termasuk ongkos kirim. (fix)


Bentuk tak Normal (Amad, Koordinator Samarinda Low Rider Community)

Saat ini, anggota Samarinda Low Rider Community yang sering ngumpul ada sekitar 20 orang, sebagian besar karyawan tapi ada juga yang mahasiswa dan pelajar. Setiap Minggu Sore, kami nongkrong dan mejeng di halaman GOR Segiri, lalu muter-muter kota sebentar. Biasanya sih, kalau kami sedang konvoi, banyak orang memperhatikan. Ada yang mengacungkan jempol, ada yang memuji kami. Rata-rata tertarik dengan bentuk sepeda kami yang kelihatan tidak normal dan ceper tetapi ada juga bentuknya yang memanjang. (fix)


‘Teman’ Kerja (Yukie, Karyawan)

Mungkin saya anggota Samarinda Low Rider Community yang paling gila. Dibanding pacar, saya lebih sayang sepeda low riders. Makanya, setiap hari saya tak mau jauh-jauh dari sepeda ini. Termasuk pulang dan pergi dari tempat kerja. Padahal, jarak rumah saya di Jalan Antasari dengan tempat kerja di Jalan Kusuma Bangsa cukup jauh dan melelahkan untuk ditempuh dengan sepeda ceper ini. Tapi karena suka dan sudah terbiasa, buat saya ini bukanlah beban. (fix)


Sejarah Singkat Tentang “Sepeda Low Rider”

Sepeda Low Rider pertama kali di perkenalkan pada tahun 1960an, sepeda ini pertama kali di perkenalkan oleh The “custom” king George Barris, sebelum menemukan sepeda low rider si Tuan King ini pekerjaanya adalah menceperkan mobil, Memang saat itu virus Mobil Low Rider sedang mewabah di kalangan anak muda Amerika, Tetapi trend itu hanya bisa dirasakan oleh anak-anak muda dari keluarga kaya saja karena untuk membuat sebuah mobil low rider membutuhkan uang yang tidak sedikit, sementara anak-anak dari kalangan bawah hanya bisa melongo.

Melihat situasi ini, Barris lantas memiliki ide untuk membuat sebuah sepeda yang mengacu pada konsep mobil ceper dan mulai memperkenalkan pada publik. Setelah dibuat dalam jumlah terbatas, ternyata sepeda rancangan Barris digandrungi anak-anak muda, hingga sejumlah pabrik sepeda di sana memproduksi sepeda low rider, misalnya Schwinn, Western Flyer, Giant dan Phoenix. Kalangan penggemar low rider terbagi beberapa aliran, antara lain classic alias orisinil, vegas alias oriental, low rider bicycle, chopper atau stretch dan beach cruiser.

Sepeda ini sempat tidak diproduksi dalam waktu yang lama, karena peminatnya makin menurun. Namun, belakangan ini demam sepeda ceper muncul kembali hingga pabrik-pabrik sepeda pun kembali memproduksi low rider. (fix)


Beberapa anggota Samarinda Low Rider Community (SLRC) bergaya di samping deretan sepeda ceper. Setiap hari Minggu sore, mereka berkumpul di halaman GOR Segiri kemudian keliling kota ramai-ramai.

Makin Ceper Lebih Disukai

SORE yang cerah, Minggu (6/12/2008). Puluhan anak muda berkumpul di halaman GOR Segiri Samarinda. Mereka tertawa, memotret satu sama lain dengan menggunakan ponsel kamera, lalu tenggelam dalam obrolan seru.

Di samping mereka, terdapat sepeda-sepeda berbentuk aneh : pendek tapi memanjang. Dibilang sepeda anak-anak, tapi stangnya tinggi dan tak terjangkau oleh tangan yang pendek. Dikatakan sepeda dewasa, tapi bentuknya ceper dan sangat pendek. Mereka menyebutnya sepeda low rider. Sepeda model inilah yang belakangan ini sedang naik daun, menggeser dominasi sepeda gunung (mountain bike) dan sepeda onthel.

Begitu jumlah pemilik sepeda low rider yang berkumpul dianggap banyak, seorang pria berkaos putih model lengan panjang. Achmad Zulkarnain (Mad Lori), lantas mengajak semua pemilik low rider untuk konvoi keliling kota.

Penampilan sepeda yang lucu, pendek namun memanjang, membuat sebagian besar pengendara sepeda motor dan mobil menoleh, berkomentar dan beberapa melempar senyum.

Itulah fenomena baru di Kota Samarinda. Sejak beberapa bulan lalu, sejumlah orang yang bosan dengan bentuk sepeda normal, mengadakan pertemuan rutin seminggu sekali. Mereka membentuk komunitas baru, perkumpulan pemilik sepeda berbentuk aneh dan tak normal.

“Saat melihat bentuknya yang aneh bin lucu, saya langsung jatuh hati. Beda banget sama sepeda kebanyakan, ini memang sepeda tidak normal bentuknya, “ ujar Angga, mahasiswa Akper Poltekkes Samarinda.

Karena saat itu dompet Angga sedang tipis, ia pun merakit sendiri sepedanya. Pertama, ia pesan dulu komponen sepeda low rider di Bandung, mulai dari stang, bangku, pelek, hingga garpu depan. Setelah barang sampai di Samarinda, ia membawanya ke tukang las untuk disambung sesuai dengan desain yang ia gambar.

Menurut Amad, Koordinator Samarinda Low Riders, saat ini jumlah anggota yang aktif berkumpul sekitar 20 orang, sebagian besar karyawan tapi ada juga yang mahasiswa dan pelajar.

“Malah ada yang satu keluarga masing-masing punya sepeda low riders, mulai bapak, ibu, sampai anak-anaknya, semua pegang low riders. Saya sendiri total punya 3 unit sepeda, 2 unit sepeda low rider cruiser, pesan di Ace Hardware Balikpapan dan 1 unit lagi sepeda Onthel antik merek Gazelle warisan ayah saya ,” kata Amad.

 

Samarinda Low Riders bukan yang pertama mencetuskan tren sepeda ceper yang ditemukan pertama kali di Amerika. Sebelumnya sudah pernah muncul pada tahun 2007, yang dimulai dari distro Scisors di Jalan Ahmad Yani. Hanya saja, jumlahnya masih sangat sedikit dan belum terorganisir. Namun, sejak beberapa bulan lalu, Amad didaulat oleh teman-temannya menjadi koordinator komunitas. (fix)

————————————————————————————————-

03. Harga Sepeda Capai Rp. 7 Juta, Sulit Cari Suku Cadang

Kaltim Post

Lebih Dekat dengan Komunitas Samarinda Low Rider Community

HARGA SEPEDA CAPAI RP. 7 JUTA, SULIT CARI SUKU CADANG

Sejak diperkenalkan pelopornya, the “Custom” king George Barris tahun 60-an di Amerika, sepeda low rider menjadi trendsetter bagi kalangan muda Amerika. Di Kota Tepian, sepeda yang memiliki keunikan pada frame (rangka sepedanya) ini juga menjadi tren sebagaian warga kota.

PUNYA KOMUNITAS : Sepeda low rider tak hanya digemari remaja, tapi juga kalangan eksekutif muda.

SEJAK awal 2008 lalu, sepeda low rider sudah merambah Samarinda. Dipelopori beberapa remaja lokal yang bekerja di salah satu distro, di kawasan Samarinda Utara, sepeda serupa Harley Davidson ini menjadi gengsi bagi pemakainya.

Gentur Wibisono anggota Low Rider Samarinda menyebut, untuk 1 buah sepeda low rider bisa berkisar jutaan rupiah. Menurutnya, mahalnya harga sepeda dilihat dari keunikan rangka serta aksesoris yang terdapat di sepeda. Seperti velg hingga sparepart (suku cadang). Bahkan menurut pria bertubuh gempal ini, mahalnya harga sepeda bisa diukur dari merknya.

“Kalau sepeda low rider yang murah, biasanya dari pabrik China. Itupun lisensinya Amerika. Seperti merk Michargi yang harganya di bawah Rp. 6 juta,” sebutnya. Menurutnya, sepeda yang paling mahal di komunitas yang biasa mangkal di halaman GOR Segiri ini senilai Rp. 7 juta dengan jenis Long Beach Cruiser.

“Khusus untuk rangka, teman-teman ada yang memesan lewat browsing di internet hingga hanting langsung ke pulau Jawa. Tapi kebanyakan ada juga yang buat rangkanya sendiri dari besi-besi yang tidak terpakai, “ terangnya, saat dijumpai dihalaman GOR Segiri, minggu malam lalu.

Selain Gentur, anggota komunitas Low Rider lain, Achmad Zulkarnain (Mad Lori) mengatakan, ciri yang menonjol dari sepeda ini tak hanya terdapat pada rangkanya. Tetapi juga pada setang sepeda.

Ada yang memiliki setang tinggi (apehanger handlebar) dan lebar. Ada pula garpu depannya panjang ke depan hampir menyentuh tanah dengan sadel model pisang (banana seat) dengan kombinasi sandarannya (sissy bar). “Untuk framenya, kami biasa menggunakan model pelangi (rainbow bent frame). Namun ada juga ekstrim. Dengan setang tinggi dan fork panjang melengkung dengan menggunakan per (bent springer fork, Red.) yang mirip motor tua,” katanya.

Kendati demikian, para Low Rider lokal ini mengaku kesulitan mencari sparepart sepeda. Pasalnya, tak banyak toko dan bengkel sepeda di Samarinda yang menjual.

“Jadi, kami biasanya hunting ke pasar tradisional mencari sparepart yang cocok. Walau tidak asli, tapi setidaknya bisa mengganti sparepart yang sudah rusak. Seperti spion,” tandasnya. Untuk diketahui, sepeda low rider memiliki beberapa aliran. Diantaranya Low Rider Bicycle, Chopper, Stretch dan Beach Cruiser. (faisal)

————————————————————————————————-

04. Samarinda Low Rider Community, Sheet! #5 (November 2009)

SAMARINDA LOW RIDER COMMUNITY

Unik! Satu kata yang sontak menghentak di kepala ketika menyimak Sepeda bergaya beda ini. Lowrider mungkin bisa disebut semacam anak haram yang bandel jika dibandingkan dengan jenis sepeda lainnya. Mengadopsi tampilan motor Chopper klasik, Kesan rebel dan eksentrik menambah daya tariknya jika dibandingkan dengan sepeda-sepeda konservatif, terutama jika dibandingkan dengan sepeda-sepeda “keluarga” keluaran pabrik sepeda ternama, tak heran jika jenis sepeda ini dekat dengan kultur independen yang menolak tampil seragam. Dan itu menjadikannya sangat layak digemari semua kalangan.

Samarinda juga memiliki kultur bersepeda yang cukup kuat, komunitas berbasiskan kesukaan terhadap berbagai jenis sepeda (Mountain Bike, BMX, Onthel) sudah hadir dan menunjukan eksistensi yang cukup memuaskan, belakangan hadir pula komunitas untuk jenis sepeda Lowrider. Amad (atau dikenal pula dengan nick ‘Samarinda Lowrider Mad Lori’ di situs jejaring sosial Facebook) adalah salah satu yang paling aktif dalam gerakan komunitas ini, ia membuat Blog khusus (samarindalowridercommunity.wordpress.com) dan Pages SLRC di FB. Bisa dibilang Amad adalah sumber informasi yang tepat untuk mengenali komunitas ini.

Jadi mad, gimana sih perkembangan Komunitas Low rider di kota ini?

“Awalnya pengguna sepeda ini sudah ada sejak tahun 2007, biasanya nongkrong di Distro Scissors, jumlahnya masih sedikit sekitar 10 orang, namun kemudian orang-orang ini tidak bersemangat lagi, sekitar pertengahan 2008 semangat untuk menghidupkan komunitas ini muncul lagi, dan mulai 2009 ini pengguna sepeda Lowrider tanpa diduga semakin banyak, sekitar 40 sepeda” . Well.. pencapaian yang lumayan kalau kita mengukur secara kuantitas, namun kemudian Amad mengakui, perkembangan pesat ini bisa jadi hanya karena Trend semata, dilihat dari anggotanya yang terbagi merata dari anak SMP sampai Pekerja, tentunya jumlah ini akan mengalami naik-turun, pasang-surut dan keluar-masuk anggota. Karena jika memang hanya berawal dari trend semata, tentunya rawan bosan. “Awalnya Lowrider ini memang Cuma soal gaya, tapi dari situ kemudian bisa membuat sesuatu yang beda.. ketika jalan-jalan bersama ada perasaan bangga, ikutin Event rame-rame dan terus mempromosikan baiknya bersepeda”.

Berbicara mengenai Lowrider berarti juga berbicara tentang seni dan pengalihan fungsi. Tak bisa disangkal, dengan bentuk radikal seperti itu, mengendarai sepeda ini berjalan-jalan perlu usaha ekstra, keseimbangan dijaga dengan usaha lebih (belum lagi selangkangan akan lebih cepat terasa lelah terutama jika belum terbiasa). Berbeda dengan jenis sepeda lainnya yang berfungsi menyehatkan tubuh dan mengutamakan unsur sport dalam pemakaiannya, Lowrider mengutamakan Estetika. Jika BMX digunakan untuk beratraksi liar, Lowrider Lebih pas untuk sekedar dipajang dan dikagumi nilai estetikanya, walaupun dalam kultur Lowrider sendiri dikenal pula jenis-jenis ketangkasan seperti Drag Race, Slalom dan Slowrider, yang ini aneh, lambat-lambatan, siapa yang paling lambat dialah yang menang, tapi tak segampang yang dikira, ini butuh keseimbangan.

Oke, Mari kita membandingkan agar mengerti sejauh apa perkembangan SLRC dibanding komunitas serupa di pulau Jawa. Secara nasional, dimana posisis SLRC? “Bisa dibilang masih terbelakang, kendalanya disini tidak ada toko yang khusus menjual spare part Lowrider, keterbatasan sumber daya manusianya juga berpengaruh, misalkan di Samarinda ada toko khusus untuk Lowrider, orang orang juga bisa mencari informasi disitu… disini juga kita belum bisa bikin acara sendiri seperti di Jawa, disini masih nebeng nebeng acara orang aja..” ujar Amad dengan cukup miris, ia berharap kondisi ini akan berubah suatu saat.

Tapi tentunya SLRC masih punya semangat yang cukup untuk menyongsong masa depan dan mengejar ketertinggalan dari komunitas lain .. “Asalkan orang orang bisa mengerti lebih jelas soal kenapa mereka bersepeda Low Rider, dan tidak sekedar ikut ikutan…mudah mudahan bisa bertahan dan berkembang, dengan segala sarana yang lebih baik di kota ini”. Bisa disaksikan kekompakan yang tersisa dari komunitas ini saat mereka berkumpul bersama pada hari Minggu di Stadion Segiri. Bagi pemililik sepeda Lowrider yang belum bergabung dengan SLRC, mereka akan menerima anggota baru dengan tangan terbuka dan bersenang hati, dan bagi yang minat bergabung tapi belum memiliki sepeda, mereka akan merekomendasikan salah satu anggota yang memang dikenal mampu membuatkan sepeda (siapkan dana 1-2 juta untuk hasil yang memuaskan). Semoga Lowrider tak hanya ditanggapi sebagai trend biasa, Kumpulan sepeda unik ini akan selalu terlihat menarik.. dan keunikan memang selalu dibutuhkan kota ini.

Tulisan ini dari Majalah lokal Samarinda : Sheet!, Edisi ke #5 (November 2009)

Penulis artikel : Rhesa Arisy

Sumber info: Mad Lori (Amad)

————————————————————————————————-

05. Low Rider Adalah Salah Satu Dari Lima Hobi Paling Diminati Di Samarinda

PERKOSAKATA - Magazine, Edisi ke # Enam, Five List, Tahun 2010, Hal. 09.

Lima Hobi paling diminati di scene lokal Samarinda, adalah sebagai berikut :

Skateboarding, Design Grafis, Airsoft Gun, Photography dan Low Rider. Yang kita mau bahas pada tulisan di blog ini adalah Low Rider.

LOW RIDER

Tahun 2007 adalah titik awal terbentuknya komunitas Low Rider di Samarinda. Pada saat itu hanya beberapa orang saja yang meminati hobi yang satu ini. Sekarang , sudah kurang lebih 70 orang yang terdaftar di dalam Samarinda Low Rider Community ini. Tidak cukup hanya bersepeda saja, low rider adalah seni. Dengan bentuk sepeda yang di luar kebiasaan, biasanya seorang low rider mempunyai konsep atau ciri khas tersendiri dengan bentuk sepeda yang ditungganginya. Berminat untuk tahu lebih banyak tentang low rider, silahkan sambangi gor segiri setiap hari minggu sore dimana mereka biasa gathering. Mari bersepeda menikmati kota Samarinda…….!

Oke, Perkosakata Five List dibuat tanpa bermaksud untuk mengunggulkan seseorang atau kelompok apapun terhadap lainnya. ini hanya sebuah bentuk penghargaan terhadap kerja keras teman-teman yang masuk di daftar 5 ini setiap tahunnya dengan harapan mampu memicu semangat rekan-rekan lainnya untuk terus berkarya. Tentu adalah hak Perkosakata untuk menentukan dan mempublikasikan siapa-siapa yang masuk dalam daftar tersebut dengan berdasar kepada pilihan pembaca melalui polling yang secara langsung diberikan kepada pembaca sekalian. Jadi tentu saja, hasil apapun yang bisa dilihat disini adalah murni pilihan pembaca, tanpa ada muatan-muatan negatif yang bisa dipikirkan oleh seseorang. (V)

Kirimkan Kritik dan saran Sertakan ID

SMS ke : +62852 4690 1986, e-mail : perkosa.kata.magz@gmail.com, FACEBOOK PERKOSAKATA, Blog : perkosakatazine.wordpress.com

————————————————————————————————-

06. Kreativitas, Desain Dan Modifikasi Sepeda Low Rider

Sepeda-sepeda unik ini dipamerkan di lantai dasar Samarinda Central Plaza (SCP), Sabtu (5/6) kemarin. Event bertajuk “Kontes Sepeda Low Rider 2010” tersebut diikuti 34 peserta dari Samarinda, Balikpapan, Sangatta, hingga Tenggarong.
Sepeda dengan desain Pusamania cukup menarik perhatian pengunjung. Sepeda ini berdisplay khas warna orange milik klub sepak bola kebanggaan Kota Tepian. Harga yang ditawarkan untuk mendapatkan sepeda ceper ini berkisar antara Rp 2 juta hingga Rp 15 juta.
”Ada beberapa 3 penilaian dalam kontes low rider ini, yaitu kreativitas, desain, dan modifikasi,” ujar Dwi Ferdianto, salah satu panitia. Ia menyebutkan, kontes ini baru pertama kali diadakan di Kota Tepian.
Ia mengharapkan dari event ini bisa membangkitkan antusiasme anak muda maupun masyarakat umum untuk menjadikan sepeda low rider sebagai life style ataupun bersepeda yang ramah lingkungan. (fan)

KALTIM POST, Minggu, 06 Juni 2010 , 09:18:00

————————————————————————————————-

Tabloid KONTAN Edisi 28 Feb – 6 Mar 2011,  Hal. 25

07. Dari Kota sampai Makam


Mengintip lokasi hangout pecinta sepeda.

Bersepeda paling seru dilakukan bersama. Tujuannya pun beragam. Ada gunung, pantai, pusat kota, sampai situs-situs bernilai sejarah yang belum terjamah menjadi objek bersepeda yang mengasyikkan. Anda sendiri pilih ke mana ? Yuk, gowes !

Fransiska Firliana

Komunitas pecinta sepeda angin memang kian menjamur akhir-akhir ini. Pusat keramian kota kerap dijadikan arena kumpul. Aktivitas yang mereka lakukan biasanya bersepeda bersama berkeliling kota. Lihat saja, Samarinda Low Rider Community (SLRC) tiap Minggu nongkrong memarkir sepeda unik mereka di area Islamic Center Samarinda. “Baru-baru ini tempat itu jadi ikon Kota Samarinda. Jadi asyik aja nongkrong di situ,” ujar Achmad Zulkarnain, salah satu pengurus SLRC.

Achmad bercerita, komunitas beranggotakan sekitar 40 orang ini kerap menggelar bersepeda bersama mengelilingi Kota Samarinda. “Yang penting jalan. Maklum saja, di kota kami tidak banyak lokasi wisata, “jelasnya. Biasanya kegiatan SLRC dilakukan pada Sabtu atau Minggu sore. SLRC ingin menebarkan virus naik sepeda pada masyarakat di Samarinda.

 

Begitu pula dengan Komunitas Sepeda Tua Indonesia(Kosti). Tedi Nugraha, salah seorang pengurusnya, mengatakan komunitasnya tak punya agenda khusus setiap minggunya. “Kalau sudah kumpul, baru menentukan tujuan,” kata dia.

Selain keliling kota, lokasi yang dituju biasanya kawasan budaya, seperti Kota Tua Jakarta. Selain itu, berbagai tempat wisata di Jakarta, seperti Kebun Binatang Ragunan atau Monas. Tak tanggung-tanggung, sekali jalan ada 1.000 orang yang berkumpul. Maklumlah, komunitas ini cukup terorganisir dan anggotanya tidak terbatas di Jakarta saja. Untuk tahu dan mengikuti aktivitas komunitas ini, Anda bisa memantau di blog http://sepeda.wordpress.com.

Selain acara kumpul atau bersepeda bersama, komunitas-komunitas ini sering dilibatkan dalam acara yang diselenggarakan pemerintah daerah, misalnya parade Hari Kemerdekaan RI atau pentas musik.

 

Asyik ke situs purbakala

 

Berbeda dengan SLRC, kumpulan pecinta sepeda yang tergabung dalam Sabtu Pagi Sepeda Santai (SPSS) selalu punya agenda seru setiap minggunya. Aktivitas bersepeda sering dilakukan di Sabtu pagi, tapi bila libur sering melakukan perjalanan pada malam hari. “Kami tidak ada tempat nongkrong khusus. Kami selalu menentukan tempat kumpul strategis sebelum melakukan perjalanan, “jelas Andri Andreas, pengurus komunitas bersepeda di Jogja ini. Andreas mengungkapkan, tujuan bersepeda SPSS kebanyakan area situs purbakala di Jogja dan sekitarnya, mulai dari candi, pantai, gunung, sampai kuburan. Untuk tahu Aktivitas mereka, Anda bisa bergabung di  http://www.facebook.com/spss.jogja.

Tak melulu tempat wisata populer, SPSS juga kerap menyambangi situs yang belum komersial. “Itu asyiknya, teman-teman yang belum tahu, jadi tahu. Ambil contoh, situs Sunan Kalijaga,” ujar Andreas. Tak cuma itu, terkadang sang kepala rombongan tidak memberitahukan tujuan dan tahu-tahu sudah berada di area kuburan yang menarik. Jadi lewat komunitas ini, bukan saja sehat bersepeda, Anda juga bisa mendapat teman-teman baru dan belajar tentang sejarah dan budaya. Andreas bilang, mereka akan terus berburu lokasi-lokasi yang tak terduga.

Ayo, siapa mau ikut ?     □

————————————————————————————————-


2 Tanggapan to “18. Kumpulan Artikel Yang Membahas Komunitas “Samarinda Low Rider Community””

  1. Hai SLRC!! Salam kenal ya dari Handayani Resto n XIEZTA Coffee House Samarinda! :)
    Kayaknya SLRC sering ngadain acara ngumpul2 bareng anggotanya ya? Kita punya tempat yang oke banget lho buat ngumpul2 sambil makan enak pastinya.. Tempat kita luas, ada indoor n outdoor, plus VIP room full AC, n tempat parkirnya juga dijamin luas n nyaman banget deh. Soal harga jangan kuatir deh, motto kita kan Menu Bintang 5, Harga Kaki 5! ;)

    Lokasi kt di Jl. Kadrie Oening (ex Pandan Harum), telp 0541-7081199. Info lebih lengkapnya kita email ke rcc_samarinda@yahoo.com yaa…Thank you so much!

  2. [...] 18. Kumpulan Artikel Yang Membahas Komunitas “Samarinda Low Rider Community” [...]

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: