16. Artikel – Artikel Tentang Sepeda Low Rider & Komunitasnya Dari Berbagai Sumber


01. Susuri Sudut Kota dengan Laju “Low Rider”

SEJUMLAH sepeda berbentuk unik berjejer di pelataran aspal. Keunikan itu terlihat dari bentuk dan struktur frame, setang, sandaran, hingga joknya. Tak pelak lagi, sepeda bukan sekadar alat olah raga atau alat transportasi semata, namun bisa juga untuk bergaya.

Itulah pemandangan yang terlihat di sekitar Balai Kota Bandung setiap Minggu pagi. Sekelompok anak muda yang meminati sepeda jenis low rider biasa berkumpul di sana, untuk bersilaturahmi, sharing modifikasi sepeda, atau sekadar mengayuh sepedanya mengitari Balai Kota. Kenal lebih dekat, yuk!

Dituturkan salah seorang pegiatnya, Sapto Aji yang akrab disapa Aji, mereka yang kerap berkumpul tersebut berasal dari berbagai komunitas low rider di Bandung, Lembang, hingga Banjaran. Tercatat ada Slow Rider, Pedal Power, Luxurious, Rollerz, Highlander, dsb. Tongkrongan di Balai Kota itu bermula dari berdirinya komunitas Cruisers Van Java yang diinisiasi antara lain oleh Ade Dewanto dan Rinaldy, sekitar akhir tahun 2006. Cruisers Van Java yang kemudian berganti nama menjadi Flower City Rider itu sempat meraup cukup banyak peminat low rider di Bandung hingga belakangan kegiatan organisasinya meredup sebab para pegiatnya diterpa beragam kesibukan.

“Sekarang mau diaktifin lagi, soalnya sayang kan udah ada tempatnya. Untuk sementara belum pakai nama khusus lagi, jadinya siapa aja dan dari komunitas mana aja bisa gabung karena sifatnya cair,” kata Aji ketika ditemui Kampus, Minggu (24/8).

Istilah low rider sendiri muncul sebab pengendara sepeda ini duduk di sadel yang lebih rendah atau ceper dibandingkan dengan sepeda lain. Omong-omong tentang ciri khas sepeda low rider, biasanya terdiri atas fork depan springer model bengkok (bent springer fork), setang model menggantung (apehanger handlebar), rangka model pelangi (rainbow bent frame), jok pisang (banana seat), dan besi sandaran jok (sissy bar), sementara yang lainnya bisa dikostumisasi lagi.

Dengan tujuan bersenang-senang dan semakin memopulerkan keberadaan sepeda low rider, Aji kerap menggelar jalan-jalan keliling kota pada malam hari (night riding) setiap hari Kamis, mulai dari Gedung Merdeka hingga sekitar Jalan Dago. “Tujuannya untuk mengenalkan sepeda low rider pada masyarakat, sekalian wisata kuliner malam hari,” kata Aji sambil terkekeh.

Joey dari Luxurious, menceritakan ketertarikannya pada sepeda low rider dimulai sejak tahun 1994, berkat video-video klip yang memperlihatkan betapa kerennya mobil dan sepeda low rider. “Kalau mobil kan enggak kuat membiayainya, makanya pilih sepeda aja,” kata Joey seraya tertawa. Latar belakang menggemari sepeda low rider memang bermacam-macam. Contohnya Aji yang berasal dari R2 Racing Team, komunitas penggemar motor dan mobil balap. “Memang dasarnya senang modifikasi. Habis mobil, motor, ya terus sepeda deh,” kata Aji.

Para pesepeda low rider memang tidak menganggap sepedanya sekadar sebagai alat transportasi, namun juga sebuah karya seni. “Kita bisa mengekspresikan diri melalui tiap detail modifikasi, pokoknya serulah,” ucap Aji yang juga kerap ikut lomba kreasi sepeda low rider. Menurut dia, keikutsertaan dalam kontes-kontes tersebut merangsang ia dan kawan-kawannya berpikir keras membuat kreasi terbaru.

Salah satu sepeda low rider milik Aji yang berjenis chopper, dipasangi roda berukuran sangat besar yang biasa digunakan mobil arena balap hingga membuat bentuknya menjadi unik. Aji sendiri memiliki belasan sepeda low rider dengan biaya modifikasi mulai dari Rp 2 juta hingga puluhan juta rupiah. Modifikasi itu tak jarang butuh merogoh kocek dalam-dalam, namun itu bukan masalah dibandingkan dengan kesenangan proses merakit sepeda idaman.

“Modifikasinya memang bisa macam-macam. Ada yang menghias bondo (tangki)-nya pakai airbrush, setangnya dibuat melingkar (twist), bahkan ada yang jari-jarinya dilapisi emas hingga 18 karat (gold plate)! Tapi bisa juga dibuat lebih murah dengan merakit sendiri,” ujar Joey.

Kegemaran sepeda gaya ini ternyata dijadikan pula sebagai salah satu kampanye pengurangan jumlah kendaraan bermotor. “Saya ada kendaraan lain, tapi kadang lebih enak pakai sepeda. Hemat energi dan ramah lingkungan,” kata Joey. “Ke depannya semoga komunitas low rider bisa lebih solid menjalin kebersamaan dan ikut mempromosikan gaya hidup sebagai environmentalist,” ujar Aji menuturkan harapannya. So, let’s roll the bike and rock the street! ***

dewi irma
kampus_pr@yahoo.com

————————————————————————————————

02. 80% Fesyen, 20% Fungsi

JAKARTA adalah kota yang sangat sensitif terhadap tren kultur fesyen terbaru. Dari mulai antre untuk donat sampai kopi yang dihargai terlalu mahal, warga Ibu Kota menunjukkan antusiasme mereka mengenal berbagai ‘artifak’ kultur.

Yang terbaru, ada sepeda lowrider. Tidak seperti sepeda pada umumnya, lowrider memiliki ukuran lebih kecil, hampir setinggi sepeda anak-anak, dan kaya modifikasi.

Ceritanya berawal di AS. Lowrider menjadi budaya kaum urban. Pengikut utamanya terutama kaum Hispanik yang tidak mampu memodifikasi mobil atau motor sehingga akhirnya mereka mencoba memodifikasi sepeda. Kultur modifikasi mobil di kalangan keturunan Hispanik sebenarnya juga cukup kuat.

Di Jakarta, setiap Sabtu malam di salah satu sudut Taman Menteng yang bersebelahan dengan Hotel Formula 1, sepeda lowrider tampak menjadi salah satu aktivitas kaum urban Jakarta. Bukan hanya Los Angeles.

“Di Amerika, tadinya ini sepeda mini untuk anak-anak, terus dimodifikasi dan berkembang hingga saat ini. Dan sampailah ke Indonesia. Kebanyakan yang masuk Indonesia itu buatan Jepang, tetapi ada juga yang dari Amerika dan Inggris,” kata Gandung.

Gandung yang sehari-harinya berprofesi sebagai desainer grafis itu adalah salah seorang pencetus komunitas sepeda lowrider dengan nama Sunset Riders.

Komunitas itulah yang setiap Sabtu malam berkumpul di pojok Taman Menteng. Pada sebuah Sabtu malam, seusai pertunjukan pantomim dari salah satu pusat kebudayaan asing di Jakarta, deretan sepeda ‘mini’ yang diparkir itu pun menarik perhatian kerumunan. Sepeda-sepeda itu jadi objek jepretan kamera digital.

Sunset Riders baru muncul sekitar akhir 2004. “Kini, anggotanya 30-an orang. Tadinya kami hanya punya anggota tiga orang, jalan bareng, terus ngobrol dengan yang lain akhirnya pengen bikin sepeda juga, ketemu orang lagi yang punya sepeda, terus ngumpul. Tadinya kami ngumpul di Taman Suropati terus pindah ke Taman Menteng. Karena sepeda ini tidak bisa dibawa jalan jauh, jadi kumpulnya cuma di daerah kami saja. Yang di selatan ngumpul di daerah selatan dan seterusnya,” kata Gandung.

Pusat perhatian

Penggemarnya pun datang dari beragam latar, anak sekolah sampai eksekutif muda. Ini berbeda dengan negara asalnya yang menjadikan sepeda lowrider sebagai subkultur antikemapanan.

“Karena bisa dibilang sepeda ini tidak murah. Untuk modifikasi satu sepeda ini minimal punya uang Rp2 juta. Kita beli per satuan mulai dari batangannya, ban, pelek, terus finishing-nya dikrom. Itu kan mahal, bisa sampai Rp4 juta. Catnya saja ada yang sampai Rp2 juta,” jelas Gandung.
Lowrider sebenarnya bukan kendaraan nyaman. Justru jauh dari nyaman. Namun, Gandung mengaku ada nilai lain yang membuat memakai sepeda ini tetap terasa nyaman. “Kenyamanannya malah dari orang yang melihat sepeda kami, kalau dilihat orang kemudian dinilai bagus, itulah yang bikin kita nyaman,” katanya.

Jadi, sebagian lain memang urusan citra dan pencitraan. Penggunanya akan merasa bangga jika mengendarai sepeda ini. Karena bentuk sepedanya unik membuat pengendaranya menjadi pusat perhatian. “Saya bilang ini 80% fesyen, 20% fungsi,” kata Gandung.

Kontes sepeda ini pun didasarkan pada sisi estetika, bukan dari ketangkasan. Untuk sepeda yang bergaya klasik orisinal, dilihat dari fork depan, sadel, setang dan rangkanya yang kecil menyerupai sepeda untuk anak. Yang custom, bentuknya menyerupai motor Harley atau biasa disebut chopper dengan rangka yang panjang dan setang tinggi.

Gandung sendiri mengawali kecintaannya pada sepeda lowrider lewat kanal MTV. Ada sebuah video musik hip hop yang menampilkan sepeda lowrider.

“Dari yang tadinya saya niat pengen bikin sendiri, berburu sampai punya sepeda, prosesnya cukup lama. Dari pertama nonton sampai punya, kira-kira dua tahunan,” kata Gandung.

Untuk membangun sebuah sepeda diawali dengan rangka. Inilah yang membuat Gandung kesulitan sampai harus mencari ke daerah-daerah terpencil di Jakarta. “Awalnya tidak tahu harus cari ke mana, kita melihat batangannya seperti sepeda jaman dulu, terus kita hunting. Untuk mendapatkan batangannya, kita sampai harus ngejar anak kecil dan tukang es batu karena dia pakai sepeda yang punya batangan asli,” ungkapnya. Tapi sekarang impor aksesori dan batangan sepeda sudah relatif lebih mudah ditemukan.

Yanto, seorang modifikator lowrider, mengatakan untuk modifikasi membutuhkan biaya yang tidak sedikit. “Modalnya tergantung dari variasi, paling rendah Rp4 juta-Rp5 jutaan. Bisa Rp10 jutaan untuk ikut kontes, yang mahal itu aksesorinya,” ujarnya.

Selama ini Yanto sudah membuat sekitar 30 sepeda modifikasi. “Kalau dari pengerjaan, kami memiliki kepuasan tersendiri. Kami kerjakan sendiri, kami pakai sendiri. Jadi, tidak seperti sepeda yang beli di toko bisa langsung dipakai,” katanya. *

————————————————————————————————

03. UrbanFest 2008: Memburu Sepeda Antik

Jumat, 27 Juni 2008 | 00:06 WIB

JAKARTA, KAMIS – Sepeda ceper dan unik itu, Rabu (25/6) siang, tersandar di dinding sebuah kafe di Ancol, Jakarta. Ia bagai magnit.

Bayangkan, puluhan pasang mata memelototinya, berlama-lama. Walaupun ada sejumlah perempuan rancak, dengan dandanan serba unik di kafe tersebut, penampilan sepeda tersebut membuat tetamu kafe lebih tergoda.

Tinggi sepeda bercat biru dan cokelat itu hanya sebatas lutut. Namun, stangnya yang terbuat dari baja berpilin antikarat setinggi pinggang. Tempat duduknya bewarna putih agak panjang, dengan roda serep di belakang. Ada pula dua boneka dadu bebas menggelantung. Penampilan sekilas bagai motor besar.

Sebuah pelariankah? Karena tak mampu beli motor besar lalu mengutak-atik sepeda seperti motor besar? Pertanyaan itu sempat terlontar di acara Konferensi Pers UrbanFest 2008, Rabu lalu.

Namun, Gandung, salah seorang penggemar sepeda unik itu menjawabnya dengan enteng, “Malah ada pemilik sepeda unik atau low rider ini yang memiliki motor HD”.

Sepeda ceper yang mencuri perhatian banyak orang itu, sering disebut sebagai sepeda alternatif, sepeda modifikasi, dan atau low rider. Sepeda unik tersebut menjadi salah satu materi kegiatan yang dikompetisikan dalam pagelaran budaya UrbanFest 2008, yang berlangsung 28-29 Juni di Pantai Carnaval Ancol.

Ketua Panita Penyelenggara UrbanFest 2008, Nugroho Ferry Yudho mengatakan, kompetisi lowrider yang bertajuk Urban Lowrider Contest meliputi enam kategori, yaitu kelas original/restorasi ke di bawah 20 persen (mengalami modifikasi ke arah originalnya/bentuk aslinya), kelas custom modification kecil dari 20 persen (mengalami modifikasi custom), kelas original dengan restorasi di besar dari 20 persen, kelas custom modification besar dari 20 persen. Kemudian ada kelas free for all (best of the best) dengan sepeda lowrider ukuran bebas dan kelas chopper bike dengan modifikasi bebas.

Display sepeda juga bisa menentukan. Karena itu, posisi sepeda sangat dianjurkan ditata dengan baik dan menarik. Karena akan menambah penampilan total keseluruhan akan menarik ditonton, difoto, dinilai oleh pengunjung dan juru,” kata Nugroho.

Tentang sepeda lowrider ini, Gandung yang merupakan salah seorang dedengkot sepeda lowrider mengatakan, penyuka lowrider ini paling banyak di Jakarta. Ada komunitasnya, apakah itu di Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, dan wilayah lainnya.

“Kominitas sepeda lowrider ini setiap malam Minggu berkumpul di Taman Menteng, untuk diskusi dan saling tukar informasi. Kemudian, setelah bus way tidak dioperasikan lagi, penggemar sepeda lowrider keliling kota di jalur bus way mulai dari Taman Menteng, Bundaran HI, dan Monas,” paparnya.

Menurut Gandung, ada lebih 100 orang penyuka sepeda low rider. Setiap anggota komunitas mempunyai 2-4 sepeda lowrider. Sedangkan yang ikut kontes sepeda lowrider sedikitnya 50 sepeda. Masing-masing punya keunikan dan daya tarik tersendiri.

Keberadan komunitas sepeda lowrider ini, lanjut Gandung, sudah ada sejak 2004. Para penggemar kadang berburu sepeda mini antik jika berada di suatu daerah. Bahkan, jika ketemu di jalan, langsung ditawar. “Umumnya sepeda lowrider jenis sepeda mini keluaran tahun 1970-an. Sebab, kalau sepeda tipe keluaran sekarang, tak bisa dibentuk jadi sepeda lowrider. Batangan sepeda sekarang tidak kuat,” tandasnya.

” Untuk modifikasi sedikitnya menghabiskan dana Rp2 juta. Sepeda lowrider umumnya, 80 persen fungsinya sudah berubah. Lebih banyak sepeda unik ini untuk pajangan saja. Ada banyak sepeda lowrider yang dibeli orang lain yang berminat, ada juga yang dipakai untuk pembuatan iklan fashion,” tambah Gandung.

Kontes lowrider ini merupakan satu dari 21 jenis kegiatan di UrbanFest 2008 yang digelar secara kolaborasi oleh Kompas-Gramedia, Ancol, Radio Prambors, Institut Kesenian Jakarta, dan MetroTV. (YURNALDI)

————————————————————————————————

04. SEPEDA LOW RIDER
Si Kontet yang Makin Dicari

Punya bentuk unik dan makin dicari. Ada dua pilihan mendapatkannya. Gerilya bagian satu per satu, atau membelinya utuh. Tetapi, kendala mengendarai justru menjadi halangan utama. Kenalan yuk sama sepeda “low rider”.

Sepeda itu lebih cocok dipakai anak kecil dibandingkan orang dewasa. Ukurannya mungil dan berbentuk enggak seperti sepeda biasa. Tampilannya semarak. Rangkanya dicat meriah, bahkan ada yang di-chrome dengan finishing perak mengilat, atau emas yang kinclong.

Setang sepedanya pun dibikin ala motor gede, dengan style choopper (itu lho setang motor yang tegak ke atas hingga kala mengendarainya posisi tangan hampir tegak lurus ke atas). Bahan untuk membuat setang sepedanya pun bukan dari besi biasa. Rantai kapal, sampai besi tempa untuk bahan dasar pagar rumah bisa dijadikan aksesori sepeda.

Semua sepeda “ajaib” itu terjejer rapi di halaman rumah Beri, di kawasan Pondok Indah. Siang itu bareng seorang kawannya, Rezi, keduanya lagi asyik berdiskusi tentang keempat sepeda yang mereka bangun sendiri.

“Gue sih sudah lama banget pengin punya sepeda kayak gini,” beber Beri. Maklum sepeda yang kental dengan gaya hidup orang kulit hitam di Amrik itu punya bentuk yang seru.

“Biasanya sepeda jenis ini yang memakai anak geng kulit bewarna di Amerika,” jelas Rezi.

Tren yang sudah ada dari zaman dulu itu makin naik seiring dengan seringnya video klip yang kental nuansa hip hop atau punk-nya diputer di televisi. Macam video klip Anthem-nya Good Charlote, atau malah Muka Tebal-nya Superman Is Dead. Enggak heran kalau sepeda seperti ini selalu dikaitkan dengan komunitas kulit berwarna di Amerika.

Sayangnya, buat memiliki sepeda ini susahnya minta ampun. Enggak ada satu toko sepeda pun di Indonesia yang menjual sepeda jenis ini. “Waktu gue lagi di Amerika, gue enggak menemukan toko yang menjual sepeda seperti ini,” ungkap Beri.

Sesampainya di Indonesia, Beri juga harus mengubur mimpinya dalam-dalam. Tapi, niatnya itu terwujud ketika tiga bulan lalu seorang kawan menawarkan sebuah rangka sepeda zaman dulu. “Gue pikir bisa nih dijadiin sepeda low rider (sebutan karib si sepeda kontet),” cetusnya lagi.

Mulai deh hari dan kehidupannya (duh segitunya) dihabiskan untuk memenuhi impiannya sejak dulu. Aksesori tambahan yang enggak dijual di Indonesia dibikin secara prakarya olehnya. “Setangnya gue pakai rantai kapal. Gue las listrik dulu, baru gue finishing chrome,” tukas Beri lagi. Sekitar empat minggu dia habiskan waktu untuk membangun sepeda impiannya. “Kalau sudah tahu apa yang kita mau, pasti gampang sih. Soalnya sudah kebayang inginnya seperti apa,” tambah Beri.

Order

Bak seniman yang habis menyelesaikan karyanya. Beri pun melakukan “pameran” kecil-kecilan. Apalagi kalau bukan mengendarai sepeda kontetnya keliling daerah rumahnya. Ternyata ada yang melihat aksinya keliling kompleks. Sesampainya di rumah, beberapa kawannya menelepon dan meminta dibuatkan sepeda seperti miliknya. “Mulai deh gue kebanjiran order buat bikin sepeda seperti ini,” kenang Beri.

Toh order yang datang kepada dirinya enggak bisa begitu saja dikerjakan. “Banyak yang datang ke gue, tapi belum tau mau dibikin apa sepedanya. Gue kasih masukan pasti ada saja yang kurang. Utamanya sih masalah dana,” tukasnya cuek. “Tapi, berhubung yang datang ke gue teman-teman gue juga, enggak mungkin gue tolak,” akunya lagi.

Kalau kita tertarik, sebenarnya ada dua cara yang bisa kita lakukan untuk mengoleksi si kontet ini. Pertama, cara gerilya macam yang dilakukan Beri. Hunting satu per satu sampai semua parts lengkap.

“Gue beli semuanya satu per satu. Rangkanya gue hunting sendiri,” ungkapnya. Maklum rangka sepeda low rider biasanya menggunakan “bangkai” sepeda kuno. Tahu sendiri dong barangnya enggak mungkin dicari di toko sepeda. “Kalau yang lain sih gampang. Ban sama velg biasanya masih ada yang jual,” ujarnya lagi.

Cara kedua, cara instan seperti yang dilakukan Rezi. Alih-alih hunting ke tukang loak, nih cowok langsung membeli di negara pusatnya sepeda low rider, Amerika. “Kebetulan pas gue ke sana dan ada uang sisa ya sudah gue beli aja yang sudah jadi,” jelas cowok yang hobi memakai kacamata ini.

Maklum, di Amerika pasar sepeda seperti ini sudah jelas. Jadi, toko yang menjual sepeda utuh dan aksesorinya juga bejibun. “Gue beli utuh mereknya Low Rider sekitar 300-an dollar,” ungkap Rezi.

Capek

Lambat laun komunitas—yang lebih suka disebut Beri sebagai habitat—mulai terbentuk. Dari hanya sendirian, kini Beri punya sekitar lima orang teman untuk diajaknya berkeliling dengan si kontet.

Toh dari semua keasyikan membangun si kontet, ada satu kendala yang enggak Beri suka. Berhubung sepeda ini didesain sangat pendek, mau enggak mau mengayuh pedalnya memang agak ribet. “Kalau sudah ketemu tanjakan malas banget rasanya. Jadi, gue enggak pernah main jauh-jauh. Paling sekitaran rumah,” tukas Beri.

“Soalnya, kalau di Amerika sendiri, nih sepeda memang bukan didesain untuk dikayuh, melainkan didayung menggunakan kaki. Karena negro-negro di Amerika menggunakan sepeda ini hanya di seputaran blok rumah mereka,” tambah Rezi lagi.

Selain Beri, masih ada beberapa kelompok lain yang hobi mendandani sepeda low rider seperti ini. “Biasanya mereka nongkrong di Circle K Jalan KH Ahmad Dahlan. Mereka serius bener. Soalnya sepeda itu memang dipakai jalan,” jelas Beri.

Atau malah di Bandung. Komunitas streetball yang ada di sana cukup akrab dengan komunitas sepeda low rider. “Biasanya kami ngumpulnya setiap hari Rabu malam. Gabung sama anak-anak break dance dan streetball,” beber Insane dedengkot streetball dari tim Future asal Bandung.

Dengan bentuknya yang unik, sepeda seperti ini memang asyik untuk dikoleksi. Tinggal pilih caranya, mau yang instan apa yang gerilya? Pilihan ada di tangan kita.

ADHITYASWARA NUSWANDANA Tim MUDA

————————————————————————————————

05. SEPEDA LOWRIDER, TAK SEKADAR LIFE STYLE

(09 Mar 2008, 292 x)

SATU lagi tren sepeda baru merambah kawula muda di Makassar. Apa itu? Yup, apa lagi kalau bukan lowrider, salah satu jenis sepeda dengan model unik. Begitu berbeda dengan model-model sepeda sebelumnya yang sempat booming, beberapa tahun belakangan.

Lowrider jauh dari kesan modern dan sporty. Sepeda jenis ini justru lebih mirip sepeda tradisional onthel, namun terlihat lebih elegan. Meski modelnya agak konvensional, namun jenis sepeda yang satu ini ternyata lumayan digandrungi kalangan anak muda loh.

Beberapa remaja di Makassar yang sudah memiliki lowrider mengaku tidak risih menggunakan lowrider di tengah semakin metropolitannya Kota Makassar. Sebaliknya, lowrider justru dianggap sebagai suatu life style baru yang punya banyak manfaat.

Awi, misalnya. Cowok yang memiliki model rambur agak gondrong mengatakan, kehadiran lowrider memberi tawaran bersepeda yang tidak lagi sekadar untuk berolahraga dan mejeng di jalan. “Dengan memakai lowrider, termasuk sebagai kendaraan hang out atau pun untuk ke tempat kerja, saya merasa mendapatkan tambahan rasa percaya diri. Soalnya, kita merasa beda aja gitu sama yang lain. Lowrider lebih berkarakter,” ujar Awi, Jumat, 7 Maret.

Tak jauh berbeda dengan Izul, seorang penggemar lowrider. Ia mengaku sudah cinta mati dengan jenis sepeda itu. Izul bahkan punya keinginan agar para pecinta lowrider menjamur di Makassar, dan bisa segera punya komunitas. “Kalau sudah ada komunitas, demam lowrider pasti akan lebih mewabah lagi,” ucap Izul.

Yang tak kalah penting, katanya, kita bisa bergaya namun juga tetap bersahabat dengan lingkungan. Seperti yang dituturkan Izul, jika lowrider sudah banyak diminati, banyak manfaat yang bisa dipetik. “Yang pasti, tingkat polusi di kota ini pasti bisa ditekan. Paling tidak, para anak muda seperti kita ini bisa sedikit berperan memperlambat global warming,” tuturnya.

Saat ini, lowrider memang belum terlalu booming di Kota Daeng. Masih kalah dibanding Jakarta dan Bandung. Menurut Awi, di dua kota tersebut, lowrider sudah benar-benar digilai, khususnya bagi mereka yang masih berusia remaja.

Namun, bagi mereka yang penasaran dengan sepeda ini, di beberapa toko sepeda di Makassar, lowrider sudah bisa ditemui loh. Hanya saja, harganya memang lumayan bisa bikin kantong menipis. Lowrider dilepas ke pasaran dengan harga minimal Rp2 juta. (imam dzulkifli)

————————————————————————————————

06. SEPEDA CEPER LEBIH GAYA

ANGGOTA komunitas sepeda ceper (“lowrider”) saat memperingati Hari Lingkungan Hidup di Bandung, 11 Juni 2008 lalu. Di kalangan komunitas sepeda “lowrider”, kepemilikan sepeda tersebut sekadar hobi atau kesukaan semata.* ADE BAYU INDRA

DIBANDINGKAN dengan jenis kereta angin lainnya, jenis lowrider diakui lebih menunjukkan gaya hidup dan citra pemakainya. Secara sepintas saja, dari modelnya orang sudah menilai kalau jenis lowrider hanya sepeda untuk gaya-gayaan.

“Memang sepeda lowrider ini bukan sepeda untuk sarana olah raga atau transportasi. Saat ini, di kalangan komunitas sepeda lowrider sendiri, kepemilikan sekadar hobi atau kesukaan semata,” ujar Arief Budiman, salah seorang pegiat sepeda lowrider, di sela-sela kegiatan sosialisasi “Bike to Work” beberapa waktu lalu.

Baru tiga tahun belakangan ini, kehadiran sepeda jenis lowrider mampu menarik hati peminatnya. “Namun, sejauh ini tuntutan peminat sekadar untuk ikut-ikutan tren atau life style,” ungkap Arief.

Dibandingkan dengan sepeda-sepeda jenis lainnya, menurut Arief, lowrider membutuhkan perhatian lebih. Sebab, hampir semua bagian semisal ban, velg, dan setang berwarna krom, untuk perawatannya menggunakan krim khusus. “Untuk harga per unit, jangan ditanya, rata-rata di atas Rp 1 juta untuk yang standar. Oleh karena itu, banyak anggota komunitas memilih untuk membangun sendiri,” kata Kimung.

Ciri fisik sepeda lowrider adalah memiliki setang yang tinggi (ape hanger) dan garpu depan yang panjang sampai hampir menyentuh tanah. Adapun jok yang dipakai adalah jok model pisang (banana seat) dengan sandaran (sissy bar) dari besi. Kerangka sepeda biasanya menggunakan model pelangi (rainbow bent frame).

Selain itu, biasanya pemilik memberikan tambahan aksesori lain seperti penutup pentil ban, rumbai-rumbai, serta kaca spion khas sepeda motor Harley-Davidson. Aksesori itu dilengkapi dengan logo khas sepeda lowrider, seperti orang tersenyum, mata dadu, atau angka delapan pada bola biliar.

Mengenai sebutan lowrider, menurut Kimung, merujuk pada sistem gerakan dari sebuah kendaraan yang dibuat lebih rendah dari ukuran normal. Sepeda ceper yang asalnya dari Amerika Serikat tersebut merupakan karya cipta George Barris, ahli mobil lowrider dan mulai diperkenalkan tahun 1960-an bersamaan dengan mulai dikenalnya tipe mobil lowrider.

Lahirnya lowrider sendiri, berdasarkan sejarahnya, merupakan bentuk keprihatinan Barris akan keinginan anak-anak untuk turut merasakan sensasi kendaraan lowrider. Ternyata keprihatinan Barris mendapat sambutan pabrik sepeda Schwinn yang kemudian membantu untuk memproduksi dan pertama kali keluar model sepeda lowrider bernama New Cruiser Sting Ray (1964). Di Indonesia, sepeda ini sempat populer pada 1980-an. Namun, lima tahun kemudian, bersamaan dengan keluarnya sepeda jenis BMX, sepeda lowrider langsung tersingkir.

Setelah berselang 25 tahun, sepeda ceper kembali naik daun. Awalnya, para pemakainya masih berpencar dan menikmati sepeda tersebut sendiri-sendiri. Setahun kemudian, komunitas sepeda mulai terbentuk di mana-mana, seiring dengan munculnya komunitas penunggang sepeda lain seperti Bike to Work dan Komunitas Sepeda Onthel.

Kini di kala bersepeda menjadi life style yang mengangkat citra penggunanya, setiap pemilik lowrider seakan terus memuaskan diri. “Pehobi, terutama kolektor umumnya tidak hanya memiliki satu tunggangan lowrider, kalau tidak dua, bisa tiga atau bahkan lima,” ujar Kimung.

Seperti koleksi yang dimiliki dirinya, tidak hanya lowrider Schwinn dengan bentuk standar pabrik, tetapi juga hasil modifikasi. Koleksi lowrider-nya dengan velg berbagai ukuran ring mulai dari ring 12, 14, 16, 20, 24, hingga yang 26 inci.

Seperti halnya Kimung, para anggota komunitas lainnya juga memiliki kecintaan atau bahkan bisa dibilang gila kepada sepeda lowrider. Untuk menunjukkan gaya hidup di komunitasnya, mereka terus berlomba-lomba mengoleksi lowrider, mulai dari buatan tahun lama (antik) hingga merek dan jenis terbaru serta terunik. Di antaranya, selain merek Schwinn, juga ada merek Benny, Cruiser, dan lainnya dengan berbagai ukuran velg.

Karena fungsinya hanya sebagai bagian dari gaya hidup, penggemar sepeda lowrider biasanya tidak pernah mengadakan acara mengayuh pedal untuk jarak yang sangat jauh, apalagi bersepeda hingga ke daerah yang sulit seperti tepi pantai atau lereng gunung. “Karena fungsi alat transportasi ini bisa dibilang lebih untuk bergaya. Tak berlebihan bila sebagian dari mereka menyebut sepeda lowrider sebagai show bike. Mereka pun seperti berlomba memodifikasi sepedanya agar tetap bergaya,” ungkap Gungun.

Tingginya minat pemilik untuk memodifikasi sepeda ceper membuat para perakit sepeda (builder) lokal pun mereguk untung. Alasan para pencinta sepeda ini tetap memesan sendiri onderdil kepada pembuat sepeda karena bagi mereka bentuk sepeda yang dijual utuh di toko sangat standar, kurang gaya. Kendati belakangan sepeda jenis ini mulai bisa dibeli di beberapa toko secara lengkap, mereka tetap saja kebanjiran order.

Kini, di tengah semakin maraknya penggila lowrider, muncul jenis lowrider twist. Jenis sepeda lowrider twist alias melintir, tidak hanya pada bagian setangnya, tetapi juga belakangan bagian kerangka, jeruji, hingga batang jok dan sandarannya ikut dipelintir.

Dibandingkan dengan lowrider jenis lainnya, pemilik lowrider twist gengsinya lebih tinggi. Hal ini karena tingkat kerumitan yang sangat tinggi dan proses pembuatannya juga jauh lebih lama. Harganya pun antara Rp 6 juta sampai ada yang Rp 15 juta. Membangun gaya hidup dengan sepeda lumayan mahal juga! (Retno H.Y./”PR”)***

————————————————————————————————

07. PARA PENCINTA SEPEDA CEPER

Selasa, 11 November 2008 | 15:30 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: LelakiI muda itu dengan tekun mengelap sepeda berangka panjang di teras rumahnya di kawasan Kebayoran lama, Jakarta Selatan. Krim khusus tak lupa dioleskan ke velg sepeda beroda tiga itu. Sekejap saja, kereta angin itu terlihat cemerlang. Ritual ini dilakukan Haris Wirawan setiap bulan, menjelang dan setelah mengikuti pertemuan anggota komunitas Jakarta Street Lowrider.

Haris memang sangat hati-hati merawat sepeda ceper kesayangannya itu. Maklum saja, kereta angin itu telah menghabiskan dana tak kurang dari Rp 8 juta. Semula dia hanya membeli kerangka sepeda tersebut dengan harga Rp 1,5 juta. Selanjutnya, secara bertahap, dia membeli berbagai onderdil, seperti ban, velg, dan setang khusus.

Berbagai aksesori lain ditambahkan, seperti penutup pentil ban, rumbai-rumbai, serta kaca spion khas sepeda motor Harley-Davidson. Aksesori itu dilengkapi dengan logo khas sepeda lowrider, seperti orang tersenyum, mata dadu, atau angka delapan pada bola biliar.

Selama tiga tahun ini, Haris membangun sepedanya hingga benar-benar bisa disebut sepeda lowrider. Ciri fisik sepeda ini jelas: memiliki setang yang tinggi (ape hanger) dan garpu depan yang panjang sampai hampir menyentuh tanah. Adapun jok yang dipakai adalah jok model pisang (banana seat) dengan sandaran (sissy bar) dari besi. Kerangka sepeda biasanya menggunakan model pelangi (rainbow bent frame).

Sebutan lowrider, kata Haris, merujuk pada sistem gerakan dari sebuah kendaraan yang dibuat lebih rendah dari ukuran normal. Tidak hanya sepeda yang punya jenis lowrider. Alumnus Universitas Pancasila, Jakarta, ini menyebutkan, ”Mobil dan sepeda motor yang dibuat lebih rendah dari ukuran normal juga disebut lowrider.”

Sepeda ceper yang kini kembali digemari di Tanah Air itu semula berasal dari Amerika Serikat. Pada 1960-an, ahli mobil lowrider, George Barris, memperkenalkan sepeda ini kepada khalayak. Ketika itu, mobil jenis yang sama tengah ngetren di sana. Sayang, hobi mobil hanya bisa dijalani orang dewasa yang sudah punya surat izin mengemudi. Maka Barris pun beralih ke sepeda. Dengan begitu, semua kalangan, termasuk anak kecil, bisa merasakan sensasi lowrider.

Sepeda buatan Barris itu ternyata disambut meriah masyarakat di sana. Pabrik sepeda Schwinn kemudian mengeluarkan model sepeda lowrider bernama New Cruiser Sting Ray pada 1964. Di Indonesia, sepeda ini sempat populer pada 1980-an. Namun, lima tahun kemudian, sepeda BMX muncul dan langsung menyingkirkan sepeda lowrider.

Setelah berselang 25 tahun, sepeda ceper kembali naik daun. Awalnya, para pemakainya masih berpencar dan menikmati sepeda tersebut sendiri-sendiri. Setahun kemudian, komunitas sepeda mulai terbentuk di mana-mana, seiring dengan munculnya komunitas penunggang sepeda lain seperti Bike to Work dan Komunitas Sepeda Onthel.

Beberapa penggemar sepeda lowrider sampai memiliki lebih dari satu kereta angin ini. Haris, yang merupakan koordinator Jakarta Street Lowrider, bahkan punya 12 sepeda lowrider dari berbagai ukuran. Koleksinya sepeda dengan velg ukuran ring 12, 14, 16, 20, 24, dan 26 inci. Lima lainnya masih berupa kerangka, antara lain sebuah sepeda merek Schwinn. Salah satunya dibeli di Madiun, Jawa Timur.

Ketika dibeli, sepeda Schwinn tersebut telah berkarat. Beruntung, Haris tahu bengkel yang mampu memperbaiki dan mengecatnya kembali hingga seperti baru. ”Nanti akan saya krom di bengkel langganan saya,” kata pemilik usaha warung telekomunikasi di Jalan Prapanca, Jakarta Selatan, ini.

Haris hanyalah satu dari ribuan penggemar sepeda lowrider. Tidak hanya di Jakarta, mereka tersebar ke berbagai penjuru Tanah Air. Mereka membentuk puluhan komunitas, seperti Jakarta Street Lowrider, IKPN Lowrider, Hell O Shorty Family, dan Sunset Riders di Jakarta. Di Bandung ada beberapa komunitas, seperti Slowrider, Pedal Power, Luxurious Lowrider, Heroes Bike, dan Flower City Rider. Selain itu, muncul pula Monkey Bike Lowrider Community di Medan dan Komunitas Low Rider Surabaya.

Para anggota komunitas ini tentu saja begitu cinta atau bahkan bisa dibilang gila kepada sepeda lowrider. Dedy Supanto, 26 tahun, misalnya, kini mengoleksi tiga sepeda. Dua di antaranya bermerek Benny dan Schwinn yang memiliki velg dengan ring 20 inci. Satunya lagi, bermerek Cruiser, memiliki velg dengan ring 26 inci. Yang paling mahal, kata desainer grafis penerbit Mizan ini, adalah Schwinn buatan 1977. ”Udah habis lebih dari Rp 5 juta,” kata lelaki yang akrab dipanggil Hedot ini.

Awalnya, Dedy memperoleh kerangka sepeda itu dengan harga hanya Rp 100 ribu dari seorang anak kecil di Ciledug, Tangerang, Banten. Lantaran sudah banyak karatnya, kerangka itu lalu dibersihkan dan dicat ulang. Setelah itu, berbagai aksesori pun ditambahkan. Dari semua onderdil dan aksesori, bagian paling mahal adalah dua roda dan kerangka tambahan di belakang. ”Harganya sekitar Rp 2,4 juta,” ujar Dedy.

Tentu saja, ada juga penggemar yang hanya memiliki satu sepeda siap pakai. Lilik Sapta, 27 tahun, misalnya. Dia memang punya dua kerangka sepeda ceper lain. Tapi, kata pria yang biasa dipanggil Ata ini, ”Masih nunggu duit untuk bisa dibangun.” Lilik biasanya memperoleh informasi tempat membangun sepeda ceper saat pertemuan para anggota komunitas lowrider. Terutama, kata Haris, tempat untuk memperoleh onderdil yang tergolong langka.

Penggemar sepeda lowrider biasanya tidak pernah mengadakan acara mengayuh pedal untuk jarak yang sangat jauh, apalagi bersepeda hingga ke daerah yang sulit seperti tepi pantai atau lereng gunung. Soalnya, kata Haris, ”terus terang saja, enggak nyaman naik sepeda begini lama-lama.” Maklum, fungsi alat transportasi ini bisa dibilang lebih untuk bergaya. Tak berlebihan bila sebagian dari mereka menyebut sepeda lowrider sebagai show bike. Mereka pun seperti berlomba memodifikasi sepedanya agar tetap bergaya.

Tingginya minat pemilik untuk memodifikasi sepeda ceper membuat para perakit sepeda (builder) lokal pun mereguk untung. Kendati belakangan sepeda jenis ini mulai bisa dibeli di beberapa toko secara lengkap, mereka tetap saja kebanjiran order.

Ya, para pencinta sepeda ini tetap memesan sendiri onderdil kepada pembuat sepeda. Bagi mereka, bentuk sepeda yang dijual utuh di toko sangat standar, kurang gaya. ”Kalau pesan, bisa memilih model semaunya sendiri,” kata Yudi Kartono, 37 tahun, salah satu perakit sepeda lowrider.

Yudi lantas mencontohkan kegilaan penggemar pada sepeda lowrider jenis twist alias melintir. Sebagian besar besi sepeda itu dibuat dari besi melintir. Tidak hanya kerangka, setang, atau jeruji, tapi juga jok dan sandarannya. Jangan salah, semua bagian itu dibuat dari lempengan besi, termasuk untuk setang.

Lempengan setebal empat milimeter itu dipotong, lalu dipelintir dan ditekuk, hingga menjadi setang sesuai dengan minat pemesan. ”Setelah itu, baru dikrom,” kata Yudi, yang membuka bengkel di Jalan Radio Dalam, Jakarta Selatan, sejak 2005.

Sepeda lowrider twist, kata Yudi, memiliki tingkat kerumitan tinggi. Tak aneh bila proses pembuatannya juga jauh lebih lama. Dalam sebulan Yudi mampu membuat tiga sepeda lowrider biasa, tapi untuk jenis sepeda melintir paling-paling dia hanya bisa menyelesaikan dua sepeda. Wajar pula kalau harga sepeda jenis ini mencapai Rp 6 juta. Padahal, jika bentuk besinya standar, sepeda rakitan itu bisa dilepas dengan harga sekitar Rp 2 juta saja. Wah!

Nur Hidayat

————————————————————————————————

08. Melihat Komunitas Bangkalan Low Rider (BLOWR)

Komunitas Low Rider Fiber Pertama di Indonesia

Awalnya komunitas ini hanya ada di kota-kota besar di Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Perkembangan teknologi membawa hobi bersepeda unik ini sampai juga di Pulau Madura. Meski masih minim, peminatnya tergolong banyak dengan pertumbuhan yang drastis. Dari dua orang kini sudah menjadi belasan dan masih akan bertambah lagi.

Adalah Dana dan Ajis yang pertama memopulerkan sepeda unik ini. Di dunia mereka, sepeda unik ini diberi nama low rider. Sebab, bentuknya memang lebih pendek dan lebih panjang dari sepeda pada umumnya. Setir dan bodinya sama sekali beda dengan sepeda yang biasa dipakai masyarakat umum, semua sudah dimodifikasi.

Seluruh pecinta sepeda rendah ini menamakan dirinya Bangkalan Low Rider disingkat BLOWR. Mereka terdiri dari pemuda yang masih duduk di bangku SMP dan SMA. Tapi, untuk hobi mereka sama nekatnya dengan orang dewasa yang sudah lama menekuni hobi tertentu.

Markas BLOWR di Klinik Fiber 32, Kampung Lobuk, Desa Ketengan, Kelurahan Tunjung Bangkalan. Tempatnya tak jauh dari keramaian tapi cukup tenang untuk berkonsentrasi memikirkan model yang pas untuk membuat “sepeda baru”.

Di markas BLOWR koran ini menemui Yudi dan Nanang. Mereka berdua adalah pengerajin fiber yang juga teknisi pinter BLOWR. Tangan mereka lincah dalam memodifikasi sepeda biasa menjadi low rider. Mereka berdua adalah orang yang membuat BLOWR menjadi komunitas low rider pertama di Indonesia yang memodifikasi sepeda menggunakan fiber.

“Komunitas ini kami resmikan saat pertama kali melakukan tur ke Surabaya. Tepatnya tanggal 22 Desember 2008,” ujar Yudi mengawali sejarah komunitas sepeda yang juga digawanginya.

Orang pertama yang membawa “ide gila” membuat sepeda menjadi lebih rendah tersebut datang dari pemuda bernama Dana. Pemuda yang bekerja di sebuah apotik Bangkalan itu memiliki sepeda sejak ada di Surabaya. Sebab, Surabaya lebih dulu punya komunitas serupa.

Selesai kuliah Dana membawa sepedanya ke Bangkalan. “Ajis, adik saya pengin sepeda seperti punya Dana. Kalau beli mahal, akhirnya saya dan Nanang punya inisiatif untuk bikin sendiri,” kenang Yudi. Karena keduanya sudah mahir memainkan fiber, model sepeda mirip motor Harley Davidson pun akhirnya jadi.

Proses pembuatan sepeda pertama itu memakan waktu selama satu bulan. Pasalnya, setiap ada sisi yang tidak memuaskan, ketiga kakak beradik itu membongkarnya kembali. “Setelah beberapa kali perombakan, akhirnya sepeda pertama model Hammer Sez kami selesai,” ungkap Yudi.

Jadilah Dana dan Ajis unjuk gigi di jalan alun-alun depan pendapa agung Bangkalan. “Mereka nongkrong berdua saja di alun-alun. Teman-teman Ajis lalu datang dan hampir semuanya tertarik. Sejak itu dari 2 orang menjadi 13 orang,” terangnya. Di antara teman Ajis, sambungnya, juga ada Ra Makrom, anak Wakil Bupati Bangakalan Syafik Rofii. “Ra Makrom punya 2 sepeda tapi tidak pernah keluar. Lama-lama dia akhirnya bergabung,” tandas Nanang.

Dibuat Dari Sepeda Baru dan Rongsokan

Saat koran ini datang ke markas BLOWR, Yudi dan Nanang sedang membedah sedikitnya 5 sepeda. Bahan yang mereka pakai untuk modifikasi adalah besi sepeda yang dibawa sendiri oleh si pemesan yang tertarik masuk komunitas BLOWR. Besi rongsokan sepeda atau sepeda yang baru dibeli pun ada di gudang mereka dan siap “dipotong-potong”.

Diceritakan, saat pertama kali BLOWR mendapatkan tambahan anggota, keduanya menyelesaikan 9 sepeda dalam 3 minggu. Pasalnya, mereka mengejar target liburan untuk melakukan tur ke Surabaya yang belakangan dijadikan hari jadi mereka. Itu adalah capaian terbaik Yudi dan Nanang selama bergelut dengan fiber.

“Jadi, waktu pertama masuk 9 anak itu langsung berpencar. Ada yang menyerbu tukang rongsokan sepeda dan ada juga yang membawa sepeda utuh ke sini. Sepeda fun bike itu yang mereka suruh bongkar,” aku Yudi sambil memperlihatkan sepeda serupa yang belum dibongkar.

Model sepeda diambilnya dari internet. Sebab, di luar maupun di dalam negeri komunitas sepeda ini sangat eksis. Jaringan mereka luas dan sering melakukan komunikasi via email dan telepon. “Nah, kalau desain biasanya yang mengurus adik saya si Ajis itu. Dia juga bagian yang paling sibuk karena harus keluar untuk mendesain bentuk sepeda di tukang las,” paparnya.

Berapa dana yang dihabiskan? Dibandingkan membeli sepeda jadi, biaya yang dikeluarkan untuk membuat sepeda ini jauh lebih murah. “Kalau beli biasanya sampai Rp 2 juta atau lebih. Sedangkan bikin sendiri sekitar Rp 500 ribuan,” ungkapnya. Dana itu dipakai untuk kebutuhan desain (las dan fiber), ban, peleg dan cat di sentuhan akhir pembuatan.

Model sepeda unik ini cukup bervariasi. Di antaranya Hammer Sez, Low Rider, Cruiser, Copper, Limo dan Bazman. Namun, di daerah lain modifikasi sangat bergantung pada budayanya. “Kalau di Jogja senang yang model lama. Soalnya di sana anggota komunitasnya banyak orang tua juga,” ulas Nanang.

Diungkapkan, dalam waktu dekat komunitas ini diundang untuk acara pembukaan sebuah distro di Surabaya. Karena itu Yudi dan Nanang juga kejar target untuk menambah anggota dan sepeda di komunitas. “Pak wakil bupati sangat mendukung kami. Apalagi anaknya juga ikut di komunitas ini. Dia janji mau sumbang angkutan pikap sampai Kamal kalau BLOWR tur ke Surabaya lagi,” pungkas Nanang. (nur rahmad akhirullah)

Jawa Pos / Minggu, 08 Februari 2009

————————————————————————————————

09. LOWRIDER, SI MINI YANG MODIS

Tim Peliput : Farma Dinata – Joni Suryadi – Hengki Wirramada

Narator : Arni Gusmiarni

Editor : Bagus Andriansari

Tayang : Rabu, 27 Agustus 2008, Pukul 12.30 WIB

indosiar.com, Jakarta - Belakangan trend naik sepeda bukan cuma untuk olahraga yang menyehatkan, tapi sudah bergeser menjadi arena bergaya. Tidak percaya ? Coba deh kita lihat yang ini.

Ini dia yang namanya Lowrider, sebutan bagi sepeda hasil modifikasi. Istilah Lowrider muncul sebab pengendarai sepeda ini duduk di sadel yang lebih rendah dibanding sepeda lain alias ceper, sedangkan bentuknya terserah si pemilik mau dibikin gimana.

Konon nih sepeda Lowrider pertamakali muncul di Amerika disekitar tahun 60 an pada saat mobil ceper lagi jadi trend dikalangan anak mudanya. Tapi karena tidak semua punya mobil akhirnya muncul ide modifikasi sepeda, seperti layaknya mobil ceper.

Malah bukan hanya ketinggiannya dipendekin bagian lain sepeda juga di dandanin, karena bentuknya yang unik sepeda ceper pun akhirnya jadi trend tersendiri yang meluas ke mancanegara termasuk Indonesia. Bisa dibilang sejak sekitar tahun 2005 komunitas pencinta sepeda unik ini mulai menjamur ke tanah air.

Di Jabodetabek misalnya cukup banyak berdiri komunitas sepeda Lowrider. Pada Minggu ke 4 setiap bulan biasanya suka pada ngumpul tuh di Gelora Bung Soekarno, Senayan, Jakarta. Jumlahnya bisa mencapai belasan komunitas. Seperti komunitas Sunset Lowrider yang lebih suka bersepeda malam hari karena kebanyakan anggotanya meski kerja saat siang dan biasanya mereka ngumpul untuk satu tujuan yaitu ngeceng.

Sepeda kayak gini memang dirancang khusus buat jalan nyantai diatas aspal rata. Lewat dijalan agak nanjak aja ngayunnya bisa setengah mati, makanya bisa dibilang ini buat gaya-gayaan aja mencurahkan imajinasi bersepeda.

Secara umum sepeda Lowrider punya bentuk melengkung yang biasa disebut busur atau rainbow pada bagian tengah sasisnya. Terus ada juga yang disebut sepeda cewek ditandai dengan bentuk sasisnya landai melengkung kebawah.

Walau terlihat sederhana penghobi Lowrider harus siap merogoh kocek, paling tidak harus siap dana minimal 1,5 juta rupiah tapi tenang bisa dicicil kok.

Namanya juga hobby ya, berapa pun bakal diusahainlah pastinya, apalagi bagi yang punya jiwa seni. Wuah… cocok banget kalau punya mobil Lowrider ! Tapi toh ada meski jadi keprihatinan pada penggemar Lowrider yang umumnya dikeluhkan juga sama mereka yang punya hobby bersepeda.

Iya ya kalau perginya naik sepeda gini terus parkirnya gimana ya ? Padahal selain mengurangi polusi udara keberadaan komunitas macam gini juga ikut menggerakkan roda industri kreatif yang sekarang banyak digalang kalangan muda. Seperti yang satu ini sebuah tempat modifikasi sepeda Lowrider dikawasan Cipete, Jakarta Selatan.

Sebagai penggemar Lowrider pastinya paham banget apa yang jadi kebutuhan untuk memuaskan hobby mendandani sepeda bergaya unik itu. Berbekal pengalaman dan pengetahuan Abdul Latief, yang memang cinta berat sama si Lowrider ini akhirnya membuka bengkel modifikasi 34 Garase di garasi rumahnya bersama sejumlah temannya sesama penggila Lowrider.

Bahkan Abdul Latief yang sebelumnya bekerja sebagai pegawai kantoran sampai rela berhenti kerja demi menfokuskan diri pada bisnis barunya ini yang dianggap lebih menjanjikan. Nah .. nah dari hobby jadi bisnis ! Pastinya menjalaninya juga lebih enjoy kan ? Daripada pusing mikirin harga BBM mendingan kayak gitu deh. Produktif dan hitung – hitung menciptakan lapangan pekerjaan. (Dv/Sup).

————————————————————————————————

10. LOW RIDER, SEPEDA CEPER YANG MENCURI PERHATIAN

KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO

Pecinta sepeda low rider mengikuti low rider slalom contest di Urbanfest’08, Pantai Carnaval, Ancol, Jakarta, Minggu (29/6). Beragam atraksi dan budaya urban digelar untuk meramaikan acara ini.

Minggu, 29 Juni 2008 | 18:19 WIB

JAKARTA, MINGGU – Di antara puluhan stan yang berada di area Urbanfest’08, yang paling tak pernah sepi dikunjungi yakni venue paling ujung dekat main stage yang memajang puluhan sepeda low rider hasil modifikasi.

Sepeda low rider yang dipajang tersebut hampir semuanya unik. Bila dilihat dari bentuknya yang paling klasik hingga yang modern dengan ornamen sound system dan audio video, semuanya lengkap ada di stand. Keunikan bentuk dan struktur frame, jok dan stang menjadi penilaian dalam Urbanfest Lowrider Contest’08.

Menurut juara pertama Best of The Best kontes tersebut Dicky, sepedanya terpilih karena pengerjaannya detil dengan lapisan emas 24 karat di frame, jeruji ban dan stang. “Sepeda ini selesai proses pengerjaan sekitar tiga bulan. Kendalanya hampir tidak ada, hanya sulit mencari tempat yang bisa mengerjakan proses gold plated,” ujar pria asal Bandung tersebut.

Keunikan lainnya, di belakang jok terdapat satu set CD Player untuk peralatan disk jockey (DJ). “Saya biasa pakai ini untuk DJ di acara-acara komunitas. Asik pokoknya, dari sesuatu yang sederhana, kita bisa tetep fun,” tutur Dicky.

Setelah pemenang kontes low rider diumumkan, komunitas sepeda ceper itu ber-free riding di area Urbanfest bersama beberapa personel band Superman is Dead. Menurut salah satu pengendara sepeda low rider Ipang, berkreasi memodifikasi sepeda lowrider adalah seni sekaligus hobi yang tak bisa ditinggalkannya. “Kita bisa ekspresikan diri melalui tiap detil modifikasi hingga menghasilkan bentuk yang unik tapi tetap nyaman dikendarai,” ujar remaja asal Jakarta tersebut. [C6-08]

————————————————————————————————

11. LOW RIDER SEPEDA GAUL


New Bikes on the Block! Sepeda lowrider sekarang lagi eksis banget. Di akhir minggu, biasanya para pemilik sepeda lowrider ngumpul bareng dan keliling-keliling kota. Persis kayak geng motor gede, tapi yang ini lebih ramah lingkungan.

Sejarah sepeda ini sendiri berasal dari Amerika Serikat. Adalah George Barris yang mengenalkan sepeda ’ceper’ ini di tahun 1960-an. Barris aslinya adalah ahli modifikasi mobil ceper, yang saat itu memang lagi ngetren banget di Amerika. Nah, karena hobi mobil lowrider hanya bisa dilakukan orang-orang kaya, akhirnya Barris terpikir bikin sepeda ‘ceper’. Biar semua orang bisa ikut menikmati sensasi memodifikasi alat transportasi itu.

Ternyata, banyak banget warga Amerika yang suka dengan ide Barris itu, terutama warga kulit hitam dan Latin asal Meksiko. Melihat semangat itu, akhirnya pabrik sepeda Schwiin mengeluarkan model sepeda lowrider, yang dinamakan New Cruiser Sting Ray, pada tahun 1964. Melihat antusiasme penduduk Latin dan kulit hitam Amerika, Schwiin juga menambahkan lapisan krom, biar terlihat semakin blink- blink, sebagai ciri khas mereka.

Keunikan dari sepeda ini sebenarnya terletak pada kreativitas si pemakai dalam melakukan modifikasi. Nggak heran kalau pengendaranya sering terlihat bangga banget dengan sepedanya. Salah satu ciri utama sepeda lowrider adalah stang yang dibentuk mirip motor gede ala Harley Davidson. Rangkanya pun biasa berbentuk pelangi (melengkung). Lalu di bagian stang, biasanya diberi rumbai-rumbai penghias. Ih, centil, ya?! Hehehe… Sadel atau kursi sepeda lowrider biasanya punya sandaran, sehingga nyaman dikendarai. Sadel sendiri biasanya rendah, malah sering lebih rendah daripada pedalnya. Karena itu cara mengendarainya cenderung sulit. Butuh adaptasi dulu, sampai kita terbiasa dan bisa menguasainya dengan nyaman.

Yang menarik, kebiasaan pengendara sepeda gaul ini nggak jauh beda dengan pengendara motor gede atau mobil ceper. Buat cowok-cowok, biasanya suka bonceng ceweknya saat lagi keliling kota, tuh! Sayangnya, nggak semua sepeda lowrider punya kerangka yang cocok buat dinaiki 2 orang. Tapi, tenang, kita masih tetap bisa ‘ngeksis’, kok. Soalnya ada juga lho, sepeda lowrider khusus cewek. Kerangkanya nggak terlalu rendah dan ringan, bikin kita lebih mudah mengemudikannya. Apalagi biasanya sepeda khusus cewek ini dicat dengan warna-warna soft, kayak pink atau biru muda. Pas banget tuh, buat kamu yang senang tampil girly.

Sebenarnya harga sepeda ini nggak terlalu mahal. Apalagi kalau kita hobi modifikasi. Dengan sepeda milik ortu jaman dulu, kita bisa mengotak-atik jadi sepeda lowrider. Tapi kamu juga bisa beli sepeda lowrider yang udah jadi kok, tapi harganya jadi lebih mahal. Jadi, sebenarnya mahal atau nggaknya sepeda ini, tergantung juga dari seberapa keren modifikasinya dan bahan-bahan yang digunakan. Kalau mau tinggal naik dan langsung ’eksis’, berarti harus keluar budget lebih gede!

JAKARTA

Ace Hardware, salah satunya di Mal Pondok Indah II, Blok B2, Jl. Menara Duta Niaga Blok B5, Jakarta Selatan / Telp. (62-21) 7561228.

Jakarta Street Lowrider,

http://myspace.com/jakartastreetlowrider.

Hell O Shorty, Custom Lowrider and Chopper Bicycle Workshop, http://myspace.com/hell_o_shorty

BEKASI

Pirates Lowrider, Komp. Pemda Jatiasih, Blok.B, Jl.Yudistira No.9, Pondok Gede / Telp (62-21) 9526.1001 / E-mail: pirates_low_rider@yahoo.co.id.

YOGYAKARTA

Studio Jokejaku, Jl. Gamelan Lor No. 18 / E-mail: handri9@yahoo.com

————————————————————————————————

12. LOW RIDER MASUK INDONESIA

Perkembangan sepeda Lowrider di Amerika bermula pada tahun 1960-an dari komunitas para imigran mexico, yang lebih dikenal dengan CHICANO.Berawal dari kebutuhan akan eksistensi agar keberadaan mereka sebagai pendatang diakui oleh masyarakat setempat, mereka mulai membuat suatu karya seni melalui media mobil dengan mempergunakan mobil – mobil tua khususnya merk Chevrolet yang akhirnya berkembang pesat menjadi LIFE STYLE yang lebih dikenal dengan HISPANIC CULTURE atau kebudayaan Masyarakat Latin. Pada perkembangannya, mereka mulai mempergunakan media lainnya yaitu sepeda sebagai tempat menuangkan apresiasi seni. Dalam sepeda sendiri mempunyai konsep yang hampir sama dengan jarahan modifikasi mobil, identik dengan Low n Slow yang memang dikhususkan untuk para Poser( tukang nampang ), pada perkembangannya baik dalam memodifikasi mobil & sepeda sudah mempergunakan suspensi HIDROLIK dan pemakaian warna yang Colorfull ( Blink – blink ).

Pada tahun 2000-an, trend sepeda Lowrider baru mulai masuk ke Indonesia, bermula dari kota besar seperti : Jakarta, Bandung, Surabaya dan kemudian mulai berkembang ke kota kota lainnya di Indonesia. Mulai terasa gaungnnya setelah Tabloid MotorPlus Meliput anak-anak Jakarta Selatan untuk dimuat ditabloid tersebut sekitar tahun 2006.

Awalnya di Bandung sendiri dimulai dengan jenis cruiser dengan roda 26 inch + 3 speed yang telah beredar dengan merk polygon cruiser, sedangkan untuk jenis choppernya win cycle pertama kali mengedarkannya. Untuk mereka yg mempunyai budget lebih mereka lebih suka meng import langsung dari Amerika untuk perlengkapan maupun fullbike, salah satu importirnya adalah Mr. Oktaf (Royal Queen) yang masih aktif sampai saat ini meramaikan dunia persepedaan di Bandung.

Sedangkan untuk yang budgetnya pas-pasan mulai lah perburuan ke tukang-tukang loak sepeda untuk mencari sepeda mini jadul (atau disebut juga stingray) untuk di rekondisi maupun di modif. Beda lagi dengan Mang Oplu, setelah puas berburu sepeda mini … akhirnya ketemu dengan Epul Chommet yang memperlihatkan gambar-gambar dari internet berupa sepeda chooper dengan gaya roda besar di depan dan roda kecil dibelakang. Akhirnya dengan referensi gambar tersebut sepeda kepunyaan anaknya dijadikan bahan eksperimen untuk dijadikan sepeda chopper dengan menggunakan roda 20″ di depan dan roda 16″ di belakang, berkat bantuan Kang Ibenk, Deni dan keahlian Pak Wawan (Jl. Bogor) sebagai tukang las akhirnya terwujud sepeda tersebut. Gara gara bereksperimen akhirnya Mang Oplu pun gatal untuk membuat sepeda selanjutnya untuk ukuran dewasa dengan roda depan 24″ dan roda belakang 20″. dan beredar pertama kali saat Pasar Seni ITB 2006 dan saat Bandung Bike Week (HDCI).

Saat itu sepeda stingray adalah pilihan yang bagus untuk di modif dan referensi gambar nya pun banyak berdedar di internet terutama di lowrider magazine. Para Builder motor pun ada yang membuat, salahsatunya adalah Indra Bluesmann, Rudy Flyiing Piston Garage yang mulai unjuk gigi pertama kali saat acara Ogre custom with Kelpie Automotive Fiesta 2007 present ” 1st Indonesia Custom Bicycle contest 2007” di Monumen Perjuangan jalan Dipati Ukur pada tanggal 23 Juni 2007.

Iyus Blackjuice (pedal power) pun saat ini masih aktif memodif sepeda maupun membuat komponen variasi unutk sepeda lowrider mulai dari kaca spion sampai dengan springer untuk sepeda. Dan Ko’ Wawa (toko sepeda di Jl. Veteran sebelah sinar Bangka) akhirnya mensupport untuk melengkapi komponen sepeda seperti mereplika batang sepeda stingray ataupun mengimport komponen / fullbike.

Akhirnya Komunitasnya pun terbentuk dengan sendirinya, dengan selalu berkumpul tiap Jum;at sore di Taman Cikapayang jalan Dago berkumpul bareng dengan Komunitas “Bike to Work”. Dan di Jakarta ada bro Hafiz (Virgin) yang aktif berpartisipasi meramaikan lowrider bicycle.

————————————————————————————————

13. Komunitas Low Rider
Dari Ceper Hingga Pernak Pernik

Thursday, August 27, 2009


Komunitas motor dan komunitas mobil di Indonesia kini sudah banyak dikenal masyarakat. Sekarang giliran komunitas pecinta sepeda yang mulai menggeliat dan menunjukkan hasil karyanya di dunia lifestyle sport. Dan kemudian kalo diperhatikan lagi trend dalam dunia lifestyle sport bergeser pada dunia lowrider. Yakni, sepeda dengan modifikasi khusus ala motor Choppers membuat dunia serasa jadi orang Chicano. Komunitas-komunitas lowrider pun banyak ditemukan di beberapa kota besar seperti Bandung, Bali, dan Jakarta. Salah satunya adalah komunitas lowrider Lonely King asal Bali yang dikomandoi oleh Jerinx, drummer Superman Is Dead. Dengan berbagai modifikasi dan style, maka geliat anak muda semakin terasa menggembirakan. Setidaknya ini adalah nafas segar buat style anak muda saat ini. Selain skate dan BMX, setidaknya lowrider adalah gaya anak muda urban yang seolah ingin menunjukkan rasa kekerenannya.

Lowrider bermula sebagai elemen budaya Chicano Americans atau bagian dari street culture di Amerika yang masih menjadi bagian dari imigran Meksiko. Lowrider telah menjadi produk urban culture, dan crossover antara Harley dan cruiser bikes. Biasanya lowrider dapat ditemui dalam parade atau karnival orang-orang Amerika. Popularitas lowrider mulai menanjak pada akhir tahun 70-an karena penggabungan dua kultur antara Califoria car culture dengan Mexican culture. Lowrider seringkali dikaitkan dengan produk-produk budaya Chicano lainnya macam Chevy Impala/ Impala SS, Chevy’s, Tattoo’s, Zootsuits. Pachuco’s, dan Zootsuit Riots.

Dengan penampilan yang tak kalah nyentrik,mereka menunjukkan jati diri berbeda. Sepeda ceper zaman ’70-an yang dimodifikasi dengan berbagai gaya baru yang unik. Setang panjang model chooper, sedangkan bodi hingga ban dibuat klasik, dengan permainan warna-warni yang cerah. Style sepeda menunjukkan jiwa muda yang penuh gaya. Dan komunitas-komunitas pecinta lowrider yang berada di Jakarta semakin banyak. Untuk Jakarta saja, yang tergabung dalam komunitas Jakarta Street Low Rider mencapai 400 orang. Masing-masing orang umumnya memiliki beberapa sepeda. Komunitas yang terbagi dalam beberapa wilayah atau yang biasa disebut chapter. Dan di Jakarta sendiri memilik enam chapter sesuai dengan pembagian wilayah kota Jakarta itu sendiri. Sunset Riders

Lowrider sendiri merupakan representasi kekerenan urban culture, jadi sepeda ini seringkali dipakai untuk rileks setelah capek kerja. Komunitasnya memiliki jumlah yang banyak dan seringkali ditemui pada akhir pekan atau hari libur. Dan hal ini seperti yang dilakukan Sunset Riders, yakni salah satu komunitas lowrider yang berada di chapter Pusat. Komunitas lowrider yang terbentuk sejak pertengahan tahun 2006 ini biasanya jalan-jalan bareng ke sebuah tempat seperti wilayah Cikini, Menteng, ataupun Jalan MH Thamrin tiap Sabtu malam.

Dan tidak hanya itu komuntas ini juga kerap mengikuti kontes, hunting barang-barang sepeda, hingga membuat sepeda sendiri, adalah kegiatan yang sering dilakukan para anggota komunitas Sunset Riders. Para anggota komunitas ini sering sekali memproduksi atau memodifikasi sepeda-sepeda yang mereka miliki. Melihat keunikan yang ada pada sepeda-sepeda kecil itu, tentunya mengusik rasa ingin tahu. Berapa banyak biaya yang dibutuhkan untuk kepuasan tersebut. Rata-rata si pemilik sepeda itu bukan sekadar punya. Seperti Gandung salah satu anggota Sunset Riders yang rela mengeluarkan uangnya hingga 2-3 juta.
Namun Harga itu menurut dia tergolong murah. Sebab, bila ingin membeli sepeda yang langsung jadi, harganya lumayan mahal. Untuk order satu sepeda orisinal dari produsen luar negeri, harganya bisa mencapai Rp. 8 juta – Rp.12 juta. Meskipun mahal, ternyata barang itu sangat ringkih. Dan tidak jarang Gandung dan para anggota Sunset Rider lainnya berburu batangan sepeda sebagai bahan baku modifikasi sepeda yang diidam-idamkan. Mulai dari tukang cendol dan sepeda anak kecil sudah pernah jadi incaran Gandung dan teman-temannya. Seperti yang dikutip seputar-indonesia.com, Gandung mengungkapkan untuk mendapat batangan sepeda yang bagus dan kuat agak sedikit sulit didapatkan. “yah, kalo dijalanan ada seperti sepeda anak kecil saya buru langsung memburu barang itu”, ujar Gandung. Hoby yang tidak murah ini memeberikan alternatif baru bagi para pecinta lifestyle sport. Dan hal ini merupakan pergeseran budaya barat, dan menjadi urban culture yang semakin banyak di kota-kota besar.

————————————————————————————————

14. Jakarta Street Low Rider Community
Selalu Mengutamakan kegiatan positif

Jika Anda sering mengunjungi kawasan Senayan pada minggu pagi untuk berolahraga, mungkin kelompok orang dengan tunggangan sepeda tua tetapi bergaya masa kini sudah tidak asing lagi di mata Anda. Keberadaan mereka memang sangat menyita perhatian warga yang berolahraga di kawasan Senayan – Jakarta. Mereka menjatidirikan kelompoknya dengan nama Jakarta Street Low rider.

Awalnya, pada saat didirikan anggota komunitas ini masih terbatas pada orang-orang yang memang menekuni secara serius hobi sepeda. Namun, saat ini anggota komunitas ini juga telah merambah ke berbagai kalangan, dari kalangan anak usia SD hingga kalangan eksekutif. Perkumpulan yang mengadaptasi perkumpulan “kaum kulit hitam” di Amerika Serikat ini mulai marak di Jakarta tahun 2005 lalu. Kala itu banyak sepeda “Low Rider” tampil dalam video klip musisi-musisi dalam negeri. “Sebenarnya frame “Low Rider” sudah ada sejak lama, sekitar tahun 1970-an lah, tetapi dahulu sebutannya mini kumbang. “Low Rider” sendiri menjadi sebutan pergerakan modifikasi sepeda. Boleh dibilang pioneer-nya lah,” jelas Haris Wirawan, salah seorang koordinator Jakarta Street Low Rider.
Lalu, apa sih keunikan dari komunitas ini? Jakarta Street Low Rider menjadi unik karena, sepeda yang mereka gunakan sangat berbeda dengan sepeda lain yang biasa kita saksikan hilir-mudik di jalan-jalan. Ya, Tunggangan mereka merupakan sepeda tua yang dimodifikasi dengan berbagai gaya terkini. Seperti, menggunakan stang panjang layaknya motor-motor Harley, atau fork (garpu) yang diberi suspensi untuk membuat pengendara nyaman kala sepeda melaju di jalan. Ciri mencolok komunitas ini adalah sepeda mereka menggunakan frame Rainbow (batangan sepeda yang berbentuk melengkung seperti pelangi).
Dengan segala keunikan yang dimiliki, apakah tunggangan mereka benar-benar nyaman untuk dikendarai? Belum tentu, seperti diutarakan Haris. Sepeda-sepeda “Low Rider” lebih mengedepankan sisi artistik dari bentuk sepeda, bukan mengedepankan manfaat serta kegunaan dari satu sepeda.

“Sepeda yang kita gunakan sepeda “gaya”, ya, sekedar untuk senang-senag saja. Jadi jangan harap kalau pengendaranya akan merasa nyaman saat mengendarainya, bahkan dinegara asalnya saja (Amerika) karena uniknya sepeda sejenis, pengendaranya menjalankan sepeda yang ditunggangi bukan dengan cara mengayuh sadel sepeda, tetapi mendorongnya dengan kaki, ” papar Haris sambil mencontohkan gaya orang Amerika tersebut.
Maka, jangan heran jika pemilik sepeda jenis ini (pehobi) rela mengeluarkan sejumlah uang untuk memperindah sepeda mereka. Menurut Haris, seorang pehobi ini setidaknya harus menyiapkan dana minimal Rp1,5 juta untuk pembelian suku cadang serta modifikasi. Sementara untuk mengikuti kontes, biayanya lebih besar lagi. Kesulitannya, dalam mendapatkan suku cadang. Karena tidak ada yang menjual suku cadangnya seperti stang, dan lain sebagainya.
“Kalau berbicara masalah biaya memodifikasi, biaya yang dikeluarkan itu relatif ya. Mereka menginginkan sepeda yang seperti apa? Kalau ingin mendapatkan yang lebih baik, dananya yang dimiliki juga pasti lebih besar lagi. Apalagi untuk mengikuti kontes, bisa mencapai kisaran Rp 15 juta,” jelas Haris.
Wah, kalau begitu orang dengan keuangan pas-pasan tidak cocok dong dengan hobi seperti ini? Jangan salah, menurut Haris mahalnya biaya memodifikasi dapat diatasi dengan menyicil pembelian atau pembuatan sparepart. Sehingga semua terasa ringan. “Sekarang punya uang hanya cukup mengganti stang, ya ganti stang dahulu, nanti baru dilanjutkan dengan memodifikasi bagian lain lagi,” ingat Haris.
Kegiatan Sosial Selalu Jadi Agenda Rutin
Walaupun terkesan individualis kala memodifikasi sepeda, bukan berarti komunitas ini tidak memiliki agenda yang bermanfaat bagi orang lain. Jakarta Street Low Rider punya beberapa agenda rutin, dari sekedar “kongkow-kongkow” sampai kepada kegiatan bakti sosial lainnya. Setiap minggu ke-4 mereka mengadakan acara “goes” bareng dengan rute Senayan-HI. Tidak hanya itu, pada waktu-waktu tertentu komunitas ini juga menggelar kontes.
Layaknya kontes kecantikan, ajang tersebut bertujuan untuk memilih sepeda yang dinilai paling indah dan unik. “Kontes ini sudah menjadi ajang rutin tahunan komunitas ini. Meski belum tahu kapan waktu diselenggarakannya kontes, yang pasti setahun sekali digelar kontes tersebut,” jelas Haris. Disinilah kelebihan komunitas ini, mereka memiliki agenda bakti sosial rutin yang diselenggarakan setiap tahun. Ya, komunitas ini memiliki tingkat kepedulian sosial yang cukup tinggi. Buktinya, tiap tahun tepatnya saat umat Islam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, mereka mengadakan acara buka puasa atau sahur bareng fakir miskin di Jakarta. “Kegiatan seperti ini sudah menjadi agenda rutin kami,” tegas Haris.

Tanpa Sekretariat
Komunitas Jakarta Street Low Rider merupakan komunitas yang tidak mementingkan berapa jumlah anggotanya, sehingga saat ini tidak dapat dilacak berapa banyak jumlah anggotanya. Tetapi ketika kumpul pada minggu ke-4 jumlah anggota yang datang mencapai 300 orang. Ini bukan jumlah pasti, karena tiap kali kumpul tidak pernah dengan anggota yang sama, selalu berganti-ganti.

“Dulu kita pernah coba mendata berapa jumlahnya, dengan meminta contak person anggota, tetapi tiap minggu selalu berganti. Dalam beberapa minggu mereka rajin kumpul, setelah itu menghilang, hingga saat ini keadaan ini terus berlanjut,” ungkap Haris.

Lebih lanjut Haris mengatakan, dengan demikian rasanya lebih baik jika Jakarta Low Rider tidak memiliki susunan kepengurusan. Tidak ada susunan ketua, anggota dan lain sebagainya. Hal ini disebabkan anggota Low Rider tidak mau terikat akan hak dan kewajiban. “Sampai kapanpun keadaan seperti ini akan kita pertahankan. Kita tidak mau membuat sekretariat sampai kapanpun. Ini belajar dari masa lalu. Kalau mulai memiliki ketua dan hak serta kewajiban sudah ditetapkan komunitas akan kacau. Biarlah Low Rider seperti ini. Meskipun anggota tidak terdata, kalau Low Rider membuat acara pasti banyak yang datang,” ujarnya. (ahm-foto:tha dan dokumen Jakarta Street Low Rider)

————————————————————————————————

15. LOW RIDER

emhhh…. bila akhir pekan tiba atau ada pagelaran acara yang berbau anak muda. Banyak hilir mudik kendaraan super hemat beroda dua. Apalagi kalau bukan sepeda.

Adalah

Low Rider, sepeda yang memiliki disain yang unik dan tak lazim ditemukan pada sepeda biasa. Sepeda Low Rider pertama kali di perkenalkan pada tahun 1960an, sepeda ini pertama kali di perkenalkan oleh The “custom” king George Barris, sebelum menemukan sepeda low rider si Tuan King ini pekerjaanya adalah menceperkan mobil, Memang saat itu virus Mobil Low Rider sedang mewabah di kalangan anak muda Amerika, Tetapi trend itu hanya bisa dirasakan oleh anak-anak muda dari keluarga kaya saja karena untuk membuat sebuah mobil low rider membutuhkan uang yang tidak sedikit, sementara anak-anak dari kalangan bawah hanya bisa melongo.

Melihat situasi seperti itu si King mendapatkan ide dengan mencoba membangun sebuah sepeda yang mengacu pada kesan low rider, untuk eksperimen pertama kali si King menerapkan pada sepedanya. Mulailah si King ini memperkenalkan kreasinya dari situ bisa di tebak banyak anak-anak dari keluarga yang kurang mampu beralih berkreasi membuat sepeda low rider.

Melihat peluang trend sepeda LR yang mulai di gandrungi akhirnya pada tahun 1963 pabrik sepeda SCHWIIN untuk pertama kalinya mengeluarkan model revolusi baru “New Cruiser STING RAY, model ini dibuat mengacu pada model motor model dragster yang sedang ngetop pada saat itu. Karena model tersebut nyaman di kendarai begitu juga dengan desainnya yang unik maka model tersebut menjadi booming dan digemari oleh anak-anak muda.

Di Jakarta dan Bandung perkembangan Low Rider kian pesat seiring dengan ide-ide kreatif anak muda yang menciptakan disain rangka sepeda berbeda dengan yang lainnya. Desain sepeda ini awalnya diilhami oleh model wheelie bikes yang telah muncul sebelumnya. Ciri-ciri yang nampak menonjol dari sepeda low rider ini adalah setangnya yang tinggi dan lebar (apehanger handlebar) atau garpu depannya yang panjang kedepan sampai hampir menyentuh tanah dengan sadel model pisang (banana seat) dengan sandarannya (sissy bar). Framenya biasanya menggunakan model pelangi (rainbow bent frame). Namun kadangkala ada yang ekstrim dengan setang yang tinggi dan fork yang panjang dengan menggunakan per (bent springer fork)….kadangkala menyerupai motor tua.

Ada beberapa aliran yang menggolongkan low rider ini kedalam beberapa jenis yaitu clasic alias original, vegas alias dan oriental dengan cirinya memakai ban serep di bagian belakang seperti vespa. Aliran lain membagi sepeda low rider ini menjadi low rider bicycle, chooper atau stretch dan beach cruiser.

Kalau mau nongkrong atau sekadar liat-liat low rider datang aja ke sebuah kafe di Gandaria, di Fatmawati-Blok A, Teras A Gogo, Senopati, bilangan Monas dan Glora Bungkarno. Semua golongan bisa masuk ke komunitas Lowrider..sebagian kecil..mereka memiliki moge.

Tak heran bila sebuah rumah modifikasi moge sering dijadikan tukar pikiran (kongkow). Tapi jangan kuatir.. bagi yang ingin mendisain sendiri gampang caranya, tinggal disain rangka yang diinginkan lalu beli pipa besi dengan diameter yang diperlukan dan tentunya dikerjakan oleh tukang las.. tinggal potong – sambung deh harganya gak sampe 350 ribu.

Indra Kusuma.

————————————————————————————————

16. Komunitas Lowrider, Tak Hanya Sekadar Hobi

Bagi Anda yang sering berjalan-jalan di seputaran Kota Medan, mungkin sesekali pernah melihat serombongan anak-anak muda mengendarai sepeda berbentuk unik. Dengan setir yang panjang bak motor gede, roda ban yang agak ke depan atau bodi sepeda yang terlihat pendek hanya beberapa sentimeter dari permukaan tanah, itulah sepeda modifikasi hasil karya dari komunitas Monkey Bike Lowrider Community (MBLC).

Lowrider, begitulah komunitas ini menamakan sepeda kesayangannya. Sepeda jenis ini belakangan sering kita jumpai di jalanan Kota Medan. Khususnya pada hari Sabtu dan Minggu pada pagi hari. Tak hanya sebagai hobi saja, ternyata di balik kumpulan komunitas ini tersimpan misi yang mulia. Apa itu?

Hobi jelas, semua anggota yang bergabung di komunitas ini pasti semuanya punya hobi bersepeda. Namun, kita nggak hanya menyalurkan hobi saja kok. Tetapi, semua yang kita lakukan ini juga punya misi sendiri yakni menggiatkan olahraga sepeda dan menggalakkan kampanye stop global warming, ungkap Hendra, Sekretaris Bendahara MBLC saat ditemui Global di Sekretariat MBLC Jalan Ismaliyah No 54 Medan.

Hendra menceritakan, konsep lowrider ini pada mulanya berasal dari Amerika. Itu pun asalnya dari komunitas penggemar mobil-mobil ceper (lowrider). Karena terlalu mahal berkreasi dengan mobil, Hendra dan kawan-kawan mengadopsinya dengan kendaraan lainnya. Pilihannya jatuh kepada sepeda. Selain karena sudah terbiasa, untuk memodifikai sepeda juga tidak membutuhkan biaya yang mahal.

Meski tahu kalau cikal bakalnya dari Amerika, namun Hendra mengaku tidak tahu persis kapan sepeda berbentuk unik ini masuk ke Indonesia, yang pasti dikatakannya jika akhir-akhir ini sepeda ini makin banyak peminatnya, terutama mereka yang tinggal di kota-kota besar, salah satunya adalah Kota Medan. Khusus untuk Medan, komunitas MBLC sendiri mulai terbentuk pada pertengahan bulan Oktober 2007 lalu, tetapi untuk resminya, lanjut Hendra, akan diadakan pada awal bulan September 2008. “Selama ini kita masih mengumpulkan anggota. Jadi, rencananya bulan depan akan kita resmikan. Sejauh ini di Medan baru kita yang punya komunitas seperti ini,” papar Hendra.

Sementara itu, nama Monkey (monyet) sendiri, menurut Hendra diambil dari anggapan masyarakat yang mengatakan jika sepeda ini merupakan sepeda sirkus yang biasa digunakan oleh monyet. “Alasannya ada dua, yang pertama itu, yang kedua kebetulan di Sumatera ini kan juga hidup orangutan yang juga termasuk keluarga monyet,” ujarnya sambil tersenyum.

Untuk mendukung kreativitas dan misinya, MBLC juga melakukan koordinasi dengan komunitas lainnya, seperti komunitas sepeda tua, komunitas sepedamotor dan beberapa komunitas lainnya.”Ya, paling kita saling bertukar informasi saja dengan mereka. Sekaligus juga menyebarkan misi kita yang utama, yakni global warming,” tambah Hendra.

Dari Ratusan Ribu Hingga Jutaan

Seperti halnya dengan sepeda motor yang memiliki tipe dan kelas masing-masing, sepeda-sepeda unik ini juga memiliki kelas yang didasarkan pada jenis modifikasinya. Lewat tampilan fisiknya, sepeda ini dibagi menjadi beberapa kelas, di antaranya Cruiser, Street, Limo, dan Chopper. “Biasanya kita melihat dari jenis modifikasinya, ada yang paling tinggi, namun ada juga yang standar saja. Tiap sepeda biasanya mewakili karakteristik pemiliknya sendiri. Soalnya, selera orang itu kan berbeda-beda,” seru Hendra.

Masalah harga juga tergantung dengan jenis modifikasi dan juga bahan yang digunakan untuk rangka sepeda. Beberapa anggota MBLC mengaku, untuk bisa memiliki sepeda berbentuk lucu ini harus mengeluarkan kocek dari mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. “Kalau agak sulit modifikasinya, ya agak mahal harganya,” jelas Junaedi, anggota lainnya yang juga merangkap Humas MBLC.

Takut Parkir Sembarangan

Untuk mengenalkan komunitas ini kepada masyarakat, hari Sabtu dan Minggu dijadikan rutinitas MBLC untuk berkeliling seputaran jalanan Kota Medan. Sekitar kurang lebih 50-an anggota berkonvoi mengelilingi Kota Medan. Setiap berkeliling, Hendra dkk banyak memiliki pengalaman, dari mulai menjadi bahan tertawaan, ada yang merasa aneh, juga tak jarang mereka mendapat pujian.

Meskipun sudah mendapat respons yang beragam dari masyarakat, namun komunitas ini masih belum berani tampil sendiri-sendiri. Bukannya mereka sombong, melainkan kalau jalan-jalan sendiri dan di tengah jalan ada apa-apa, mereka bingung mau di parkir di mana sepeda kesayangannya ini. “Kalau ada kawan kan enak, kalau kita pergi sebentar ada yang menjaga. Tapi, kalau sendiri mau parkir di mana. Takut sepedanya hilang,” jelas Hendra dan Junaedi sembari tertawa.

Namun meskipun begitu, ada juga yang menggunakan sepeda ini untuk berangkat bekerja. Riki ini salah satunya, salah satu anggota MBLC ini mengaku juga menggunakan sepeda lowrider miliknya untuk pergi bekerja. “Istilah kerennya Bike to Work lah, sekalian olahraga dan mengurangi polusi kendaraan,” ungkap Riki bangga.

Setiap hari Riki mengayuh sepedanya dari rumahnya yang terletak di Jalan Turi, menuju tempatnya bekerja di Sun Plaza. Meski hemat, namun Riki mengaku risikonya juga besar. Tidak tertibnya kendaraan angkutan umum yang beroperasi di jalanan Kota Medan adalah penyebabnya. Pasalnya, ia pernah memiliki pengalaman diserempet oleh angkot ketika hendak bekerja. “Luka sih, tapi untungnya nggak terlalu parah,” seru Riki sambil berharap agar para sopir angkot lebih tertib jika di jalanan.

————————————————————————————————

17. I Want To Ride My Bicycle

Musim liburan telah tiba. Apa yang biasanya anda lakukan di saat liburan seperti ini? Banyak pilihan yang bisa diambil untuk mengisi waktu luang yang tersedia sepanjang hari. Mulai dari bersantai menikmati hari, berlibur keluar kota, berkumpul besama teman, sampai menekuni hobi. Berbicara soal berkumpul bersama teman dan menekuni hobi, kedua hal tersebut apabila dilakukan sekaligus juga kadang bisa menghasilkan sesuatu yang menarik.

Contohnya yang belakangan ini cukup marak dilakukan oleh sekelompok anak muda di Jakarta. Dari sekedar kumpul-kumpul di saat lengang dan dipadu dengan kesamaan hobi di bidang otomotif, yang tadinya suka memodifikasi kendaraan bermotornya, kini mulai beralih ke “mainan” baru berupa sepeda, namun bukan sembarang sepeda. Karena memang pada dasarnya mereka suka modifikasi, sepeda-sepeda mereka ini pun tak luput dari sentuhan customized. Dandanan yang diaplikasikan di sepeda-sepeda mereka ini cukup unik, karena dengan memanfaatkan frame sepeda tua, mereka memodifikasi sepeda tersebut sedemikian rupa hingga bergaya lowrider.

“Awalnya sih gue pingin cari “mainan” baru aja saat dandanin sepeda bergaya lowrider ini”, ujar Berry, salah satu orang yang ikut bertanggung jawab menyebarkan virus sepeda beraliran lowrider ini. “Dulu, waktu gue sekolah di Amerika, tahun 97 an gitu, gue sempet punya sepeda beginian di sana, nah belum lama ini ada yang nawarin sepeda tua, gue pikir kok lucu juga yah kalo didandanin kaya sepeda gue dulu, dari situ deh gue mulai ngebangun sepeda lowrider ini”, ulas Berry lagi. Menurut Berry, sepeda ini umumnya memiliki 3 kategori yang dibedakan berdasarkan ukuran frame, yaitu 20 (kecil), 24 (sedang) dan 26 (besar), namun tak menutup kemungkinan juga bila frame-nya di customize sesuai keinginan. Sesuai namanya, sepeda-sepeda tersebut umumnya dalam kondisi ceper. Itulah sebabnya pada fork (garpu) depan, idealnya menggunakan Springer/ per yang bisa disetel untuk mengatur ketinggian sepeda tersebut. Yang cukup menarik adalah banyaknya aksesori yang tersedia untuk mendandani sepeda-sepeda ini. Sebutlah ban white wall, velg, jari-jari velg dengan berbagai macam bentuk dan ukuran, belum lagi benda-benda yang di customized, seperti setang yang terbuat dari rantai, aksen knalpot, dan masih banyak lagi. Walaupun untuk mendapatkan barang-barang tertentu seperti Springer masih harus meng-import, namun aksesoris lainnya cukup banyak tersedia di Jakarta. Untuk pilihan warna, umumnya warna candy tone cukup mendominasi. Seperti kuning, orange, ungu, merah, dan lai-lain. Namun warna gelap seperti hitam atau biru tua juga sah untuk diaplikasikan. Pilihan aksen chrome atau gold sepertinya menjadi syarat mutlak di sepeda-sepeda ini. Bahkan di negara asalnya, Amerika, ada yang full chrome maupun yang benar-benar goldplatted (dilapisi emas)!!

“Kita juga sekarang udah punya komunitas sih, yah sebagai wadah buat tukar pikiran dan berlatar belakang kesamaan hobi saja, namanya Jakarta Street Lowrider”, ujar Dimas, pemilik sepeda lowrider berkelir orange ini. “Kegiatannya sih sejauh ini selain kumpul-kumpul, juga jalan-jalan di sore hari kalo pas hari libur, hitung-hitung sekalian olahraga, hehe”, sambung Hendy, si pemilik sepeda dengan jok bermotif Louis Vouitton.

Kini, selain untuk memuaskan hobi, mendandani sepeda mungkin bisa menjadi satu cara yang ampuh juga untuk mengaktualisasikan diri lewat tampilan sepeda tersebut. Pada akhirnya hal itu juga bisa menimbulkan keinginan seseorang untuk sekedar menikmati atau bahkan memiliki sepeda-sepeda bergaya lowrider ini. Jika berminat untuk bergabung atau hanya sekedar ingin tahu lebih banyak, coba hubungi Hendy di 68122234, siapa tahu Anda juga tertarik untuk mengaktualisasikan penggalan lyric salah satu lagu dari Queen yang berbunyi, “I want to ride my bicycle, I want to ride it where I like” (Queen – Bicycle Race).

————————————————————————————————

18. HOBBIES MAKE MY WORLD GO ROUND!

Apa yang akan terjadi bila tidak ada hobi di kehidupan manusia? Pasti dunia akan jauh lebih kacau dan stress daripada sekarang. Coba saja bayangkan itu, dan bersyukurlah bila Anda mempunyai sebuah hobi yang bisa menenangkan dan menghibur hati Anda di saat-saat kehidupan sudah mulai terlalu memusingkan bagi Anda. Dengan adanya hobi, lahirlah pula toko-toko yang dikhususkan untuk menyediakan semua keperluan berbagai pengisi waktu senggang tersebut. Dibawah ini ada toko unik yang mungkin bisa menawarkan apa yang Anda butuhkan, atau mungkin bisa membuat Anda ingin menekuni hobi-hobi lain. Check them out!

RIDE YOUR BICYCLE

Mendengar kata sepeda mungkin akan membawa kembali memori Anda sewaktu kecil. Menikmati indahnya pagi maupun sore hari dengan berjalan – jalan menggunakan sepeda. Bagi Anda yang masih ingin merasakan masa – masa itu, mungkin bisa mencoba sepeda lowrider, karena selain Anda bisa bergaya, sepeda Anda juga bisa di customize sesuai dengan keinginan Anda! Tidak hanya itu saja Anda juga dapat ikut berpatisipasi untuk mendukung kampanye menghentikan global warming dengan menggunakan lowrider-lowrider keren ini.

Jika anda memang hobi mengutak – utik lowrider Anda atau bagi Anda yang baru saja akan mencoba dan ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang lowrider, Anda harus segera berkunjung ke toko dan workshop lowrider, juga sepeda chopper pertama yang ada di Indonesia, yaitu Hell O Shorty.

Hell O Shorty sendiri telah berdiri semenjak tahun 2007 silam, di tempat ini Anda bisa melihat hasil proyek keren lowrider yang dijamin akan membuat Anda kagum juga sangat ingin memiliki salah satu koleksi dari Hell O Shorty ini. Di toko ini pun terpajang beberapa lowrider yang siap dibawa pulang dengan taksiran harga standar sekitar dua juta rupiah saja. Tak hanya itu saja, jika Anda tertarik untuk merancang sepeda sesuai keinginan bisa langsung menghubungi dan Hell O Shorty akan segera mewujudkan mimpi Anda besepeda dengan lowrider impian. Untuk Anda yang sudah memiliki lowrider dan ingin membeli spare part lengkap, ada juga disini.

Jangan khawatir dengan kualitasnya karena semua barang yang ada disini di import dari Taiwan. Anda juga bisa bergabung sambil menambah wawasan Anda dengan 22 komunitas lowrider yang memungkinkan Anda untuk bisa bertukar info dengan para pecinta lowrider di luar sana.


>> Hell O Shorty. Tempat : Teras Agogo, Jl. Pati Unus No. 9 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Info : 085694348480 / 99000591. Buka : 13:00 – 20:00 WIB.

————————————————————————————————

19. SI KUMBANG YANG NYENTRIK

Ciptutat, SerpongKita.com- Jangan disangka sepeda usang cuma dimasukan kedalam gudang. Lihat saja, pengemar sepeda Low Rider ini. Tidak hanya, orang tua saja yang mengemari sepeda onthel, anak-anak muda sekarang terbius dengan jenis sepeda mini kumbang yang sempat ngetrend di era 1970-an itu. Bahkan, sepeda kumbang ini mulai diagungkan sebagai life style anak muda sekarang. Karena, ujung-ujungnya ada hubungannya dengan kehidupan musik Punk. Asyik lagi, Low Rider sebagai hasil kreatifitas seni tinggi dan menjadi transportasi yang enak untuk dikendarai sendirian maupun bareng-bareng diatas aspal. Alasannya, simpel sepeda ini nyentrik dan xtreme.

Koordinator JSLR Haris Wirawan mengaku, terbentuk pada 6 juni 2006. Tiap minggu pagi di akhir bulan digelar kegiatan nongkrong bareng bersama anggota JSLR di Senayan dari jam 07.00 hingga jam 08.00 WIB. Hingga kini anggotanya JSLR mencapai 500 tersebar di Jakarta dan Tangerang. Komunitas ini terkadang diajak berpartisipasi di properti dalam berbagai kegiatan komersial, antara lain Anugrah Musik Indonesia. Komunitas ini juga pernah mengadakan kegiatan silaturahmi sesama pencinta sepeda LR, dengan menggelar kontes, slalom, drag race, dan slow rider. “Di Jakarta biasanya nongkrongnya di Kiai Ahmad Dahlan. Sementara anggota JSLR di Tangerang biasa nongkrong di Perum II,” ucap Haris yang juga koordinator Lori Chapter Tanah Kusir Bendi dan sekitarnya, ketika ditemui di Karang Tingal, Ciputat, Tangerang.

Sepeda model Low Rider layaknya sepeda motor Chopper Harley Davidson

Nenek moyang sepeda Low Ride melecut pertama kali di era tahun 1960-an. The Custom King George Barris dari Amerika Serikat merupakan yang memperkenalkan sepeda. Keunikan dari sepeda tersebut yang membuat pabrik sepeda SCHWIIN pada tahun 1963 untuk pertama kalinya mengeluarkan model revolusi baru “New Cruiser STING RAY”. Sangking antiknya, sepeda itu dikemas dan mengacu pada model motor model dragster yang booming ketika itu. “Dengan stang tinggi dan lebar dan model antik dan asyik. Low Rider nyentik untuk dikendarai,” beber Haris.

Diungkapkan Haris, masuknya Low Rider ke Indonesia sendiri pada era tahun 1970-an. Ketika itu, Low Rider merk Scwiin yang pertama kali membumi di Nusantara. Umumnya, Low Rider seperti sepeda biasa buatan orisinil dari negara Om Sam dan Meksiko, misalnya merek Schwinn, Western Flyer, Giant, Phoenix dan lainnya. Keunikan dari sepeda jenis ini berdiameter roda 20 inci, 24 inci, ada juga 26 inci. Sepeda ini dikemas dengan fork di buat spring fork trus dikasih tambahan spion. Extreme frame sepeda ini dibuat agak ceper alias lebih pendek. Terkadang untuk kelihatan lebih nyentrik pemilik sepeda itu, memodifikasi dengan memendekkan sepeda itu lebih bogel,” ucapnya.

Kata Haris, model Low Rider memiliki sejumlah variasi. Contohnya, sock depan yang berupa sock springer atau dibuat centang (melengkung) ke depan hingga kesan ekstrem muncul, mirip sepeda motor Chopper Harley Davidson di Amerika. Sementara, stang depan dibuat layaknya seperti tangan orang utan, melebar. Nah, soal harga sambung Haris, yang telah belum dijamah alias perawan dihargai Rp 1 juta rupiah. Ketika dimodif minimal Rp 3 juta hingga Rp 12 juta. “Makin mahal sepeda yang diutak-atik agar lebih bergaya, butuh kocek tinggi,” jelas Haris.”Tidak sekedar mencintai, pemilik dari sepeda kumbang mengiginkan agar komunitas ini tetap eksis,” ujar Haris.

Sementara, Aming salah seorang teknisi worksop (bengkel, red) JSLR mengatakan. Tidak begitu rumit untuk mendadani sepeda LR ini. Kebanyakan asesoris sepeda LR ini berasal impor dari luar negeri dan dalam negeri. “Kalau untuk harga spion impor harganya bisa berkisar Rp 450 ribu hingga Rp 600 ribu. Bahkan ada harga pentil sepeda yang harganya bisa mencapai Rp 150 ribu, karena pentilnya berbagai macam model. Ada yang model logo indipenden,” katanya. Jakarta Street Low Rider (JSLR)

————————————————————————————————

20. SEPEDA “LOW RIDER”, HILANGKAN KENYAMANAN DEMI BERGAYA

Minggu, 31 Januari 2010 | 11:03 WIB

LEO SUNU

JAKARTA, KOMPAS.com — Seorang remaja tanggung tampak asyik mengendarai sepedanya di kawasan Bundaran Hotel Indonesia pada hari bebas kendaraan atau car free day, Minggu (31/1/2010) pagi. Ia terus meliuk-liuk dengan sepedanya di tengah ramainya pesepeda lain yang berlalu-lalang.

Banyak mata tertuju pada sepeda si remaja ini. Bentuknya yang tak biasa membuat pesepeda lainnya memalingkan mata untuk sekadar memerhatikan tunggangannya. Dengan bodi sepeda yang terbilang panjang dan setangnya yang menjulang tinggi ke atas, tampilan demikian ini membuatnya berbeda dengan sepeda pada umumnya. Inilah sepeda low rider atau dikenal dengan sepeda ceper.

Sepeda low rider merupakan sebuah sepeda dengan ciri khas ceper dan body frame yang melengkung-lengkung. Dengan bentuknya yang unik, sepeda low rider memang secara khusus dimaksudkan oleh penunggangnya untuk ajang bergaya.

Hal ini diungkapkan Joko selaku salah satu anggota dari Sweet Iron Low Rider Community. Meski terbilang sudah tak muda lagi, Joko sangat menggandrungi sepeda low rider dengan segala keunikannya. “Sepeda low rider itu, demi gaya, menghilangkan kenyamanan. Yang penting gaya,” kata dia dalam perbincangan dengan Kompas.com.

Ia mengatakan, mengendarai sepeda low rider tak bisa dibilang mudah. Dengan body yang panjang dan rendah plus setang yang melebar ataupun menjulang membuat sepeda ini akan meliuk-liuk saat ditunggangi. Rasa kurang nyaman pun akan terasa bagi yang tak biasa, manakala berlama-lama mengendarai sepeda low rider. “Tapi yang penting itu tadi, demi gaya. Toh naik low rider juga enggak akan ngebut-ngebut,” ungkapnya.

Pencinta sepeda ceper seperti Joko ini tak bisa dibilang sedikit di Jakarta. Setidaknya ada sekitar 400 pesepeda low rider di Jakarta dan kawasan sekitarnya. Mereka kerap berkumpul saat penyelenggaraan hari bebas kendaraan bermotor seperti pada pagi ini. “Di Jakarta ini ada banyak komunitasnya. Forum besar yang mewadahi memang tidak ada, tapi kami memang rutin ngumpul dan nongkrong bareng seperti ini,” kata Joko.

Kesempatan car free day seperti ini tak ayal dimanfaatkan pecinta low rider untuk berkumpul sekaligus memamerkan keunikan sepedanya. Dengan bentuk yang tidak biasa, ditambah kondisinya yang “kinclong” karena dikrom, tongkrongan komunitas low rider menjadi salah satu perhatian warga.

Hari ini setidaknya ada tiga komunitas low rider Jakarta yang ikut meramaikan car free day di Bundaran HI, yakni dari Sweet Iron Low Rider, Low Rider Tebet (Lote), dan Menteng Sunset Rider.

“Pada dasarnya sepeda low rider itu ada tiga macam, yaitu yang classic dengan body yang agak standar. Lalu ada body panjang atau disebut limousine dan ada body pendek atau disebut cruiser,” kata Joko.

Ketiga jenis sepeda itu bisa digolongkan sebagai sepeda low rider apabila memiliki ciri khas yang sama, yakni body frame sepeda yang dipenuhi unsur lengkungan atau biasa disebut rainbow frame. Selain itu, sepeda pun juga harus tampil seceper mungkin. “As low as possible,” kata Joko.

Setiap pesepeda low rider, kata Joko, akan memiliki kebanggaan dan mendapat apresiasi dari anggota lainnya manakala sepeda low rider-nya merupakan hasil custom dan memiliki bentuk unik dan ekstrem. “Di kalangan low rider yang penting adalah ide apa yang loe tuangkan dalam sepeda-loe. Kalau hasil kreasi sendiri akan makin disalutin,” katanya.

Meski cenderung ekstrem dalam penampilan dan gaya, Joko mengatakan bahwa komunitas pesepeda low rider merupakan salah satu pendukung kegiatan bersepeda untuk mengurangi dampak polusi. Komunitas low rider pun, katanya, kerap mengikuti berbagai kegiatan sosial lingkungan hidup, seperti aksi penanaman pohon dan pembuatan sumur biopori.

Menurut Joko, hal ini sesuai dengan awal mula perkembangan sepeda low rider di Amerika Serikat. Dengan mempertimbangkan alasan penghematan (murah) gaya low rider yang awalnya diterapkan di mobil dan sepeda motor, oleh kaum hispanik pun diterapkan pada sepeda. “Filosofinya di situ mempertimbangkan gaya dan murah, tapi juga sehat karena yang dipakai itu sepeda,” pungkasnya.

————————————————————————————————

21. MELAWAN KEMAPANAN DENGAN “LOWRIDER”

Senin, 28 Juni 2010 | 10:43 WIB

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO

Peserta memoles sepedanya saat mengikuti Low Rider and Bicycle Custom Contest di ajang UrbanFest 2009 yang digelar di Pasar Seni Ancol, Jakarta, Minggu (25/10). UrbanFest merupakan ajang unjuk kreativitas anak muda dari berbagai komunitas budaya urban.

KOMPAS.com - Rambut gondrong dan gimbal. Puluhan ukiran tulang dan kayu menggantung di leher. Berkaus oblong putih dan bersandal jepit. Wempi Sarana (27) mudah dikenali dari sosoknya. Dan penampilan yang khas itu semakin lengkap kala dia naik tunggangannya, sepeda lowrider warna merah.

Dia tak memiliki telepon genggam. Pekerjaannya menjual barang-barang pos dan meterai di depan Kantor Pos Besar Solo, Jawa Tengah. Namun, jika ditanya dia akan menjawab pekerjaannya hanyalah bermain-main. ”Dolanan saja,” kata dia. Pemuda asli Wonosaren, Jagalan, Solo, Jawa Tengah, ini berprinsip bahwa hidup adalah untuk dinikmati.

Prinsip ini diakuinya menentang arus. Pada dasarnya, sepeda lowrider juga muncul dari kritik terhadap kemapanan.

Dimulai di Amerika Serikat

Sejarah sepeda lowrider dimulai dari Amerika Serikat pada 1960-an. ”Awalnya ada seorang ahli modifikasi kendaraan, George Barris,” kata Dedy ”Hedot” Supanto, anggota Jakarta Street Lowrider (JSL).

Pekerjaan George Barris sehari-hari adalah menceperkan (membuat rendah) mobil. Saat itu mobil lowrider sedang ”mewabah” di kalangan anak muda Amerika. Tetapi, tren itu hanya bisa dinikmati anak-anak muda dari keluarga kaya karena untuk membuat sebuah mobil lowrider dibutuhkan banyak uang. Sedangkan anak-anak dari kalangan bawah hanya bisa melongo.

Melihat situasi seperti itu, George mendapat ide untuk membangun sepeda lowrider. Dia bereksperimen pertama kali pada sepedanya. Lalu segera saja disambut anak-anak muda, khususnya kalangan tak berpunya.

Melihat peluang sepeda lowrider mulai digandrungi, pada tahun 1963 pabrik sepeda Schwiin juga terjun ke bisnis ini. Untuk pertama kalinya mereka mengeluarkan model baru sepeda lowrider ”New Cruiser Sting Ray”. Desainnya dibuat mengacu pada model motor model dragster yang sedang ngetop. Model ini masih sering menjadi acuan sepeda lowrider hingga kini.

Selain itu, menurut Hedot, satu karakter sepeda lowrider adalah modifikasi pada jok berbentuk panjang atau banana seat, memiliki tiang penyangga jok, dan setang yang menjulang panjang ke atas (apehangers) seperti gelantungan monyet.

Walaupun di Amerika Serikat sepeda lowrider sudah menjadi tren sejak lama, di Indonesia baru marak bersamaan dengan meledaknya minat masyarakat bersepeda. Peminat komunitas ini biasanya anak-anak muda gaul dan melek mode. Kini, komunitas lowrider tumbuh di banyak kota, seperti Jakarta, Bandung, Solo, Yogyakarta, Semarang, hingga keluar Jawa.

Kalau ontel semakin kuno semakin bagus, maka lowrider ini makin ngejreng makin asyik. Jika sepeda gunung makin kuat makin baik dan sepeda balap makin ringan makin asyik, maka lowrider menentang prinsip itu.

Lowrider yang bentuknya makin unik dipandang makin bergaya. Warna-warni kinclong seperti chrome mendominasi hampir setiap bagian dan pernik-pernik sepeda jenis ini. Beberapa penggunanya menambahkan lampu-lampu di jeruji sehingga begitu meriah. Karakter klasik sepeda lowrider adalah baby daytons, yaitu desain pelek seperti pelek mobil yang jari-jarinya penuh dan tidak saling menyilang serta ban yang berdinding putih.

Ajang Kreativitas

Walaupun ada beberapa ciri khas, sebenarnya tak ada pakem baku untuk mendesain lowrider. Agus Furidas (27), pemilik bengkel sepeda lowrider Furidas di Solo, mengatakan, ”Kita bebas berekspresi dengan sepeda lowrider. Yang jelas, kita kejar keunikan. Kalau perlu bikin onderdil sendiri.”

Agus melayani pembuatan sepeda lowrider di Solo, bahkan juga sering melayani pesanan dari kota lain. ”Biasanya pemesan bawa desain sendiri, tapi kadang ada juga yang terserah kami. Semuanya bisa dibikin, kalau beli jadi di toko mahal,” kata dia.

Agus biasa mereka sendiri desain sepeda lowrider. ”Biasanya lihat gambar-gambar, atau sekadar coba-coba,” kata dia. Keanggotaannya dalam komunitas sepeda lowrider memudahkannya mengerti model yang lagi tren.

Sepeda lowrider memang lebih pada otak-atik masalah desain. ”Lowrider bukan untuk kenyamanan berkendaraan atau olahraga bersepeda. Saya punya satu di rumah, tetapi tak sanggup makainya jauh-jauh. Capek sekali karena tidak proporsional. Sehari-hari akhirnya pakai sepeda balap,” kata Cecep, pedagang sekaligus pesepeda asal Solo.

Yuli Nugroho (20), anggota komunitas lowrider Solo, membenarkan hal ini. ”Ikut karena model sepedanya keren. Waktu masih di STM (sekolah teknik menengah) gabung sama komunitas motor, tapi boros. Akhirnya setelah kuliah ganti sepeda lowrider. Lebih murah, tapi asyik,” kata Yuli, yang bergabung dengan komunitas ini sejak 2007.

Dia mengaku mengendarai lowrider melelahkan, terutama bagi yang belum terbiasa. ”Tapi terbayar dengan kesenangan. Bangga bisa naik sepeda seperti ini, apalagi jika orang-orang melihat sepeda kita sambil terheran-heran,” katanya.

Namun, Wempi mematahkan pemikiran bahwa lowrider tak nyaman dinaiki. Febuari 2010, dia naiki lowrider-nya seorang diri dari Solo ke Jakarta.

Bekalnya Rp 90.000, yang sudah habis ketika baru sampai di Bogor. ”Pulangnya naik kereta, diberi ongkos komunitas lowrider Jakarta,” katanya sambil terkekeh.

Wempi memang berusaha menafsirkan sendiri arus lowrider, yang dalam perspektifnya menjadi terlalu ”Amerika”. Jika anggota komunitas lowrider biasanya adalah anak-anak muda pelajar, mahasiswa, hingga dosen-dosen yang sadar mode, Wempi adalah sosok lain dari lowrider, yang mewakili semangat kritik gerakan ini. (Ahmad Arif/Amir Sodikin)

————————————————————————————————

22. LOWRIDER BIKE, HOW LOW CAN YOU GO?

Lowrider bike (c) flickr.com

Sabtu, 30 Mei 2009 10:03
KapanLagi.com -
Oleh: Noppy

How low can you go? Kalimat ini pastinya mengingatkan kita pada sebuah iklan rokok yang cukup populer beberapa waktu lalu. Namun artikel ini tidak ada hubungannya dengan rokok karena yang akan dibahas adalah sepeda dengan gaya rendah dan stang tinggi yang tenar disebut sepeda lowrider. Sebenarnya apa sih lowrider itu?

Lowrider sendiri sebenarnya adalah gaya mobil yang telah dimodifikasi sistem suspensinya sehingga bisa menjadi amat rendah. Lebih dekat dengan tanah, lebih kerenlah mobil itu. Gaya ini biasanya diaplikasikan pada mobil-mobil klasik dari era 1950-an. Namun kini, gaya lowrider pun merambah kendaraan lainnya, sepeda.

Lowrider bike ini memang cukup menjamur belakangan ini. Di Indonesia pun sudah ada beberapa klub pecinta sepeda jenis ini. Salah satu contohnya adalah ALRM, klub pecinta lowrider bike asal Malang.

ALRM sendiri terdiri dari sekitar 20-an pecinta lowbiker bike yang biasa berkumpul dan memamerkan sepeda andalan mereka. Jenisnya pun bermacam-macam, dari jenis chopper dengan desain hampir menyerupai motor Harley Davidson, hingga jenis cruiser dengan desain sepeda yang memanjang ke belakang.

Klub-klub seperti ini biasanya berkumpul satu atau dua hari dalam seminggu untuk saling berbagi informasi, beratraksi, ataupun hanya kumpul-kumpul saja.

Untuk memiliki lowrider bike ini tentunya modal utamanya adalah memiliki sepeda. Setelah itu, kita bisa memodifikasi bentuknya hingga bisa ‘berubah’ menjadi lowrider bike. Biayanya pun cukup terjangkau. Hanya dengan merogoh kocek kira-kira Rp1 juta dan ‘memasukkan’ sepeda kita ke bengkel khusus dan menyerahkan proses modifikasi pada sang ahli, lowrider bike pun bisa kita miliki dan tunggangi sepuas hati.

Selain keren dan trendi, penggunaan sepeda juga menjadi salah satu alternatif mereduksi global warming yang menjadi isu terpanas saat ini. Pasalnya, kendaraan jenis ini benar-benar hemat energi dan mengurangi polusi karena tidak membutuhkan bahan bakar selain tenaga ‘penunggangnya’ untuk mengayuh pedal. Bahkan ALRM sempat diundang untuk menjadi bintang tamu dalam sebuah seminar bertema hemat energi di Universitas Brawijaya Malang.

Selebritis tanah air kita pun nampaknya juga tertarik dengan low rider bike ini. Superman is Dead contohnya. Mereka malah memasukkan gambar sepeda jenis ini dalam cover album terbaru mereka, ANGELS AND OUTSIDERS. Pengen niru gaya-gayaan sambil berkampanye hijau tanda cinta bumi? Ayo aja! (kpl/npy)

————————————————————————————————

23. SEJARAH SEPEDA LOW RIDER

Sepeda Low Rider pertama kali di perkenalkan pada tahun 1960an, sepeda ini pertama kali di perkenalkan oleh The “custom” king George Barris, sebelum menemukan sepeda low rider si Tuan King ini pekerjaanya adalah menceperkan mobil, Memang saat itu virus Mobil Low Rider sedang mewabah di kalangan anak muda Amerika, Tetapi trend itu hanya bisa dirasakan oleh anak-anak muda dari keluarga kaya saja karena untuk membuat sebuah mobil low rider membutuhkan uang yang tidak sedikit, sementara anak-anak dari kalangan bawah hanya bisa melongo.

Melihat situasi seperti itu si King mendapatkan ide dengan mencoba membangun sebuah sepeda yang mengacu pada kesan low rider, untuk eksperimen pertama kali si King menerapkan pada sepedanya. Mulailah si King ini memperkenalkan kreasinya dari situ bisa di tebak banyak anak-anak dari keluarga yang kurang mampu beralih berkreasi membuat sepeda low rider.

Melihat peluang trend sepeda LR yang mulai di gandrungi akhirnya pada tahun 1963 pabrik sepeda SCHWIIN untuk pertama kalinya mengeluarkan model revolusi baru “New Cruiser “ STING RAY, model ini dibuat mengacu pada model motor model dragster yang sedang ngetop pada saat itu.Karena model tersebut nyaman di kendarai begitu juga dengan desainnya yg unik maka model tersebut menjadi booming dan digemari oleh anak-anak muda.

Model Sting Ray

Dikalangan sekelompok anak muda di daerah selatan Los Angeles Chicanos sepeda Low Rider banyak yang telah di modifikasi seperti framenya, fork di buat spring fork trus dikasih tambahan spion dan yang paling extreme adalah frame di buat lebih ceper / pendek lagi, tapi kebanyakan dari mereka adalah memendekannya. Pabrikan sepeda Schwiin juga tidak mau kalah terispirasi kaum latin yang suka blink-blink maka mereka menambahkan lapisan krom pada sepeda buatannya seperti mobil-mobil low rider.

Sepeda klasik tahun 1970-an ala Amerika ini memang jarang dijumpai. Selain stang tinggi dan kerangka sepeda yang rendah, sepeda low rider merupakan barang tua yang jumlahnya sangat terbatas.

Sepeda LR bukan hanya sepeda modifikasi atau yang disebut custom, ada juga sepeda orisinal dari negara Amerika dan Meksiko dengan merek Schwinn, Western Flyer, Giant, Phoenix dan lainnya.Sepeda jenis ini memiliki diameter roda ada yang 20 inci, 24 inci, dan 26 inci.

Perkembangan Low Rider kian pesat seiring dengan ide-ide kreatif anak muda yang menciptakan disain rangka sepeda berbeda dengan yang lainnya. Desain sepeda ini awalnya diilhami oleh model wheelie bikes yang telah muncul sebelumnya. Ciri-ciri yang nampak menonjol dari sepeda low rider ini adalah setangnya yang tinggi dan lebar (apehanger handlebar) atau garpu depannya yang panjang kedepan sampai hampir menyentuh tanah dengan sadel model pisang (banana seat) dengan sandarannya (sissy bar). Framenya biasanya menggunakan model pelangi (rainbow bent frame). Namun kadangkala ada yang ekstrim dengan setang yang tinggi dan fork yang panjang dengan menggunakan per (bent springer fork)….kadangkala menyerupai motor tua.

Ada beberapa aliran yang menggolongkan low rider ini kedalam beberapa jenis yaitu clasic alias original, vegas alias continental dengan cirinya memakai ban serep di bagian belakang seperti vespa. Aliran lain membagi sepeda low rider ini menjadi low rider bicycle, chopper atau stretch dan mountain cruiser.

Jenis sepeda ini sempat tidak diproduksi dalam waktu yg cukup lama di Negara asalnya, Amerika, karena minat pasar menurun. Namun sekarang trend menggunakan sepeda low rider berulang kembali, dan menjadikan sepeda ini di incar banyak orang saat ini.

————————————————————————————————

24. PECINTA SEPEDA LOW RIDER DIKUDUS

Minggu, 19 Juli 2009 00:21

Sepeda Low Rider pertama kali di perkenalkan pada tahun 1960an oleh The “custom” king George Barris. Sepeda yang bentuknya terinspirasi dengan model motor dragster ini pertama kali di produksi pada tahun 1963 pabrik sepeda SCHWIIN.

Menurut jakartastreetlowrider.blogspot.com, sepeda jenis ini masuk ke Indonesia mulai pada tahun 1970 an. Tetapi karena peminat yang masih minim menjadikan sepeda jenis ini berjumlah lebih sedikit dibandingkan sepeda jenis ontel.

Tetapi setelah aliran low rider atau istilah ngetrendnya aliran ceper mulai mewabah di Indonesia (sekitar tahun 1990an). Sepeda jenis ini mulai mendapat peminat di masyarakat di Indonesia.

Sekarang ini di Kota kudus sepeda jenis ini juga sudah mulai di minati. Hal ini bisa di lihat dengan mulai bermunculannya komunitas-komunitas sepeda low rider. Salah satu komunitas Low Rider di kota Kudus yaitu S.U.C.K (Sepeda Unik Kudus) yang juga merupakan komunitas low rider pertama di Kudus.

Komunitas yang masih terbilang baru ini didirikan pada 28 Pebruari 2009 sudah mempunyai anggota sekitar 42 orang. Biasanya mereka berkumpul setiap malam minggu di alun-alun simpang tujuh Kudus dan pada minggu paginya “Sekalian bersepeda pagi” kata Herdyan ketua komunitas S.U.C.K.

————————————————————————————————

25. MAKIN CEPER, MAKIN ANEH, MAKIN OKE…

Laporan wartawan KOMPAS Lukas Adi Prasetya

Selasa, 17 November 2009 | 07:33 WIB

KOMPAS/LUKAS ADI PRASETYA

Para anggota Komunitas Low Rider Vreedeburg (Klover) ini, setiap Sabtu malam nongkrong bersama di perempatan Kantor Pos Besar. Custom bike, atau sepeda modifikasi, disukai karena tampilan fisik sepeda sesuai selera si pemilik.

KOMPAS/LUKAS ADI PRASETYA

Klover, komunitas custom bike di Yogyakarta, sedang berkumpul.

KALAU mau mencari kenyamanan mengendarai sepeda, jangan memodifikasi sepeda seperti dilakukan penggemar low rider. Sebab, bagi mereka, urusan kenyamanan bersepeda adalah nomor kesekian. Yang penting adalah selera dan tampilan sepeda.

Tak heran jika wujud fisik sepeda-sepeda yang sudah dimofikasi itu-atau istilahnya custom bike-jauh dari pakem wujud sepeda. Nyaris semua sepeda juga tak dilengkapi dengan rem. Alasannya ya karena saking anehnya tentu si speda tak bakal bisa melaju kencang. Namanya juga sepeda suka-suka si pemilik, selera pun dijejalkan ke sepeda. Coba, misalnya tengok sepeda milik Fajar (19).

Sepeda dia, panjangnya lebih 1,5 meter, stang dibuat menjulang tinggi, pedal kaki nyaris kena tanah dan sekaligus dijadikan standar. Jika terlalu ke belakang duduk di sadel, pantat pun akan terkena roda. Sepintas, sih, bentuknya oke.

Tapi saat dijajal, bukan kenyamanan yang didapat, tapi deg-degan. Sudah menggenjotnya susah, stangnya pun akan bergerak liar ke sana-sini. Tentu saja begitu, karena sepeda yang rangkanya terbalut kain motif batik ini, diproduksi pabrik las. Hampir Rp 2 juta dihabiskan Fajar untuk membangun sepeda itu.

Bagaimana proses latihannya supaya dia bisa terampil mengendarai sepeda “alien” itu? Fajar menyebut karena terbiasa. “Lama-lama bisa, tapi ya harus hati-hati. Ini sepeda tapi panjang dan lebarnya lebih ketimbang motor. Saat berhenti di perempatan, banyak membuat orang takjub, tapi juga mendelik karena terganggu,” ujarnya tertawa.

Sepeda milik Andika juga setali tiga uang. Bodi besi yang dikrom putih mengilap, plus sadel kulit khas sepeda onthel, per di depan stang yang berfungsi sebagai peredam entakan stang, dan pelek roda jeruji banyak, jelas perpaduan menarik.

Tapi saat dikendarai, ya tetap tidak nyaman. Walau begitu Andika yang mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta asal Pemalang ini, cukup sering mengendarainya dari kos menuju kampus. Untung saja, jarak yang mesti dilahap cuma 1 kilometer.

“Walau sudah terbiasa naik sepeda ini, kalau jarak tempuhnya berkilo-kilo meter, ya tetap saja pegel. Ini kan sepeda bukan untuk harian,” ujar Andika. Sepedanya itu menghabiskan ongkos Rp 1 juta, terbanyak untuk menebus rangka besi.

Modifikasi sepeda, bisa juga sederhana, seperti dilakukan Rony, siswa SMK Tamansiswa yang juga membuka bengkel modifikasi di rumahnya, Nagan Lor, Kraton, Yogyakarta. Sepedanya masih mengusung rangka dari sepeda pabrikan, yakni sepeda mini. Hanya bagian depan yang dirombak, dengan roda dimajukan, porok depan diganti dengan besi-besi melengkung dan stangnya dibikin melebar panjang ke samping. Modifikasinya ini tak lebih Rp 250.000.

Rony mengaku, sebulan bisa menerima order 1-2 sepeda. Kebanyakan biayanya Rp 700.000-Rp 1 juta. “Mereka datang dengan konsep sepeda seleranya, trus dikonsultasikan ke saya. Dalam satu-dua minggu, beres. Sepeda rakitan jadilah sudah,” ujar Rony.

Pemilik sepeda low rider di Yogyakarta sebenarnya banyak. Namun tak semuanya bergabung di Komunitas Low Rider Vredeburg (Klover) seperti Rony, Ahmad, maupun Andika. Saat ini ada 50-an orang tergabung di Klover. Klover, saban Sabtu malam, biasanya nongkrong di perempatan kantor Pos Besar Yogyakarta.

“Saya rasa, ya bisa lebih dari 200 pemilik sepeda modifikasi di Yogya. Klover yang berdiri April 2008, punya 50 lebih anggota. Tapi yang sering nongol misalnya nongkrong dan memeriahkan acara, ya hanya sebagian. Mungkin itu juga karena sepeda ini, sebenarnya sepeda khusus festival, bukan harian,” kata Ari Gunawan (24), pentolan Klover yang adalah karyawan swasta.

Custom bike yang dulu juga identik dengan anak-anak punk ini, kini menjadi tunggangan mereka yang bukan anak punk. Sepeda modifikasi ini, di Yogya mulai ngetren tahun 2000-an, karena terimbas Jakarta dan Bandung. Tahun 2008 menjadi tahun keemasannya. Namun tahun 2009 mulai surut. Namun Agun yakin, tren akan berulang dan custom bike akan dilirik.

————————————————————————————————

26. ADU UNIK SEPEDA CEPER, MULAI BATMAN HINGGA TENGKORAK

Minggu, 25 Oktober 2009 | 20:15 WIB

FRANS AGUNG

Aldri Christian (29), salah satu pemenang festival lowrider di Urban Fest bersama lowrider-nya, Minggu (25/10). Ia tergabung dalam South Side Club Lowrider Bekasi Selatan.

Terinspirasi oleh kereta perang Romawi, maka dibuatlah lowrider atau sepeda ceper mirip kereta perang Romawi dalam Urban Fest 2009 di Ancol, Minggu (25/10).

Salah satu sepeda lowrider yang menjadi pusat perhatian di Urban Fest 2009 di Ancol, Minggu (25/10) adalah trex from hell yang Juara satu Trike Custom’20.

JAKARTA, KOMPAS.com – Suasana UrbanFest 2009 terasa semakin semarak dengan hadirnya festival lowrider, sepeda ceper.

Lowrider sendiri mulai menjadi tren di Indonesia sejak tiga tahun lalu. Sekalipun demikian bagi Aldri Christian (29), arus lowrider dipandangnya sebagai peluang usaha yang bagus untuk ke depan.

Dalam festival tersebut, Aldri menyabet juara satu untuk kategori street custome. Kemenangannya juga terkait dengan profesinya sebagai pemiliki bengkel lowrider, yang dirintisnya sejak dua tahun lalu.

“Ini bermula dari hobi. Imbas dari kemenangan ini bisa menaikkan nama bengkel, menambah kepercayaan customer,” katanya pada Kompas.com seusai menerima hadiah di Ancol, Minggu (25/10).

Sebelum membuka bengkel yang dinamainya Urban Culture, Aldri adalah seorang freelance bar boy. Kemudian, berbekal hobi pada sepeda dan ditunjang dengan ijazah STM jurusan mesin, warga Bekasi ini memutuskan membuka bengkel lowrider.

“Waktu mulai jarang yang menyediakan bahan membuat lowrider. Dari kejarangan itu maka saya membuat sendiri dengan merangkai besi-besi,” ucap Aldri.

Usaha yang terbilang unik ini terus ditekuninya. Hampir semua bahan dan aksesoris dihasilkan dari buatan tangannya. Bahkan ia mengklaim hasilnya tidak kalah dengan bahan impor. Hingga pada akhirnya, usahanya secara pasti memberikan masukan Rp 2,5-3 juta tiap bulan.

“Lumayan menjanjikan. Tiap hari ada saja, entah hanya penambahan aksesories karena barang hobi,” ungkap Aldri.

Menonjolkan penampilan terkait dengan bentuk lowrider, Aldri mengakui bahwa sepeda ceper ini lebih mementingkan penampilan. Dalam festival itu pula, adu kreatifitas bentuk menjadi poin yang cukup menentukan. Maka muncullah lowrider berbentuk Batman, tengkorak, motor gede dengan ban belakang sangat lebar. Dari kasat mata, tampaknya sulit untuk dikendarai.

“Kekhasannya lebih ceper, sadel rendah, gear pendek, poreknya springer itu membuat kesimbangan sulit. Kalau belok ke kiri bodinya membuang ke kanan. Kalau jarak jauh lumayan pegal-pegal,” paparnya.

Sulitnya mengendarai lowrider diakui oleh Beta Lukman (20). Mahasiswa Institut Kesenian Jakarta semester III Seni Grafis, mulai tertarik lowrider tahun 2007. Saat itu ia langsung membeli dengan harga Rp 1,2 juta. “Susah sih awalnya. Stang tinggi, goyang-goyang. Gak nyaman, tapi lama-lama sudah terbiasa,” ujar warga Tanjung Priok Jakarta Utara ini.

Yang jelas, arus lowrider semakin menjanjikan dengan terus berkembangnya kesadaran warga Jakarta untuk bersepeda. “Saya prediksi ke depan bagus, juga untuk bisnis. Apalagi diilihat ada event-event seperti ini, otomatis memacu kreatifitas dan menginspirasi orang lain,” pungkas Aldri.

————————————————————————————————

Kamis, 23/07/2009 16:24 WIB

27. BIAYA MERAKIT LOWRIDER BISA SAMPAI RATUSAN JUTA RUPIAH

Ema Nur Arifah – detikBandung

Bandung – Lowrider jenis choper salah satu pajangan yang jadi pusat perhatian di Jabar Expo 2009 Graha Manggala Siliwangi. Wajar saja, keunikan lowrider rakitan Sapto Aji (32), diklaim pemiliknya hanya dia yang punya. Biaya yang dikeluarkan untuk merakitnya pun cukup luar biasa, mencapai Rp 150 juta. Wow..!

Stangnya mengkilat. Sebagian rangkanya bermotif tengkorak yang dibuat dengan semprotan airbrush warna coklat. Lebih unik lagi, ban, belakangnya memakai drag cruiser yang super tebal. Cukup unik memang untuk modifikasi sebuah sepeda.

“Tapi kalau dipakai biasa aja enggak berat,” tutur pria beranak dua ini. Untuk pembuatannya, diakui Aji tidak seperti lowrider lainnya yang mungkin bisa selesai dalam waktu dua minggu atau hitungan hari. Untuk merakit lowrider tersebut dia membutuhkan waktu dua bulan dengan biaya perakitan mencapai Rp 150 juta.

Wow! Ternyata biayanya sangat besar. Sampai-sampai Aji enggan mengungkapkan berapa harga sepedanya tersebut jika ada yang menawar. Tapi tidak semua biaya merakit semahal itu. Menurut Aji dengan Rp 2 juta pun sudah bisa memiliki lowrider.

Empat tahun lalu, Aji meresmikan diri jadi builder atau perakit dan konsultan lowrider. Ketertarikannya dimulai saat membaca majalah yang mengupas tentang lowrider. Pengalaman sebagai modifikator mobil racing membuatnya nggak mengalami banyak kesulitan untuk jadi builder lowrider.

“Enggak beda jauh sama mobil, sama saja. Tapi lebih gampang sepeda,” ujar Aji yang juga mendirikan komunitas R2 Racing Team dan R2 Tema Cruiser Bandung ini. Apalagi kegiatan merakit sepeda khususnya lowrider sudah menjadi hobinya.

Istimewanya, kebanyakan suku cadang dibuat sendiri oleh Aji. “Pembuatannya masih handmade,” papar Aji. Dengan membuat sendiri, Aji lebih leluasa membuat komponen-komponen lowrider yang unik.

Selama empat tahun terakhir ini Aji sudah merakit sekitar 80 sepeda. Lowrider rakitannya juga sudah mengeskpor lowrider rakitannya. “Saya sudah ekspor ke Malaysia, Australia juga Singapura,” ujar Aji.

(ema/ern)

————————————————————————————————

28. LOW RIDER, SEPEDA TUA YANG KEMBALI DIMINATI

Kalau Anda pencinta film Indonesia tempo doeloe, tentu tak lupa dengan Rano Karno, yang sejak kecil sudah membintangi banyak film. Dalam beberapa film yang dibintanginya, Rano Karno kecil sering naik sepeda mungil roda dua bersama kawan-kawannya. Sepeda mungil dengan spesifikasi fork depan dilengkapi springer atau per, sering juga disebut dengan model cangkrang, ditambah lagi setang yang lebih lebar dari ukuran sepedaumumnya, plus jok model pisang yang memanjang ke belakang, dilengkapi dengan sen-deran dari pipa kecil yang menjulang ke atas sebagai tangkringan sang empunya sepeda. Ya, itulah sepeda model “low rider”. Atau kalau susah-susah menyebut low rider, orang “dulu” lantas menyamaratakan dengan menyebutnya sepeda mini atau BMX.
Kini low rider muncul kembali dari gudang tempat peraduannya. Coba saja sekali-kali sobat muda ambil waktu di Minggu pagi jalan-jalan ke seputaran taman kota atau ke Monas – tentunya dengan kon-sekuensi harus rela ke gereja sore hari – sobat muda akan dengan mudah mene-mukan sepeda jenis ini. Bayangkan saja bagaimana asyiknya tatkala Anda melenggang dengan low rider, lantas semua mata memandang ke arah Anda, wow… tentu ada kenikmatan sendiri yang orang belum tentu miliki.
Kini jaman seolah kembali berbalik ke tahun 60 atau 70-an. Tak hanya orang muda saja yang mengendarai low rider, tapi juga tak sedikit orang tua yang menungganginya. Ada beragam alasan, mulai dari sekadar bernostalgia ke masa kecil, sampai dengan benar-benar hobby dengan sepeda antik.
Konon sepeda model ini untuk

pertama kalinya diperkenalkan pada 1960-an, oleh The “Custom” King George Barris. Sebelum menemu-kan sepeda low rider, aktivitas sehari-hari George King adalah modifikasi mobil bentuk ceper, bertepatan saat itu demam mobil Low Rider sedang mewabah di kalangan anak muda Amerika. Sayangnya, trend itu hanya bisa dinik-mati oleh orang muda dari keluarga kaya saja. Tak heran, karena membuat mobil low rider membutuhkan uang yang tidak sedikit, sementara itu anak yang berasal dari keluarga miskin hanya bisa melihat dari jauh tanpa bisa menikmatinya sama sekali.
Melihat kontras yang ada, lantas George memutar otak mencari solusi. Tak dinyana ide brilian itu pun kemudian menempel ke me-morinya. Ide mencoba memba-ngun sebuah sepeda yang meng-acu pada kesan low rider. Kemudian George mengutak-katik, permak sana-sini sepeda tunggangannya untuk eksperimen pertama kali. Selanjutnya hasil kreasinya itu ia perkenalkan pada banyak anak dari keluarga yang kurang mampu. Tak disangka, banyak anak-anak dari keluarga yang kurang mampu lantas beralih berkreasi membuat sepeda model low rider. Sampai perusa-haan besar seperti SCHWIIN meli-hat peluang ini dan kemudian lantas memroduksinya secara masal.
Itulah low rider, sepeda yang identik dengan orang miskin atau tak berduit di masanya itu, kini telah berevolusi menjadi barang mahal bernilai tinggi yang digemari banyak orang. Di Indonesia sen-diri, ada banyak komunitas pe-nyuka low rider di hampir seluruh kota besar di Indonesia. Salah satu di antaranya adalah Jakarta Street Lowider (JSL), komunitas penyuka sepeda ceper dari Jakarta yang berdiri sejak 6 Juni 2006.
Jakarta Street Lowrider sendiri merupakan wadah bagi para penggemar sepeda low rider yang sebelumnya “menggelan-dang” tanpa adanya wadah khu-sus yang menaungi. Namun de-mikian, tidak seperti komunitas-komunitas lain yang pada umumnya memiliki peraturan yang rumit, JSL justru tidak mau mengikat anggotanya dengan peraturan ribet. JSL memberi kebebasan pada anggotanya untuk berekspresi dan berkreasi seapik mungkin dengan sepeda low rider tunggangan mereka. Slawi/dbs

————————————————————————————————

29. MELIPAT RUPIAH DARI MODIFIKASI SEPEDA

Senin, 15 Maret 2010 | 13:46 WIB

LEO SUNU

KOMPAS.com — Tak mau kalah dengan kendaraan bermesin macam mobil dan sepeda motor, sepeda kayuh pun tak luput dari tren modifikasi. Sepeda hasil modifikasi alias sepeda custom jenis low rider adalah sepeda yang sangat digemari. Maka dari itu, kini bermunculan bengkel kreasi sepeda bersadel rendah tersebut.

Meskipun ada pabrikan besar yang memproduksi aneka bentuk sepeda, bisnis modifikasi tak pernah mati. Maklum, karena diproduksi massal, sepeda pabrikan kerap tidak memenuhi selera penggunanya. Kondisi ini, tak ayal, membuat bisnis modifikasi sepeda memiliki prospek cerah. Salah satunya adalah modifikasi sepeda low rider.

Sejatinya, low rider adalah sepeda yang perawakannya pendek atau ceper. Salah seorang modifikator low rider, Tubagus Krisna Murthi, mengatakan, sepeda low rider sebenarnya meniru bentuk mobil-mobil mewah yang beredar di Amerika Serikat (AS) pada tahun 1950-an, yang ketika itu tengah ngetren.

Krisna berkisah, pada dekade tersebut, anak muda heboh mengendarai mobil yang diceperkan. Sayangnya, tidak semua anak muda bisa bergaya dengan mobil itu karena harganya yang mahal. “Dari situ muncullah kreasi modifikasi sepeda ceper yang disebut low rider bikinan George Barris di AS,” beber Krisna yang juga pemilik Bakul Pit Low Rider.

Tak disangka, kreasi Barris kelak menjadi mahakarya dan bertahan hingga sekarang. Bahkan, karya itu berbalik arah menjadi sepeda untuk bergaya. Beberapa pabrikan sepeda besar malah tercatat pernah memproduksi massal model sepeda ini, seperti Schwinn asal Amerika. Krisna baru membuka Bakul Pit sejak pertengahan 2007. Namun, dia sudah sangat menggilai modifikasi sepeda sejak masih duduk di bangku sekolah menengah. Cara belajarnya otodidak.

Menurut Krisna, ciri-ciri sepeda low rider antara lain memiliki diameter ban ideal 20 inci, setang kemudi tinggi, frame rainbow (berangka pelangi) dan springer (garpu depan) melengkung. Untuk tempat duduk, sadel low rider biasa disebut jok banana (pisang). Sebab, bentuknya memang panjang seperti pisang dengan besi menjulang di bagian belakang yang terkadang digunakan untuk menyandarkan badan.

Meski ada beberapa ciri utama dari low rider, kata Krisna, selera personal tetap menjadi parameter modifikasi sepeda low rider. “Saya selalu membuat sepeda sesuai keinginan pemesan,” katanya.

Dia berkata, saat memesan, biasanya klien datang membawa gambar atau foto. Setelah gambarnya cocok, Krisna selanjutnya membuat estimasi dana yang harus dibayar klien. “Saya kasih saran sesuai budget-nya. Kalau setuju, saya segera kerjakan,” kata pria 23 tahun ini.

Untuk penggarapan, paling cepat Krisna bisa mengerjakan low rider dalam waktu enam jam. Dengan catatan, klien tidak memesan model yang neko-neko dan suku cadang berasal dari bengkelnya di Bekasi Selatan.

Menurut Krisna, jika permintaan klien banyak, misalnya membikin velg dan setang serta mengecat body, maka waktu penggarapannya bisa sampai dua minggu. Cepat atau lamanya waktu penggarapan ini juga bergantung pada ketersediaan suku cadang.

Untuk suku cadang, ada dua jenis, yakni klasik dan baru. Untuk mendapatkan suku cadang klasik, Krisna biasanya minta bantuan teman-temannya dari luar kota untuk mencarinya. seperti di Yogyakarta, Semarang, Solo, dan Medan. Untuk suku cadang baru, Krisna mendapatkannya dari seorang agen yang merupakan pengimpor suku cadang asal Taiwan.

Tarif modifikasi low rider yang ditawarkan bengkel Krisna minimal Rp 1,5 juta-Rp 2 juta. Ini untuk pembuatan low rider lengkap dari nol. Krisna mengaku tidak pernah melayani modifikasi dengan cara mengubah sepeda yang sudah ada menjadi low rider.

Selain low rider, Krisna juga memodifikasi model sepeda lain, seperti limo, cruiser, chopper, basman, dan fire bike. Ini adalah model-model sepeda untuk life style, seperti halnya low rider.

Seperti namanya, limo adalah sepeda genjot yang terinspirasi dari sedan limosin. Panjang sepeda ini bisa mencapai 2 meter. Sementara itu, chopper adalah sepeda yang terinspirasi dari motor gede (moge) Harley Davidson. Lalu, cruiser adalah sepeda yang bentuknya mirip sepeda pantai.

Dari sekian jenis ini, Krisna bilang yang paling enak dikendarai hanya chopper. “Sepeda-sepeda ini memang hanya untuk life style bukan dikejar dari sisi fungsionalnya,” katanya.

Dari bisnis modifikasi sepeda low rider saja berikut penjualan suku cadangnya, bengkel Krisna bisa meraup omzet Rp 7 juta per bulan.

Modifikator sepeda low rider lainnya adalah Hendra Prasetya. Bersama ketiga rekannya asal Bandung, Jawa Barat, Hendra juga memilih hanya menerima pembuatan sepeda utuh dan tidak menerima perombakan sepeda. “Karena sepeda yang sudah jadi memiliki tema berbeda sehingga banyak yang harus dirombak. Tipe bahan besinya juga beda,” kata pria yang akrab disapa Pras ini.

Pras menggagas pendirian bengkel sepeda custom sejak 2009. “Semuanya berawal dari hobi dan mendesain sepeda milik sendiri. Karena ada yang tertarik dan minta dibuatkan, ya, akhirnya saya membuka bengkel,” ujarnya.

Meski belum memberi nama bengkelnya, hasil kerja Pras dan teman-temannya cukup dikenal. Selain pemasaran dari mulut ke mulut, dia juga mempromosikan hal itu lewat internet. Pemesan yang datang ke bengkelnya kebanyakan dari kalangan muda, seperti komunitas sepeda atau skate board.

Dalam rnemodifikasi low rider, kata Pras, proses tersulit adalah mendesain dan mencari bahan baku. Untuk soal terakhir, bahkan Pras harus pandai memilih bahan baku yang harganya sesuai dengan isi kantong pelanggannya. “Tidak semua pemesan memasang budget khusus. Ada juga yang mengikuti desain dan harga yang ditawarkan,” katanya.

Setelah pemilihan bahan baku, Pras memesan pembuatan rangka sepeda dan aksesori tertentu ke bengkel las. Dia memakai tenaga bengkel las karena biayanya lebih murah daripada membuat sendiri. “Tapi harus detail menginstruksikan ke tukang las supaya desain dan ukurannya sesuai, dan mudah dirakit,” ujar pria lulusan Teknik Informatika Universitas Maranatha Bandung ini.

Sampai saat ini, Pras sudah mengerjakan lima sepeda low rider dan dua sepeda chooper. Tarifnya antara Rp 1,5 juta dan Rp 3 juta per unit. Menurutnya, keuntungan sepeda customized, selain mendapat sepeda yang modelnya eksklusif, harganya juga lebih murah dari sepeda yang sudah jadi.

Modifikator sepeda custom lainnya adalah Yudi Kartono, yang memiliki Bengkel Sepeda Ben Hur. Yudi menekuni bisnis modifikasi sejak 2004 di bilangan Radio Dalam, Jakarta Selatan. Ia bahkan dikenal sebagai salah satu pelopor modifikasi low rider di Jakarta.

Harga pembuatan sepeda paling murah adalah Rp 1,5 juta untuk low rider standar. Namun, menurut Yudi, harga rata-rata modifikasi sepeda yang ia kerjakan adalah antara Rp 3 juta dan Rp 4 juta. Untuk suku cadang, ia menetapkan harga, termasuk ongkos pemasangan.

Dalam sebulan, Yudi rata-rata menerima pesanan pembuatan dua sepeda. Namun, di sela-sela itu, ada juga permintaan untuk suku cadang. Rata-rata dalam sebulan permintaan suku cadang antara 5 dan 10 unit. (Kontan/Anastasia Lilin Yuliantina, Dupla Kartini, Indira Prana)

————————————————————————————————

30. SOUCLER : KOMUNITAS SEPEDA LOW RIDER SEMARANG

Posted by dotsemarang on 8/18/10 • Categorized as Komunitas

Semarang dengan beragam komunitasnya memang patut di lirik oleh masyarakat luar. Bilang siapa Semarang miskin dengan kreatif anak muda, buktinya disini ada komunitas yang memakai brandnya menggunakan sepeda, yaitu low Rider. Sepeda yang terkenal dari Amerika ini Ternyata mewabah dikalangan anak muda Semarang. Sepeda Low Rider pertama kali di perkenalkan pada tahun 1960an, sepeda ini pertama kali di perkenalkan oleh The “custom” king George Barris pada waktu itu.

Soucler (Semarang Outsider Custom Lowrider) adalah salah satu komunitas Low Rider yang ada di Semarang. Berdiri pada tanggal 14 Februari 2010 Soucler sudah tumbuh besar dengan banyaknya personal yang menjadi anggota. Mulai dari pelajar,mahasiswa dan bahkan ada yang bekerja.

Saat ditemui di sela-sela ngabuburit di jalan Pahlawan, dot”S” sengaja menyapa mereka dan mewancari sedikit mengenai komunitas ini. Kebenaran Ketuanya saat itu belum nampak, jadi Pram bagian humas dan Deky sebagai wakil ketua banyak bercerita kepada kami bagaimana sejarah komunitas ini terbentuk.

Mereka sering berkumpul setiap malam minggu di depan pandanaran jam 9 malam. Sebulan sekali di pahlawan. Animo masyarakat cukup positif meskipun sedikit ada yang nggak peduli dengan komunitas ini. Ujar Pram, “memberikan nilai positif buat masyarakat adalah hal yang perlu dilakukan”. Mahasiswa Undip jurusan sastra Inggris ankatan 2007 ini mengekspresikan dirinya melalui komunitas Low Rider.

Agenda mereka cukup banyak, salah satunya buka bareng kali ini. trus ada juga mereka ingin melakukan kegiatan sosial macam bersih-bersih lingkungan. (dexter /Firman)

————————————————————————————————

31. “LOW RIDER”, INDUSTRI DENGAN HASIL TIDAK “LOW”

24 04 2009

BEKASI, KOMPAS.com — Di tengah himpitan krisis ekonomi yang sedang melanda berbagai bidang dalam dunia usaha di Tanah Air, ternyata ada satu usaha yang masih bertahan dengan sangat baik. Low Rider…

Ya, orang sering bilang, apa-apa yang keluar dari hati biasanya akan melahirkan hasil yang jauh lebih baik. Mungkin itu juga yang terjadi dengan bisnis yang dijalankan Rio. Sejak tahun 2007, pemuda ini mengembangkan bisnis yang juga menjadi hobinya, sepeda.

Bukan sembarang sepeda, sepeda yang dirakit dan dijadikan sumber penghasilan dari salah seorang warga Jalan Raya Jatimakmur, Pondok Gede, Bekasi, ini berjenis low rider. Sebuah varian sepeda lain di antara pilihan sepeda lain yang telah lebih dulu dikenal macam, baik sepeda balap, sepeda gunung, maupun sepeda lipat.

Sesuai namanya, sepeda rakitan Rio menjadi begitu ceper dan pendek, mirip sepeda anak kecil, tetapi menggunakan ban besar. Tak hanya itu, keunikan lain pun terletak pada bentuknya, macam motor Harley Davidson tanpa mesin.

Rio melakukan perakitan sesuai pesanan, yang biasanya memakan waktu hingga dua minggu. Meski krisis, usaha tersebut bisa bertahan karena sudah mempunyai komunitas tersendiri yang cenderung bertambah. Low rider rakitan Rio rata-rata dijual antara Rp 1,5 juta dan Rp 5 juta per buahnya. Hebat, dari hobi menjadi penghasilan….

————————————————————————————————

32. KETIKA SEPEDA LOW RIDER JADI TREN (BARU) LAGI

Ingin jadi perhatian saat bersepeda? Naik saja sepeda low rider atau sepeda ceper. Perhatian sebagian orang yang berpapasan niscaya bakal tertuju ke Anda.
pakah Anda ingin merasakan menjadi pusat perhatian? Setidaknya, seperti ditulis SOLOPOS, itulah yang mungkin dirasakan oleh para penggemar sepeda low rider di Solo.
Keinginan itu pula yang menjadi salah satu alasan mengapa mereka memiliki sepeda ceper. Bagi mereka, sepeda low rider punya karakter dan ciri khas yang membuatnya sangat berbeda dibandingkan dengan jenis sepeda lain.
Sepeda low rider memang punya ciri khas pada frame atau kerangkanya. Pehobi sepeda ceper ini, Dimpi, 27, mengatakan kerangka sepeda low rider memiliki bentuk lengkung khas seperti pelangi.
Bentuk lengkung kerangka ini dijumpai pada sepeda untuk kaum pria. Sedangkan bentuk kerangka sepeda low rider yang digunakan kaum wanita, lebih menyerupai huruf S.
”Salah satu ciri khas yang dimiliki sepeda low rider adalah bentuk frame-nya, yaitu berbentuk pelangi atau melengkung dan huruf S. Selain itu, bagian fork-nya pun berbeda dibandingkan dengan jenis sepeda lain,” terang Dimpi ketika ditemui Espos di kawasan Manahan, Solo, Rabu (29/7).
Bagian-bagian lainnya seperti stang dan jok, menurut Dimpi, juga menjadi ciri khas yang membedakan sepeda low rider dengan jenis sepeda lainnya.
Pendapat Dimpi itu disepakati oleh low rider lainnya, yang setiap Rabu malam memang rutin berkumpul di kawasan Manahan.
Melihat bentuknya saja, sepeda low rider sudah mengundang perhatian. Selain karena ceper, sepeda ini juga mempunyai stang berbentuk unik.
Ada yang bentuknya mirip dengan stang ala motor Harley Davidson, ada pula yang melengkung lebar hingga terlihat lebih besar ketimbang sepedanya.
Bagi Dimpi dan pehobi lain, Mehong, 22, menggunakan sepeda ceper merupakan sebuah keasyikan tersendiri. ”Alasannya memang lebih mengarah pada show off atau menjadi pusat perhatian. Apalagi tidak semua orang punya sepeda seperti ini. Kalau kami bersepeda bersama di jalan, pasti menjadi perhatian pengguna jalan yang lain,” papar Mehong.

Tidak kalah gengsi

Mereka pun merasa tidak kalah gengsi dengan pengguna sepeda motor. Bahkan, penggemar sepeda ceper seperti Andi, mengaku lebih memilih menggunakan sepeda cepernya ketimbang bersepeda motor dari rumah ke tempat kerja.
Kenapa merasa punya gengsi bersepeda low rider? Jangan keliru. Sepeda low rider yang mereka kayuh, bukanlah sembarang sepeda.
Pasalnya, biaya yang harus mereka keluarkan untuk bisa memilikinya, ternyata tidak sedikit. Meski terlihat kecil, harga sepeda low rider bisa mencapai jutaan rupiah.
”Minimal satu juta rupiah habis untuk mendapatkan sepeda low rider. Itu pun kalau bisa mendapatkan barang yang paling murah. Kalau harga jadinya bisa mencapai 2,5 juta rupiah,” papar penggemar lainnya, Eko, 22.
Mereka menyebutkan beberapa harga onderdil sepeda low rider memang mencapai ratusan ribu rupiah. Misalnya, untuk stang orisinal, harganya sekitar Rp 150.000. Belum lagi fork orisinal, yang harganya masih jauh lebih mahal ketimbang harga stang.
Alasan lain mereka begitu tergila-gila kepada sepeda low rider, tak lain karena bentuknya yang unik dan nyeleneh.
Bagi mereka, bersepeda ceper adalah sebuah keasyikan dan kesenangan tersendiri, kendati secara fisik lebih melelahkan ketimbang menggunakan sepeda pada umumnya.

————————————————————————————————

33. DEMAM SEPEDA LOWRIDER SERBU TANAH AIR

14:08 WIB || Monday, 01 June 2009 || Views : 4148 || Comments : 0 || Contributor : Ridho

Era sepeda gunung atau BMX bisa dibilang sudah lewat. Belakangan yang sedang tren dikalangan penggemar sepeda lokal adalah model lowrider. Sepeda yang aslinya berasal dari negeri Paman Sam (AS) kian digilai para penunggang sepeda. Jumlah komunitasnya kian banyak, dengan background anggota yang beragam. Salah satunya adalah Komunitas Lowriders Tangerang (KOLOT).

Komunitas yang sering nongkrong di pelataran jalan menuju mall Modern Land, Tangerang ini selalu aktif menjejali jalan setiap sabtu sore. Dengan jumlah anggota yang mencapai 20 orang, anggotanya sebagian merupakan pelajar. Ketua komunitas, Chandra mengaku menggemari sepeda ini karena unik dan mewah. Bagaimana tidak, tak jarang penggemar banyak mengaplikasikan pernak-pernik dari sepeda tua dan juga didandani mengarah ke vintage, namun dengan tampilan bling-bling yang kental. Sementara balutan chrome atau gold plate membaluri sepeda dan terlihat mewah. “Kalau komunitas kami memang kebanyakan sepedanya merupakan rubahan (renovasi model sepeda lama). Kalau beli sepeda udah jadi (baru) kemahalan.

Lagipula komunitasnya masih agak jarang disini. Makanya sepeda disini masih ada yang terlihat kaku,” terangnya disambangi di pelataran mall Modern Land, kemarin. Untuk urusan memodif sepeda juga perlu dana besar. Jika pemilik sepeda menyuntikan dana hingga 3 juta rupiah, tampilan sepeda mendekati sempurna. Biasanya yang mengalami perubahan adalah bagian rangka, ban, velg, stang, lampu variasi, jok, dan warna (standar atau chrome).

Komunitas tunggangan tanpa mesin itu selalu kompak berkeliling komplek atau areal mall. Namun tidak jarang mereka menyambangi lokasi rekreasi pantai dikawasan Tangerang. Walau tidak seperti komunitas sepeda motor, namun mereka juga punya perangkat keselamatan atau yang lebih akrab disebut safety riding. Jika anda tertarik gabung dengan komunitas ini, silahkan sambangi KOLOT di areal jalan masuk menuju mall Modern Land, Tangerang, setiap Sabtu sore.

teks : ridho

foto : dok Kolot/ist

————————————————————————————————

34. LOW-RIDER, KOMUNITAS SEPEDA STANG MONYET DI MALANG

Berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi lingkungan yang semakin dipenuhi asap kendaraan bermotor, komunitas penggemar sepeda bermunculan. Komunitas sepeda low-rider adalah salah satunya. Dari pemikiran mereka, sering muncul ide-ide kreatif khas anak muda.

Sekitar 15 orang yang didominasi oleh remaja laki-laki terlihat asyik dengan sepedanya. Ada yang menaiki sepeda, namun ada pula yang hanya memandangi sepeda miliknya. Pemandangan itu terlihat di depan Museum Brawijaya.

Menariknya, sepeda yang mereka bawa saat itu adalah jenis yang jarang dijumpai. Ada yang berwarna merah, ungu, kuning, ada pula yang berlapis krom. Namun ada satu kesamaannya, yakni bentuk stangnya jauh lebih tinggi atau panjang daripada sepeda pada umumnya (mirip motor gede chopper). Stang ini mereka namakan stang monyet.

Ciri khas lain yang menjadi kriteria wajib sepeda jenis ini adalah keberadaan banana shield, jok sepeda tebal berukuran cukup besar, serta sissy bar atau sandaran belakang. Tak ketinggalan pula sebuah skok horizontal yang unik terpasang di bagian depan, skok ini dinamakan spinger.

Sepeda-sepeda itu beraliran low-rider, yakni suatu jenis sepeda yang diadopsi dari gaya mobil low-rider. Mobil low-rider adalah mobil yang sistem suspensinya telah dimodifikasi sehingga terlihat sangat rendah, atau istilahnya ceper. Sepeda ini pertama kali muncul pada tahun 1960-an di Amerika Serikat.

Ada dua cara yang dapat ditempuh untuk mendapatkan sepeda low-rider, yakni beli jadi atau merakit sendiri. Namun cara pertama ini jarang dilakukan, mengingat harganya yang relatif mahal. Umumnya sepeda produksi lokal berbanderol paling mahal Rp 4 juta rupiah, jauh lebih murah dari merek impor yang harganya bisa mencapai Rp 15 juta rupiah.

“Kami lebih suka merakit sendiri, selain lebih murah, juga lebih puas,” Kadek Kariyase, ketua komunitas sepeda ALRM (Arek Low-Rider Malang) sambil memegang sepeda rakitannya. Untuk merakit sepeda ini dia membutuhkan Rp 3 juta. Komponen untuk membuat sepeda ini biasanya diperoleh dari Jogjakarta, Surabaya, Jakarta, dan Bandung.

Di Indonesia, menurut David, sapaan akrab Kadek Kariyase, tren sepeda ini pertama muncul di Bali sekitar 2005 lalu. Pelopor tren ini adalah band Superman Is Dead (SID). Sepeda ini bahkan ikutan mejeng di salah satu album SID, yaitu Angel and The Outsiders.

SID sengaja menyebar “virus” sepeda ini sebagai salah satu upaya kampanye go green. Go Green adalah suatu ajakan untuk hidup lebih hijau, lebih bersih, dan stop global warming. Bali boleh dibilang sebagai pusatnya sepeda low-rider.

Selain populasinya yang besar, tingkat kreativitas pemilik sepeda juga jauh lebih tinggi daripada di daerah lain. Bahkan, tiap tahunnya ratusan penggemar sepeda low-rider berkumpul di Kuta Bali. “Sekitar tahun 2008 sepeda ini mulai muncul di Malang,” ujar David.

Dia merupakan satu dari delapan orang pelopor sepeda low-rider di Kota Malang. Awalnya, mereka berdelapan nongkrong dengan sepeda masing-masing di Soekarno-Hatta tiap Sabtu malam. Karena sepeda mereka unik, para pengguna jalan banyak yang tertarik.

Dari situlah, perlahan-lahan banyak orang berminat untuk bergabung atau sekedar mencari tahu seputar sepeda low-rider, meski tak sedikit di antaranya yang kaget ketika mengetahui harganya lebih mahal daripada sepeda pada umumnya.

Sampai saat ini komunitas yang resmi berdiri pada 4 April 2008 sudah memiliki anggota sebanyak 40 orang. Namun yang hadir pada pagi itu hanya 15 orang. Komunitas ini didominasi anak-anak SMA dan mahasiswa, namun ada pula yang masih kelas 5 SD, bahkan ada yang sudah berusia 45 tahun.

Adalah Maulana Ibrahim Zaenal Akbar alias Miza yang menjadi anggota termuda ALRM. Siswa kelas V SD Percobaan 2 Malang ini mengaku ikut komunitas ini karena diajak kakaknya yang lebih dulu bergabung. “Pingin nambah temen” ujar Miza ketika ditanya alasannya. Sepeda yang dimiliki Miza adalah Frame Limo 20 seharga Rp 2 juta.

Miza mengaku sudah izin orangtua, sehingga dia bisa leluasa berkumpul bersama anggota komunitas lainnya. Menurut anggota ALRM yang lain, Miza bakal menangis jika tidak diajak nongkrong bersama anak-anak lainnya.

Senada dengan Miza, Subroto yang merupakan anggota tertua mengaku senang bergabung di komunitas ini. “Kebetulan saya tukang las yang suka bikin sepeda unik,” ujar lelaki yang sudah berusia 45 tahun ini.

Sepeda yang dipakai Subroto saat itu adalah hasil kreasinya. Dia mengaku mendapatkan bahannya dari toko besi dan bangunan. Sebagai tukang las, sepeda itu dibuat dalam waktu tak lebih dari dua minggu. Sepeda miliknya memang terlihat berbeda dengan sepeda lain, karena ada beberapa pakem yang dilanggar. Karena itu, sepeda jenis ini disebut custom low-rider.

Meski menjadi anggota paling senior, pria yang bertempat tinggal di Ciptomulyo ini mengaku percaya diri. “Kebetulan keluarga mendukung, biar saya ada hiburan” akunya.

Kegiatan komunitas ALRM tak hanya melulu nongkrong dan bersepeda keliling kota, tapi juga ada kegiatan lain, seperti mengikuti lomba, dan bakti sosial. Komunitas ini pernah menjadi juara 1 kelas low-rider dan juara 1 kelas custom low-rider pada 2008 di Pasuruan.

Sedangkan untuk bakti sosial, terakhir kali dilakukan saat bulan puasa 2009 kemarin. Untuk menunjang berbagai kegiatan tersebut, setiap anggota ditarik iuran minimal Rp 5 ribu per minggunya.

Selain itu, ALRM juga sering diundang oleh komunitas lainnya, seperti dari Jogjakarta. Bahkan, komunitas ini selalu eksis tiap kali ada event fun bike di Kota Malang. Kehadiran mereka tak ayal membuat kontras di antara peserta yang didominasi sepeda gunung dan sepeda balap.

David menjelaskan, penggemar sepeda low-rider punya slogan “Let’s cycling, burn calori not gas” (mari bersepeda, bakar kalori bukan gas). Melalui slogan itu, komunitas ini mengajak masyarakat untuk hidup lebih sehat, serta lebih peduli terhadap kondisi udara yang semakin dipenuhi polusi.

Selain itu, David dan anggota lainnya sepakat untuk tidak menggunakan narkoba. “Tujuan utama bersepeda adalah untuk membuat tubuh sehat, kalo malah pake narkoba, jadi percuma dong,” ujarnya mahasiswa semester akhir jurusan teknik mesin ITN Malang ini.

————————————————————————————————

Jumat, 29 Februari 2008


35. BERSEPEDA LOW RIDER MENCEGAH PEMANASAN GLOBAL

Liputan6.com, Kuta: Sepeda low rider memiliki keunikan dibanding sepeda biasa. Bentuknya beragam dan tidak lazim. Kendaraan roda dua ini diklaim lebih stylist dan setangnya pun sedikit berbeda. “Ada yang tinggi dan ada pula yang melebar ke samping,” jelas Jerink, salah satu personel klub low rider di Kuta, Denpasar, Bali, belum lama ini.

Kesulitan kerap dialami para pengguna sepeda low rider. Jerink mengaku, sparepart sepeda unik ini sangat sulit didapat. Untuk membuat satu sepeda low rider dibutuhkan waktu dua bulan dengan biaya antara Rp 1 juta sampai Rp 2 juta. “Kalau di luar negeri bisa mencapai ribuan dollar,” tutur pria yang juga personel grup punk rock Superman is Dead (SID).

Selain untuk kesehatan, mengendarai sepeda low rider juga memiliki tujuan mulia. Menurut Eka, bersepeda low rider dapat mengurangi polusi. Tentunya untuk mencegah dampak terburuk, seperti global warming atau pemanasan global. Menurut pembetot bas SID ini, setidaknya dengan memakai sepeda lowrider dapat mengurangi jumlah kendaraan bermotor yang kini semakin menjamur.(REN/Tim Liputan 6 SCTV)

————————————————————————————————

36. Mulai Gaya Ceper Hingga Gaya Coper

09:24, 30/03/2010

CEPER: Komunitas Monkey Bike memamerkan sepeda ceper. // andri ginting/sumut pos

Monkey Bike, Komunitas yang Suka Modifikasi Sepeda

Modifikasi tak hanya mobil dan sepeda motor. Sepeda juga bisa dimodifikasi mulai dari model ceper dengan stang tinggi dan panjang. Seperti apa?

Ari Sisworo, Medan

Komunitas yang memodifikasi sepeda di Kota Medan jumlahnya belum begitu banyak. Bahkan sampai sekarang baru satu komunitas yakni Monkey Bike. Pendiri dan pemrakarsa Monkey Bike adalah Dedi, lajang yang berasal dari Bandung, Jawa Barat
Menurut lajang berusia 30 tahun tersebut, berdirinya Monkey Bike sebenarnya tanpa sengaja.

Saat dia datang ke Medan di tahun 2006 silam, ia membawa sebuah sepada ceper (lowrider). Awalnya anak-anak Medan acuh dan bahkan mengejek sepedanya. Namun lambat laun, mata para remaja Medan terperangah saat sebuah band terkenal asal Bali menampilkan sepeda lowrider di sebuah video klip beberapa tahun lalu. Nah, menurut Dedi, setelah itu barulah banyak anak Medan yang berminat dan berniat untuk membeli sepeda tersebut.

“Waktu itu, jika ada yang pengen beli sepeda lowrider, ya melalui saya. Baru, saya pesan ke Bandung. Karena saat itu di Bandung sudah ada bengkel sepeda yang khusus membuat jenis sepeda ini. Di Medan belum ada,” ungkapnya.

Satu per satu para remaja Medan mulai menggemari sepeda tersebut. Jumlahnya pun semakin banyak. Akhirnya dia dengan beberapa teman bersepakat untuk membentuk sebuah komunitas pada 27 Februari 2008 silam.

“Sekarang sudah ada sekitar 50 orang anggota tetapnya, dan selalu mangkal di Lapangan Merdeka Medan setiap hari Minggu dari pukul 07.00 WIB sampai pukul 10.00 WIB,” katanya lagi.

Lowrider masuk ke Indonesia akhir tahun 70-an. Waktu itu peredaran atau penyebarannya terbilang lebih sedikit dibandingkan sepeda jenis ontel, MTB, mini dan BMX. Dari Indonesia merek yang terkenal adalah Benny Indonesia, dari Jepang terkenal dengan merk Benny Japan, Fuji Feather dan lain-lain, negara Cina dengan Phoenix dan negara benua barat dengan Schwinn (Chicago AS), Raleigh (Inggris), Stelber (Amerika), Murray (Amerika), Western Flyer (Amerika) atau pun dari Lowrider Bicycle Inc (Amerika/Australia).

“Ada banyak merek sepeda lowrider, ada dari Amerika, Jepang, Inggris serta ada juga yang buatan Indonesia yakni Benny Indonesia,” terang Dedi.
Menyangkut perkembangan sepeda lowrider, sekitar tahun 2003 seiring dengan banyaknya pemakai dan pemodifikasi sepeda motor yang tertarik memainkan sepeda jenis ini, aliran lowrider pun mulai banyak dikuti sebagai dasar memodifikasi sepeda.

Ada beberapa jenis modifikasi yang ada pada jenis sepeda ceper antara lain lowrider biasa, choper atau yang spesifikasinya menyerupai sepeda motor harley davidson. Kemudian jenis limo yakni, sepeda yang ceper dan berbodi panjang.

Menyangkut prestasi, dalam perjalanannya selama dua tahun ini, Monkey Bike telah mengikuti beberapa even modifikasi seperti Kontes Lowrider yang diadakan oleh PT Alpa Scorpii pada tahun 2009 lalu. Saat itu, Monkey Bike merengkuh juara 1 untuk kelas Lowrider dan juara 2 untuk kelas Choper.

“Di Istana Maimoon 2008 lalu, Monkey Bike pun sempat mengikuti kontes sepeda ceper. Hanya saja karena belum solid waktu itu, belum dapat juara,” katanya.

Dalam jangka waktu dekat, Monkey Bike telah mempersiapkan diri untuk mengikuti beberapa kontes yakni pada 24 April mendatang di Lapangan Udara (Lanud) TNI AU Medan.

Selain mengikuti kontes, Monkey Bike juga telah tampil menjadi bintang tamu di beberapa even seperti sebagai bintang tamu untuk foto pra wedding salah satu pasangan muda Medan. Tahun 2009, menjadi bintang tamu dalam acara yang diadakan oleh salah satu media di Medan.
Selain mengikuti kontes dan menjadi bintang tamu, Monkey Bike dengan para anggotanya sering melakukan touring-touring. Hanya saja, touring yang dilakukan tidak terlalu jauh. Masih sebatas area Medan dan luar kota saja seperti Binjai, Berastagi, Pantai Cermin dan beberapa kota lainnya.
“Kalau mau jalan-jalan, biasanya tergantung kesepakatan anggota. Mau kemana dan kapan waktunya. Harus disesuaikan waktunya dulu, karena anggota Monkey Bike banyak yang sekolah dan kuliah,” terangnya.(*)

————————————————————————————————

Sabtu, 08 November 2008 , 10:07:00

37. Komunitas Pecinta Sepeda Lowrider
Kecil Tapi Indah

Kreatifitas emang tak akan pernah mati. Begitu pula dengan perkembangan kreatifitas anak-anak muda Pontianak. Salah satu yang tampaknya penuh dengan ide-ide kreatif itu adalah komunitas pecinta sepeda unik.

Kesan yang unik ditampilkan sepeda-sepeda lowrider yang akhir-akhir ini sering terlihat mondar mandir di jalanan kota Pontianak. Lowrider alias kendaraan ceper emang lagi digandrungi oleh remaja, khususnya lowrider bicycle, sebutan bagi sepeda hasil modifikasi.Belakangan trend naik sepeda bukan cuma untuk olahraga yang menyehatkan, tapi sudah bergeser menjadi arena bergaya.

Istilah lowrider muncul sebab pengendara sepeda ini duduk di sadel yang lebih rendah dibanding sepeda lain alias ceper, sedangkan bentuknya terserah si pemilik mau dimodif seperti apa. Secara umum sepeda lowrider punya bentuk melengkung yang biasa disebut busur atau rainbow pada bagian tengah sasisnya. Terus ada juga yang disebut sepeda cewek ditandai dengan bentuk sasisnya landai melengkung ke bawah.

Di Pontianak komunitas lowrider udah terbentuk, salah satunya yang diberi nama Pontianak Lowrider. Komunitas ini terbentuk sekitar awal 2008, awalnya Pontianak Lowrider terbentuk dari kegemaran anak-anak muda di komplek Perdana untuk memodif sepeda.

Karena kesamaan hobi itulah akhirnya mereka sepakat untuk membentuk komunitas lowrider. Semakin lama komunitas ini nggak hanya terkenal di kalangan anak-anak komplek tersebut, hingga kini jumlah anggota yang tergabung ada sekitar 50 orang lebih yang biasa bermarkas di Perdana.

Berbagai kegiatan dan event pun diikuti oleh pencinta sepeda jenis ini meski nggak sebanyak di pulau Jawa seperti Bandung, Jakarta, Jogja dan Bali yang sudah sering mengadakan lowrider contest. Di Pontianak, lowrider baru pada tahap fun bike, dimana komunitasnya berkumpul dan melakukan touring, jalan dan ngeceng.

“Senin malam adalah jadwal rutin kami buat ngumpul dan jalan-jalan. Biasanya kami rolling mengitari jalan-jalan seperti A. Yani, PSP, Kota Baru dan lainnya. Jalan-jalan santai, enjoy, sesuai dengan slogan kita slow and low,” ujar Dwi Sutiono, salah satu anggota Pontianak Lowrider ini. Berbagai event fun bike yang diadakan di Korem, GOR dan lain-lain dalam rangka memperingati hari-hari besar pun mereka ikuti.

Jenis sepeda lowrider yang ada beragam, ada yang jenis classic, old scool, extreme, limo, basman, standar dan jenis lainnya. Di Pontianak Lowrider sendiri jenis yang paling banyak adalah classic.

Konon nih sepeda lowrider pertama kali muncul di Amerika di sekitar tahun 60- an pada saat mobil ceper lagi jadi trend di kalangan anak mudanya. Tapi karena tidak semua punya mobil akhirnya muncul ide modifikasi sepeda, seperti layaknya mobil ceper. Malah bukan hanya ketinggiannya dipendekin, bagian lain sepeda juga didandanin, karena bentuknya yang unik sepeda ceper pun akhirnya jadi trend tersendiri yang meluas ke penjuru dunia termasuk Indonesia. Bisa dibilang sejak sekitar tahun 2005 komunitas pencinta sepeda unik ini mulai menjamur ke tanah air.

Walau terlihat sederhana, penghobi lowrider harus siap merogoh kocek, paling tidak harus siap dana minimal 1,5 juta. “Untuk satu sepeda dan modifikasinya dana yang dibutuhkan berkisar 1 juta sampe 5 juta,” ujar Dwi yang udah memiliki dua sepeda ini. Bagi penggemarnya dana yang dikeluarkan mungkin nggak terlalu jadi masalah, yang penting sepeda kesayangan mereka tampil cantik, seksi dan unik. (sya)

————————————————————————————————

Balikpapan, Minggu, 19 April 2009 , 11:54:00

38. Trend Sepeda Low Rider

HOBI bersepeda kini mulai menjamur di kalangan masyarakat, namun ada yang lebih menarik dari sekadar bersepeda yaitu Low Rider. Trend sepeda Low Rider tampaknya sudah menjalar ke kalangan anak muda Balikpapan. Ketika ditemui Post Metro baru-baru ini, club sepeda yang bernamakan The Outsiders ini mengaku sudah eksis di Balikpapan sejak tahun 2007 lalu. Ketua The Outsiders, Dwi Phentol menjelaskan bahwa aliran sepeda Low Rider ini berasal dari Amerika Serikat dan sudah eksis dari tahun 80-an. yang kemudian berkembang hingga menyebar ke seluruh dunia.

Penthol mengaku ketertarikan dirinya dan teman-temannya terhadap sepeda Low Rider, karena bentuk dari sepeda tersebut sangatlah unik. Bentuknya tidak seperti lazimnya sepeda biasa, namun lebih ekstrem dengan bentuk rangka yang menyerupai motor Harley.

Penthol menjelaskan bahwa klubnya saat ini hanya beranggotakan 15 orang. Diakuinya, untuk di Balikpapan sendiri sebenarnya banyak yang memiliki sepeda Low Rider hanya saja ia tidak bisa menjelaskan mengapa yang lain tidak mau bergabung di klub The Outsiders. Dan ia berharap kepada seluruh masyarakat yang memiliki sepeda Low Rider agar bergabung dengan klubnya. Sehingga klubnya ini dapat lebih berkembang dan berkreasi.

Club yang sering mangkal di depan heliped lapangan Merdeka , mengaku saat ini terkendala dengan kurangnya spare part sepeda yang tersedia di Balikpapan. Untuk mendapatkan spare part sepeda harus memesan dari pulau Jawa yang kita ketahui lebih dahulu diserang trend sepeda Low Rider.

Penthol mengaku bahwa untuk turun ke hobby sepeda Low Rider memerlukan dana yang besar. Paling tidak minimal dana yang dikeluarkan sebesar 2 juta. Itu saja hanya sepeda Low Rider yang standar saja. Sedangkan untuk yang berkualitas bagus atau costum paling tidak harus dikeluarkan dana sebesar 5 juta hingga tidak terbatas.

Penthol menjelaskan bahwa sepeda Low Rider memiliki banyak jenis aliran yang berbeda. Aliran tersebut terlihat dari bentuk frame (rangka) sepeda. Misalnya Classic, Cruiser, Limo, Basman, dan Trike dan untuk ukuran rodanya sendiri masih terbagi menjadi beberapa bagian yakni jenis roda 16 inchi, 20 inchi, 24 inchi dan 26 inchi.

Diakui penthol sebenarnya banyak sekali anak muda yang ingin bergabung untuk memiliki sepeda Low Rider. Hanya saja mungkin terkendala dana yang cukup besar maka anak muda tersebut mengurungkan niatnya untuk memiliki sepeda Low Rider. Ia mengungkapkan kembali jika ada yang berniat untuk bergabung dengan klubnya tinggal datang saja ke depan helipad setiap hari minggu pukul 17.00 Wita.

Dilanjutkan kembali jika ada yang berniat untuk membangun sepeda Low Rider maka pihaknya akan bersedia membantu dari awal merakit hingga sepeda tersebut berdiri. (bm 10)

————————————————————————————————

Selasa, 27 Oktober 2009 Views 706 Times

39. Ratusan Lowrider Ngumpul di UrbanFest 2009

Bukan D’Masiv atau Seringai yang mencuri perhatian pengunjung UrbanFest 2009. Melainkan sebuah sepeda!

( Penulis : Reza Naidra )

Ya. Di hari kedua (25/10) pelaksanaan acara UrbanFest 2009, para pengunjung kedatangan tamu spesial. Bukan band tenar atau pun selebritis. Tapi sepeda.

Sejak siang hari, sekitar 150-an sepeda lowrider dari Jakarta dan Bandung mejeng di area belakang dari main stage acara. Sepeda-sepeda tersebut terlihat kinclong terpampang di tengah jalan.

Sayangnya, sepeda lowrider tersebut nggak bisa dipinjam untuk berkeliling. Cuma pemilik lowrider aja yang bisa mengendarai sepeda unik keliling Pasar Seni, Ancol. Jadi, kebanyakan pengunjung hanya bisa melihat lowrider tanpa bisa mengowesnya. FOTO: IMAM TAJUDIN/HAI

————————————————————————————————

Kamis, 14 Januari 2010

40. LOW RIDER ‘MENJAMUR’ DI BANDUNG

Sepeda dengan banyak keunikan ini mempunyai pesona tersendiri di dalamnya. Dengan tambahan krom yang mengkilat menjadikan sepeda ini mewah dan mempunyai arogansi tersendiri terhadap pemakainya. Adalah lowrider bike yang mempunyai aroma life style yang memikat hati. Yes, this is new bikes on the block!.

Bersepeda adalah hal yang mengasyikan, apalagi dengan sepeda yang tak biasa. Selain mengasyikan sepeda adalah alat transportasi yang ramah lingkungan dan membantu mengurangi energi yang mengakibatkan global warming. Sekarang ini sepeda sedang menjamur di Indonesia, Bandung salah satunya. Komunitas sepeda memang sedang ‘eksis’ di Bandung, dari mulai sepeda onthel yang ‘jadul’ sampai sepeda bling bling. Perkenalkan inilah lowrider bike jenis sepeda dengan seribu kemewahan di dalamnya. Mempunyai daya pikat yang tinggi menjadikan lowrider berbeda dengan sepeda lainnya. Sejarah low rider dimulai sebagai elemen budaya Chicano Americans atau bagian dari street culture di Amerika yang masih menjadi bagian dari imigran Meksiko. Lowrider telah menjadi produk urban culture, dan crossover antara Harley dan cruiser bikes. Biasanya lowrider biasa ditemui dalam parade atau karnival orang-orang Amerika. Adalah George Barris yang mengenalkan sepeda ’ceper’ ini di tahun 1960-an. Barris aslinya adalah ahli modifikasi mobil ceper, yang saat itu memang sedang ‘ngetren banget’ di Amerika. Karena hobi mobil lowrider hanya bisa dilakukan orang-orang kaya, akhirnya Barris terpikir untuk membuat sepeda ‘ceper’ agar semua orang bisa menikmati sensasi memodifikasi kereta angin itu. Ternyata, banyak warga Amerika yang menyukai ide Barris, terutama warga kulit hitam dan latin asal Meksiko. Melihat semangat Barris, akhirnya pabrik sepeda Schwiin mengeluarkan model sepeda lowrider yang dinamakan New Cruiser Sting Ray, pada tahun 1964. Melihat antusiasme penduduk latin dan kulit hitam Amerika, Schwiin juga menambahkan lapisan krom agar terlihat semakin bling bling sebagai ciri khas mereka. Lowrider bikes adalah versi pedal dari motor chopper dalam film youth-cult fenomenal asal Amerika, “Easy Rider”. Menurut Indra Pranajaya (38), salah seorang dari komunitas dan builder lowrider di Bandung perkembangan sepeda ceper ini di Indonesia dimulai tahun 2006, “Lowrider bikes di Indonesia sih ramenya baru sekitar tahun 2006 di kota besar seperti Jakarta, Bali, dan di Bandung sendiri komunitasnya berdiri bulan Februari 2006”, paparnya. Lowrider bikes menurut Indra lebih menonjol pada estetikanya dan yang paling penting adalah penampilan atau posser. Ciri fisik lowrider adalah memiliki setang yang tinggi (ape hanger) dan garpu depan yang panjang yang hampir menyentuh tanah.Adapun jok yang dipakai adalah jok model pisang (banana seat) dengan sandaran (sissy bar) dari besi. Kerangka sepeda biasanya menggunakan model pelangi (rainbow bent frame). Frame untuk lowrider dapat dicari di toko loak dan para builder lowrider siap membuat hand made lowrider sesuai pesanan. Keunikan dari sepeda ini sebenarnya terletak pada kreatifitas si pemakai dalam melakukan modifikasi. Tidak heran kalau pengendaranya sering terlihat bangga dengan sepedanya.
Selain itu, pemilik biasanya memberikan tambahan aksesori lain seperti penutup pentil ban, rumbai-rumbai, serta kaca spion khas sepeda motor Harley-Davidson. Aksesori itu dilengkapi dengan logo khas sepeda lowrider seperti orang tersenyum, mata dadu, atau angka delapan pada bola biliar. Memang lowrider bukan sepeda yang digunakan untuk berolah raga ataupun transportasi, sekarang ini lowrider hanya digunakan untuk ‘gaya-gayaan’ saja. Kini dikala sepeda menjadi life style yang sedang marak dan mengangkat citra pemakainya, para pemilik lowrider akan terus memuaskan diri dengan sepeda mewahnya itu. Menurut Lembang (20) lowrider mempunyai sihir di dalamnya, “Saya cinta sepeda ini, kalau saya sendiri memang tidak mempunyai biaya yang tinggi dan tidak membuat sepeda yang terlalu mewah dengan bling bling yang membuat silau tetapi dengan sedikit gaya karatan nan garang menjadikan sepeda berbeda dari sepeda lowrider lain” papar Lembang. Kreatifitas sang pemilik lowrider tidak dituntut untuk selalu mewah, seperti Lembang yang memodifikasi sepedanya sesuai karakter sepeda yang ia sukai.
Mengenai harga, lowrider sendiri memang berbeda dibanding sepeda lainnya. Spare part yang sulit terkadang membuat sepeda ini menjadi mahal, “Kalau sepeda yang standar sih sekitar 2-3 jutaan, kalau yang untuk kontes harnya 5 juta ke atas. Apalagi kalau pakai golden, soalnya emas kan pasti mahal ya jadi di tas 5 jutaan” tutur Indra sang builder.
Untuk itu, dengan harga lowrider yang berbeda dibandingkan sepeda lain membuat sepeda ini mempunyai gengsi tersendiri terhadap sang pemakainya. Tak sekedar kumpul kumpul dan jalan bareng, para komunitas lowrider kerap menyelenggarakan kontes lowrider bike yang bertaraf nasional bahkan internasional. Meningkatnya peminat sepeda membuat para builder lowrider merogok untung yang tidak sedikit. Lowrider merupakan sepeda yang dijadikan gaya hidup penuh pesona di kalangan komunitas sepeda yang ada. Orang akan terperanga dengan keunikan sepeda ini. Yes, this is bling bling bike!.

http://nyzganggas.blogspot.com

————————————————————————————————

Tuesday, 12 January 2010 19:57

41. Butuh ‘smart’ untuk ubah si ‘Monkey Bike’


WASPADA ONLINE

MEDAN – Low rider bike atau sepeda ceper bukanlah sepeda yang diciptakan untuk beratraksi, namun lebih karena modifikasi dan condong ke arah sepeda kontes. Itulah yang membuat modifikasi gila-gilaan dibutuhkan untuk mempercantik kendaraan kayuh ini.

Seperti yang terlihat di sekretariat komunitas low rider ‘Monkey Bike‘, di Jalan Gedung Arca Pajak Harapan No.1, Medan. Berjejer-jejer sepeda monyet, sebutan sepeda low rider, dengan berbagai modifikasi diparkir rapih.

Pendiri Monkey Bike, Dedi Setiawan mengungkapkan, ada empat jenis modifikasi yang biasa dikenal dalam low rider bike yaitu low rider, limo, chopper, dan closer. “Dari ke empat jenis tadi, yang paling mahal biaya modifnya adalah limo”, tuturnya kepada Waspada Online ketika disinggung mengenai jenis lowrider mana yang paling mahal.

Biaya yang dikeluarkan untuk memodifikasi sepeda-sepeda monyet ini memang tak bisa dikatakan sedikit, yaitu sekitar Rp1,5 – 5 juta. Ditambah lagi bukan perkara mudah untuk mencari tempat dan suku cadang yang bisa menyulap sepeda tak biasa ini menjadi lebih menakjubkan.

Bengkel Opung di daerah Marelan pun jadi sasaran para biker ini demi mendapatkan hasil paling maksimal. “Kalau suku cadang kami lebih sering mengambil dari Bandung karena kualitasnya memang udah jelas, kalo barang buatan Cina ada juga, cuma masih kalah sama Bandung”, jelas Dedi.

Sebenarnya, sepeda jenis apapun bisa dijadikan lowrider, budget-nya pun tidak perlu harus jutaan. Yang penting adalah biker harus pintar memutar otak untuk modifikasi sehingga tidak perlu menghabiskan biaya jutaan. Karena komunitas ini tak ingin di cap hanya untuk orang-orang menengah ke atas. Namun, jika memang lebih suka dengan modifikasi ala mahal tentu saja tak ada yang bisa melarang.

Modifikasi sepeda monyet ini biasanya mengikuti si empunya, sehingga dapat dikatakan bahwa pencitraan biker dapat dilihat dari sepeda yang ditungganginya. Sebagai contoh, jika biker tersebut adalah penyuka style gothic maka sepedanya pun tidak akan jauh-jauh dari tema gothic. Untuk variasi modifikasi sepeda monyet ini, para low rider biker ini biasa memanfaatkan informasi dari internet sebagai sumber inspirasi.

Tak jarang jika sepeda hasil modifikasi ini sudah berkumpul, banyak orang yang berniat membelinya, tentu saja harganya di atas harga modifikasi. Sehingga tidak menutup kemungkinan bisnis jual beli sepeda monyet pun dijabani para bikers.
(dat08/wol-mdn)

————————————————————————————————

42. KOMUNITAS SEPEDA LOWRIDER MEDAN CINTA LINGKUNGAN

Medan, 7/1 (www.antarasumut.com) – Komunitas sepeda Monkey Bike Lowriders Medan bukan hanya bekumpul untuk menyalurkan hobi melainkan juga bentuk rasa peduli terhadap dampak krisis lingkungan .

Ketika ditemui antarasumut.com, Rabu, Dedy, Ketua Monkey Bike Lowrider Medan, mengatakan tertarik dengan sepeda lowrider karena sepeda lowrider ramah lingkungan juga menyehatkan.

Komunitas yang terbentuk pada tahun 2007, dalam aktifitasnya juga ingin mengajak kepada masyarakat Medan untuk bersepeda. “Selain ramah lingkungan juga menyehatkan,” katanya.

Dedy menambahkan, pada setiap hari minggu Monkey Bike lowrider selalu mengkampanyekan peduli lingkungan di sekitar kota Medan, dengan cara parade dan pawai beramai-ramai.

“Bayangkan jika sebagian besar orang menggunakan sepeda dalam melakukan aktivitasnya, secara otomatis penggunaan kendaraan bermotor akan berkurang dan polusi bisa ditekan,”tuturnya.

Dedy menambahkan, kendati sampai saat ini anggotanya baru berjumlah 30 orang, namun tidak menutup peluang akan muncul anggota-anggota baru.

“Selain tidak berpolusi, dengan menggunakan sepeda, seluruh tubuh kita akan bergerak. Yah,hitung-hitung olahraga,” kata Dedy berpromosi. (S03MOS/R02MOS)

————————————————————————————————

Jendela
43. Low Rider yang Menarik dan Unik
Jumat, 07 Mei 2010
ImageMemiliki bentuk unik dengan ciri khas lengkungan pada rangka menjadikan sepeda low rider mudah dikenali. Keberadaannya di jalan raya acap menarik perhatian bagi siapa pun yang melihatnya. Perkumpulan penggemar sepeda jenis ini pun semakin banyak ditemukan terutama di kawasan Jabotabek.Adalah Sandi Boyke Cahya Putra yang biasa disapa Ali, salah seorang yang kepincut dengan sepeda low rider. Bermula menonton tayangan video, pemuda kelahiran Jakarta ini langsung memburu sepeda low rider sejak tiga tahun lalu.Kini ia telah memiliki delapan unit sepeda low rider berbagai jenis dan bentuk seperti jenis cruiser, dan limo. Setiap hari ia menghabiskan sisa waktunya untuk merawat sepeda-sepeda kesayangannya. Bahkan hoby baru ini ditularkan pada anak dan istrinya.Dari tahun ke tahun, jumlah penggemar sepeda ini terus bertambah. Mereka pun membentuk perkumpulan di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi seperti Ciledug City Cycle. Di Jabodetabek telah terbentuk sedikitnya 14 kelompok sepeda low rider dengan anggota mulai anak-anak, remaja, hingga dewasa. Dari perkumpulan tersebut mereka sering berkumpul untuk berbagai informasi dan touring ke berbagai wilayah Jakarta seperti kawasan HI dan kawasan gelora Bung Karno.

Keberadaan sepeda low rider juga menjadi lahan rejeki bagi Yudi Kartono, pemilik bengkel khusus sepeda ini. Berbagai bentuk yang unik telah dikerjakannya hingga membuat sepeda yang semula tidak layak pakai, menjadi sepeda yang enak dipandang dan menarik. Banyak penggemar sepeda low rider datang padanya untuk sekedar memperbaiki kerusakan kecil, hingga minta merombak bentuk sepeda.

Bagaimana keunikan sepeda low rider? Apa saja yang menjadi kebanggaan saat mengendarai sepeda unik ini? Lalu bagaimana perawatan dan cara mencapatkan sepeda yang berasal dari Amerika tersebut? Saksikan Jendela: “Low Rider yang Unik dan Menarik”

ImageImageImage

Tayang Sabtu, 8 Mei 2010 Pkl 11:00 WIB.

————————————————————————————————

44. Gayanya Komunitas Sepeda Lowrider

Subhan Hardi/ Firman

Senin, 19 April 2010 11:12

Komunitas JSL mejeng di Thamrin/ dokKomunitas JSL mejeng di Thamrin/ dokHAL yang wajar jika sebuah komunitas memiliki ciri khas dan keunikannya masing-masing agar perbedaan tersebut menjadi daya tarik tersendiri. Tentunya, dengan tampil beda eksistensi mereka menjadi lebih diakui antara sesama komunitas. Yups..!

Adalah Jakarta Street Lowrider (JSL) yang menjadi wadah bagi para penggemar sepeda lowrider. Atau sepeda asal negeri Paman Sam yang memiliki fitur bodi panjang melengkung (kursi pisang) dengan setang tinggi (apehangers), Krom berlebihan serta suspensi (springer) di roda depan maupun di bawah jok panjang dari beludru. Namanya juga penggemar, jadi sepeda yang digunakan rata-rata sepeda custom atau modifikasi menyerupai sepeda lowrider asli buatan Amerika.

gaya dulu ah..!/ dokgaya dulu ah..!/ dokUniknya, komunitas yang terbentuk 6 Juni 2006 (triple six) mengakui bahwa sepeda ‘langka’ yang mereka tunggangi jauh dari rasa nyaman. Karena rata-rata model custom-nya ceper (rendah), maka dibutuhkan sedikit pengorbanan tenaga dan gerakan kayuh yang sedikit tidak normal dibanding sepeda-sepeda pada umumnya.

Sehingga, konsekwensinya badan pegal-pegal yang selalu diterima oleh komunitas beranggotakan sekitar 150 orang ini, menjadi hal yang wajar. Walaupun harus menempuh puluhan kilometer untuk melaksanakan ritual kumpul-kumpul di setiap hari Minggu pagi di GOR Bung Karno, Senayan ataupun sekedar keliling-keliling kota Jakarta.

Sepeda modif JSL nagkring di area parkir dadakan/ dokSepeda modif JSL nagkring di area parkir dadakan/ dok”Kalau pegal-pegal sudah biasa, paling besoknya teman-teman pada pijat-pijat atau urut badan, karena sepeda ini memang tidak dirancang dari segi kenyamanan tapi ngandelin gaya. Meski gak nyaman yang penting kan gaya,” ujar Hedot, ketua komunitas JSL pengendara sepeda Schwinn jenis tornado (buatan Amerika 1976) yang di Indonesia didaulat sebagai ‘Mbah’-nya sepeda lowrider kepada TNOL.

Logo JSL/dok Logo JSL/dok Namun, sepeda lokal bahkan sepeda ontel sekalipun bisa disulap menjadi sepeda lowrider. Asalkan melakukan sedikit modifikasi dari tiga unsur pentingnya yaitu, springer (sok breker depan dan umumnya melengkung), jok pengendara yang dibuat panjang. Serta rangka tengah hingga kebelakang melengkung (rainbow bent frame) jika mungkin ditambahkan per di bawah jok pengendara.

“Untuk di Jakarta sendiri, modifikasinya belum ada yang diatas Rp10 juta, dan custom-nya bebas tergantung maunya si pemilik. Komunitas kita juga gak harus punya sepeda jenis ini, tapi yang penting dia senang dengan sepeda lowrider dan bisa nyambung dengan komunitas kita,” tambah Hedot.

Komunitas JSL selalu kompak/ dokKomunitas JSL selalu kompak/ dokUntungnya, komunikasi erat yang terjalin antar anggotanya, membuat modifikasi sepeda-sepeda ini menjadi lebih mudah dan murah untuk diperoleh. Karena, mereka memiliki satu bengkel tersendiri yang bisa menampung aspirasi dan keinginan modifikasi para anggota dengan suku cadang yang selalu tersedia dan harga yang lebih terjangkau.

“Kebanyakan, sepeda-sepeda lowrider ini berasal dari sepeda lama. Karena, sepeda lama itu sudah mirip sekali dengan desain sepeda lowrider aslinya, hanya perlu sedikit di modifikasi di bagian rangka bodi dan garpu depannya saja. Agar kelihatan lebih ‘wah, bisa di krom atau bisa juga di modif menjadi roda tiga,” tambah Hedot memastikan.

————————————————————————————————

45. Si Ceper Representasi Urban Culture

Jakarta | Monday, 16/11/2009 15:40 WIB | Oleh: Ibrahim Ajie
Ilustrasi Gaya Hidup

Foto: Decool

Komunitas motor dan komunitas mobil di Indonesia kini sudah banyak dikenal masyarakat. Sekarang giliran komunitas pecinta sepeda yang mulai menggeliat dan menunjukkan hasil karyanya di dunia lifestyle sport.

Kalau diperhatikan lagi, trend dalam dunia lifestyle sport bergeser pada dunia lowrider. Yakni, sepeda dengan modifikasi khusus ala motor Choppers membuat dunia serasa jadi orang Chicano. Komunitas-komunitas lowrider pun banyak ditemukan di beberapa kota besar seperti Bandung, Bali, dan Jakarta.

Salah satunya adalah komunitas lowrider Lonely King asal Bali yang dikomandoi oleh Jerinx, drummer Superman Is Dead. Dengan berbagai modifikasi dan style, maka geliat anak muda semakin terasa menggembirakan. Setidaknya ini adalah nafas segar buat style anak muda saat ini. Selain skate dan BMX, setidaknya lowrider adalah gaya anak muda urban yang selalu ingin tampil funky.

Lowrider bermula sebagai elemen budaya Chicano Americans atau bagian dari street culture di Amerika yang masih menjadi bagian dari imigran Meksiko. Lowrider telah menjadi produk urban culture, dan crossover antara Harley dan cruiser bikes. Biasanya lowrider dapat ditemui dalam parade atau karnival orang-orang Amerika.

Popularitas lowrider mulai menanjak pada akhir tahun 70-an karena penggabungan dua kultur antara Califoria car culture dengan Mexican culture. Lowrider seringkali dikaitkan dengan produk-produk budaya Chicano lainnya macam Chevy Impala/ Impala SS, Chevy’s, Tattoo’s, Zootsuits. Pachuco’s, dan Zootsuit Riots.

Dengan penampilan yang tak kalah nyentrik,mereka menunjukkan jati diri berbeda. Sepeda ceper zaman ’70-an yang dimodifikasi dengan berbagai gaya baru yang unik. Setang panjang model chooper, sedangkan bodi hingga ban dibuat klasik, dengan permainan warna-warni yang cerah.

Style sepeda menunjukkan jiwa muda yang penuh gaya. Dan komunitas-komunitas pecinta lowrider yang berada di Jakarta semakin banyak. Untuk Jakarta saja, yang tergabung dalam komunitas Jakarta Street Low Rider mencapai 400 orang. Masing-masing orang umumnya memiliki beberapa sepeda.

Komunitas yang terbagi dalam beberapa wilayah atau yang biasa disebut chapter. Dan di Jakarta sendiri memilik enam chapter sesuai dengan pembagian wilayah kota Jakarta itu sendiri.

Sunset Riders
Lowrider sendiri merupakan representasi urban culture, jadi sepeda ini seringkali dipakai untuk rileks setelah capek kerja. Komunitasnya memiliki jumlah yang banyak dan seringkali ditemui pada akhir pekan atau hari libur.

Dan hal ini seperti yang dilakukan Sunset Riders, yakni salah satu komunitas lowrider yang berada di chapter Pusat. Komunitas lowrider yang terbentuk sejak pertengahan tahun 2006 ini biasanya jalan-jalan bareng ke sebuah tempat seperti wilayah Cikini, Menteng, ataupun Jalan MH Thamrin tiap Sabtu malam.

Dan tidak hanya itu komuntas ini juga kerap mengikuti kontes, hunting barang-barang sepeda, hingga membuat sepeda sendiri, adalah kegiatan yang sering dilakukan para anggota komunitas Sunset Riders. Para anggota komunitas ini sering sekali memproduksi atau memodifikasi sepeda-sepeda yang mereka miliki.

Melihat keunikan yang ada pada sepeda-sepeda kecil itu, tentunya mengusik rasa ingin tahu. Berapa banyak biaya yang dibutuhkan untuk kepuasan tersebut. Rata-rata si pemilik sepeda itu bukan sekadar punya. Seperti Gandung salah satu anggota Sunset Riders yang rela mengeluarkan uangnya hingga 2-3 juta.

Namun harga itu menurut dia tergolong murah. Sebab, bila ingin membeli sepeda yang langsung jadi, harganya lumayan mahal. Untuk order satu sepeda orisinal dari produsen luar negeri, harganya bisa mencapai Rp8-12 juta. Meskipun mahal, ternyata barang itu sangat ringkih.Dan tidak jarang Gandung dan para anggota Sunset Rider lainnya berburu batangan sepeda sebagai bahan baku modifikasi sepeda yang diidam-idamkan.

Mulai dari tukang cendol dan sepeda anak kecil sudah pernah jadi incaran Gandung dan teman-temannya. Gandung mengungkapkan untuk mendapat batangan sepeda yang bagus dan kuat agak sedikit sulit didapatkan. “Yah, kalo di jalanan ada seperti sepeda anak kecil saya buru langsung memburu barang itu,” ujar Gandung.

Hobi yang tidak murah ini memberikan alternatif baru bagi para pecinta lifestyle sport. Dan hal ini merupakan pergeseran budaya barat, dan menjadi urban culture yang semakin banyak di kota-kota besar.

————————————————————————————————

Kamis, 23/07/2009 10:20 WIB
46. Duduluran Melalui Komunitas Lowrider
Ema Nur Arifah – detikBandung

Bandung – Meski penggunanya masih terbilang jarang, tapi dari tahun ke tahun penggemar sepeda jenis lowrider sepertinya kian bertambah. Mereka tergabung dalam komunitas-komunitas yang bisa menjadi wadah untuk menyalurkan hobi ‘mengayuh’ si unik ini.

Kegiatannya cukup sederhana. Seperti komunitas R2 Team Cruiser, Bandung yang hanya melakukan tur lowrider satu hanya minggu sekali. “Kita keliling Bandung setiap Kamis malam. Start dari markas di Jalan Rambutan No 2 jam 10 malam, kemudian keliling Kota Bandung sampai jam 1 atau 2 malam,” tutur Sapto Aji (32), pendiri R2 Team Cruiser Bandung sekaligus perakit dan konsultan lowrider.

Malam hari dipilih untuk kegiatan touring, karena menurut Aji anggota R2 yang jumlahnya sekitar 50 orang kebanyakan adalah pekerja. Tentu saja waktu luang mereka hanya ada di malam hari. Walaupun malam Jumat yang dipilih nggak ada tuh hubungannya dengan mitos apapun.

Selain touring, komunitas lowrider yang berdiri tahun lalu ini, juga sering melakukan kumpulan. Saat berkumpul inilah jadi momen untuk bertukar pikiran seputar lowrider yang mereka miliki.

Mereka biasanya berkumpul di kediaman Aji Jalan Rambutan No 2. Makanya komunitasnya pun dinamakan dengan R2 atau Rambutan No 2. Aji memang yang memprakarsai berdirinya komunitas lowrider ini.

Aji yang sebelumnya tergabung dengan komunitas R2 Racing Team ini, bisa mempengaruhi kawan-kawannya di R2 racing team sehingga mereka melirik juga low rider. Dalam perkembangannya masyarakat umum pun akhirnya bergabung.

Apa sebenarnya target dari komunitas ini? Tentu saja selain untuk ikut mengkampanyekan global warming dengan mensosialisasikan penggunaan sepeda, menurut Aji untuk mempererat tali persaudaraan. Dengan adanya komunitas, bisa memperbanyak teman. “Kita mah lebih ke duduluran (persaudaraan-red),” tandasnya.

(ema/ern)

————————————————————————————————
47. Komunitas Low Rider Indonesia

SEPEDA angin modelnya ceper dengan stang tinggi dan panjang saat ini emang lagi ngetren. Mengadopsi gaya Amerika, bentuknya memang beda sama sepeda umumnya, tapi tetap aja ‘eye catching’.

Di Jogja, namanya yang punya sepeda seperti ini jumlahnya udah buanyak. Bahkan, kalo pas malam minggu, depan Benteng Vredeburgh Jogja selalu dipenuhi pengguna sepeda Low Rider. Mereka punya komunitas sendiri, namanya Low Rider Vredeburg. Kalau disingkat jadi KLOVER.


(foto:dok:bloger)

Salah satu pendiri Klover, Agun alias Arif Gunawan mengatakan, komunitas itu dibentuk sejak bulan April 2008 lalu. Awalnya, Klover menjadi tempat ngumpulnya beberapa anak pecinta sepeda modifikasi bentuk ceper disamakan dengan Moge alias motor gede.

Sekilas kebelakanga, Low Rider masuk ke Indonesia, dimana sepeda jenis ini masuk ke Indonesia sekitar akhir tahun 70an dengan sebutan yang bermacam-macam seperti salah satunya sepeda kumbang mini.

Karena waktu peredaran atau penyebaran yang terbilang sempit kurang lebih sepuluh tahun, menjadikan sepeda jenis ini berjumlah lebih sedikit dibandingkan sepeda jenis ontel, MTB, mini dan BMX. Selain dari Indonesia, kebanyakan sepeda lowrider dengan jenis stingray 20 dan beach cruiser 26 didatangkan (import) dari negara-negara asia seperti jepang dan cina, walaupun terdapat pula sebagian kecil dari benua barat seperti Amerika dan Eropa.


(foto:dok:bloger)

Dari Indonesia merk yang terkenal adalah Benny Indonesia, dari Jepang terkenal dengan merk Benny Japan, Fuji Feather, dan lain-lain, negara Cina dengan Phoenix dan negara benua barat dengan Schwinn (Chicago AS), Raleigh (Inggris), Stelber (Amerika), Murray (Amerika), Western Flyer (Amerika) atau pun dari Lowrider Bicycle Inc (Amerika/Australia).

Aliran Lowrider atau yang sering disebut dengan ceper masuk Indonesia sekitar pertengahan 90an. Pada awalnya Lowrider hanya dilakukan untuk kendaraan bermotor khususnya mobil. Karena modal yang dikeluarkan tidaklah terlalu mahal, banyak yang mengadopsi aliran ini. Pada akhir ‘90 aliran ini banyak diadopsi oleh para pemakai sepeda motor.

Untuk sepeda sendiri tidak ada yang tahu pasti kapan aliran Lowrider mulai diikuti, sekitar tahun 2003 seiring dengan banyaknya pemakai dan pemodifikasi sepeda motor yang tertarik memainkan sepeda jenis ini, aliran lowrider pun mulai banyak dikuti sebagai dasar memodifikasi sepeda.

Pada Waktu itu, Era sepeda gunung atau BMX bisa dibilang sudah lewat. Belakangan yang sedang tren dikalangan penggemar sepeda lokal adalah model low rider. Sepeda yang aslinya berasal dari negeri Paman Sam (AS) kian digilai para penunggang sepeda.
Jumlah komunitasnya kian banyak, dengan background anggota yang beragam. Salah satunya adalah Komunitas Lowriders Tangerang (KOLOT).

Komunitas yang sering nongkrong di pelataran jalan menuju mall Modern Land, Tangerang ini selalu aktif menjejali jalan setiap sabtu sore. Dengan jumlah anggota yang mencapai 20 orang, anggotanya sebagian merupakan pelajar.

————————————————————————————————

Minggu, 03 Oktober 2010 , 12:06:00

48. Si Unik Bergaya Nyentrik

Komunitas Low Rider Bike Balikpapan

BERSEPEDA enggak cuma mengasyikan. Selain untuk kesehatan sepeda juga bebas dari polusi. Bantuk low rider bike emang berbeda dari sepeda kebanyakan. Tapi sepeda yang masuk ke Indonesia sekitar tahun 1970an ini mampu merebut perhatian banyak kalangan. Termasuk Galih, Dwi, Surya, Angga dan Canggih. Kok mereka bisa tertarik? Yuk simak penuturan mereka.

Kenapa Tertarik Low Rider Bike?

Surya : Menurutku unik dan terkesan aneh Unik, terkesan aneh. Waktu itu kebetulan di Balikpapan kedatangan orang yang punya bengkel low rider pertama di Indonesia. Disitu aku langsung sharing sama dia. Tapi aku sebelum dia dating ke Balikpapan.Sekitar tahun 2006 gitu. Aku pertama kali liat di salah satu distro di Balikpapan.

Galih : Aku mulai tertarik sama low rider sejak tahun 2007. Aku ngerasa ada tantangan tersendiri dari bentuknya yang unik. Terus dapat masukan dari low rider kota-kota lain.

Dwi : Sama kayak Galih, aku tertarik dari tahun 2007. Awalnya sih iseng-iseng liat di internet. Ehh enggak lama ngeliat low rider di salah satu toko perkakas yang lumayan lengkap di Balikpapan. Beli deh jadinya, he-he.

Canggih : Kalo aku emang doyan naik sepeda. Nah ditambah lagi sepedanya unik. Sebelum gabung dan punya sepeda low rider aku emang sering ngumpul sama teman-teman low rider buat pinjam sepeda mereka, he-he.

Angga : Framenya beda dari sepeda yang lain, desain yang unik ditambah mengendarainya enggak semudah seperti sepeda kebanyakan. Itu yang bikin aku tertarik dari tiga tahun yang lalu.

Termasuk Hobi Mahal?

Dwi : Relatif sih, buat yang udah kerja mungkin enggak berat. Soalnya kan udah ada penghasilan tetap.

Angga : Lumayan mahal, spare partnya aja cuma bisa didapat di luar Balikpapan. Belum lagi harganya mulai dari 200 ribu sampe satu juta rupiah per spare par.

Galih : Bener tuh, tapi kalo udah hobi mah materi di nomer duakan. Yang penting ada kepuasan tersendiri dari . hati

Surya : Tapi semua tergantung sama yang punya juga. Kalo bisa main kreasi, bisa meminimalis cost yang ada.

Canggih : Kalo belum punya, bisa dibilang agak mahal. Tapi kalo udah punya, tinggal modal kaki yang paling dibutuhin.

Jenis Low Rider Bikemu?

Galih : Low rider tuh ada banyak macamnya kayak cruiser, limo, firebike, classic, basman, chooper. Kalo aku yang jenis sepeda limo, soalnya bentuknya unik dan panjang. Jadi lebih susah buat mengandarainya.

Surya : Aku punya empat sepeda, fire bike, cruiser, limo 20, 20 classic. Aku suka semuanya, ho-ho.

Canggih : Punyaku jenis limo warna krum. Menurutku limo itu lebih enak buat dikendarain. Kan bannya besar tuh. Kalo classic enaknya pas di jalan lurus, waktu kena tanjakan jadi sedikit berat.

Dwi : Classic 20, alasannya sih lebih enak buat divariasiin. Jadi bisa lebih banyak dimodifikasi dan ditambah aksesoris.

Angga : Sama kayak Dwi, punyaku juga classic 20. Menurutku sih terlihat macho dan sangar. Jadi gue banget lah, ha-ha.

Pernah Ditentang dengan Hobi ini?

Surya : Untungnya enggak pernah. Malahan aku sering bingung dimana sepadaku. Ehh enggak taunya dipake ortu jalan-jalan.

Canggih : Enggak pernah tuh, yang penting sepedanya jangan hilang aja, ha-ha.

Dwi : Aku pernah tuh, mungkin menurut mereka uangku habis buat sepeda. Padahal waktu punya sepeda itu udah agak lama.

Angga : Aku juga, gara-gara kebanyakan ngabisin budget buat low rider.

Galih : Wah, aku enggak pernah tuh. Kan udah besar, he-he. Ortu mah enggak pernah ambil pusing. Palingan cuma diperingatin aja, supaya enggak lupa diri.(rsk)

————————————————————————————————
49. Slow, Kreativitas Sepenuh Hati
Surabaya Post – Minggu, 28 Nopember 2010 | 09:45 WIB

Kreativitas memang tidak akan pernah mati. Begitu pula dengan perkembangan kreativitas anak-anak muda Surabaya. Salah satu yang agaknya penuh dengan ide-ide kreatif itu adalah komunitas pecinta sepeda unik.

Kesan unik ditampilkan sepeda-sepeda low rider yang akhir-akhir ini sering terlihat mondar-mandir di jalanan kota Surabaya. Low rider alias kendaraan ceper sedang digandrungi oleh remaja, khususnya low rider bicycle, sebutan bagi sepeda hasil modifikasi. Belakangan tren naik sepeda bukan cuma untuk olahraga yang menyehatkan, tapi sudah bergeser menjadi arena bergaya.

Sesama komunitas low rider ini pun tak segan-segan memancal sepeda hingga keluar kota seperti Sragen, Bangkalan dan lain-lain hanya untuk mempererat hubungan silaturahmi antarpecinta low rider dan berbagi cerita atau kiat-kiat khusus yang berhubungan dengan low rider. Bagi mereka hubungan persaudaraan antarsesama sangatlah penting.

Walau terlihat sederhana, penghobi low rider harus siap merogoh kocek, paling tidak harus siap dana minimal Rp 1,5 juta. “Untuk satu sepeda dan modifikasinya dana yang dibutuhkan berkisar Rp 1 juta sampai Rp 5 juta,” ujar Adit, salah satu anggota komunitas low rider, yang memiliki dua sepeda ini.

Karena gemar dan hobi, dana yang dikeluarkan mungkin tak terlalu jadi masalah, yang penting sepeda kesayangan tampil cantik, seksi dan unik. Istilah low rider muncul sebab pengendara sepeda ini duduk di sadel yang lebih rendah dibanding sepeda lain alias ceper.

Sedangkan bentuknya terserah si pemilik mau dimodif seperti apa. Secara umum sepeda low rider punya bentuk melengkung yang biasa disebut busur atau rainbow pada bagian tengah sasisnya. Ada juga yang disebut sepeda cewek ditandai dengan bentuk sasisnya landai melengkung ke bawah.

Di kota metropolis ini komunitas low rider juga sudah terbentuk, salah satunya adalah Surabaya Low Rider Community (Slow). Mereka muncul dan berkumpul kembali pada awal tahun 2010 dan mencoba tetap kukuh pada sepeda yang bagi sebagian orang dianggap aneh. Karena kesamaan hobi itulah akhirnya mereka sepakat untuk membentuk komunitas low rider.

Berawal di depan Taman Bungkul setiap minggu pagi sampai saat ini, komunitas ini terdiri dari sekumpulan pemuda dengan bermacam latar belakang dan perbedaan pandangan hidup, namun tetap bersatu dalam gowes (bersepeda, Red). Mereka mempunyai motto: cintailah sepedamu, meskipun kata orang lain itu buruk.

Jenis sepeda low rider yang ada dalam komunitas ini juga cukup beragam, ada yang jenis classic, old scool, extreme, limo, basman, standar dan jenis lainnya. Konon, sepeda low rider pertama kali muncul di AS sekitar tahun 60- an. Itu terjadi saat mobil ceper lagi jadi tren di kalangan anak mudanya. Tapi karena tidak semua punya mobil akhirnya muncul ide modifikasi sepeda, seperti layaknya mobil ceper.

Malah bukan hanya ketinggiannya dipendekkan, bagian lain sepeda juga dipermak, karena bentuknya yang unik sepeda ceper pun akhirnya jadi tren tersendiri yang meluas ke penjuru dunia termasuk Indonesia. Bisa dibilang sejak sekitar tahun 2005 komunitas pencinta sepeda unik ini mulai menjamur ke tanah air.

Setiap hari minggu pagi komunitas ini rutin nongkrong di depan Gedung Wonokoyo, Taman Bungkul, Surabaya, untuk sekedar berkumpul, jalan sehat, dan adu kenyentrikan masing-masing sepeda. Mereka jejerkan sepeda itu layaknya pameran sepeda low rider dalam sebuah workshop dan sejenisnya.

Tentu saja pemandangan seperti ini akan mudah mengalihkan sorot mata orang-orang dengan keunikan bentuk sepeda masing-masing. Bodi sepeda yang bisa dibilang panjang dan setangnya yang menjulang tinggi ke atas, belum lagi dengan dudukan yang direndahkan, membuat orang yang melihatnya akan lebih mencermati tunggangan mereka. Bahkan orang-orang yang tak sengaja melihatnya tak segan-segan akan berhenti lalu mengambil foto sepeda low rider yang dilintasi. m8

————————————————————————————————

50. TRADISI PERLAWANAN YANG JADI TREND
Komunitas Balikpapan Lowrider

NYETRIK PLUS SEKSI: Beby, salah satu anggota lowder tampak makin anggun di atas sepeda cepernya.

Mereka selalu memesona. Tampil nyentrik memecah perhatian di keramaian. Bentuknya yang unik membuat sepeda lowrider, sepeda ceper, banyak disukai dan ngetrend. Tak banyak yang tahu kehadirannya berawal dari tradisi perlawanan.

RINAI enggan beranjak sejak pagi sekali, membasuh jalan dan debu di sekitar kawasan Lapangan Merdeka, Minggu (24/4) kemarin. Waktu menunjukkan sekitar pukul 06.40. Tampak beberapa peserta senam memulai aktivitasnya, meski masih rintik hujan. Selang beberapa menit, aktivitas senam pun kalangkabut diterjang hujan yang kian membesar. Kawasan Car Free Day yang biasanya ramai kini lebih leluasa.Para bikers yang tergabung dalam komunitas Balikpapan Lowrider (Blower) yang biasa bersafari di tengah keramaian, tak menampakkan batang hidungnya. “Iya habisnya deras betul,” kata Fauzan Zulfikar, wakil ketua Balikpapan Lowrider memberi kabar via telepon cellular.

Biasanya setiap Minggu pagi dan sore hari, komunitas ini selalu berkumpul di kawasan Lapangan Merdeka. Yang membedakan dengan sepeda lain, dilihat dari keunikan desain atau frame sepeda.Ada beberapa jenis; Fire Bike yang didesain bentuknya menyerupai bentuk api, ada juga Klasik, Limo, Cruiser, Bazman dan Chopper. Bentuk lain ada Track yang memiliki ban belakang dua, Style Latin, Supermen Is Dead—mengadopsigaya grup band Punk Rock asalBali yang menjadi icon komunitas Blower. Dari jenis-jenis sepeda lowrider, rata-rata bentuknya menyerupai desain motor atau mobil, misalnya saja jenis Chopper didesain mirip motor Chopper atau Limo yang framenya panjang layaknya Limosin. “Semua jenis ini ada diBalikpapan,” jelas Fauzan.

Sepeda lowrider mulai masukBalikpapansekitar empat tahun silam. Pemilik pertama bernama Didi, warga Gunung Sari. Sepeda ceper milik Didi kemudian dipajang di distro miliknya yang berada di kawasan tersebut. Namun berdirinya komunitas Blower diprakarsai Dwi (Pentol), warga Pasar Baru, yang juga memiliki hobi modifikasi motor. Kini Blower dipimpin Evince Dino Erlangga (Bengge) dan beranggotakan sekitar 40 orang. “Kita semuanya berteman,” kata Bengge, ditemui terpisah.

Menurut Bengge, kepuasan yang didapat dari sepeda lowrider salah satunya bisa menjadi pusat perhatian banyak orang. “Lihat saja, Mas, setiap kita lewat semua mata tertuju ke kita,” selorohnya.

Namun sayangnya pergerakan lowrider di Balikpapansangat terbatas, topografi di Balikpapanyang berbukit-bukit sangat tidak mendukung para Blower. Nanjak sedikit saja, kata Bengge sudah sangat terasa, karena lowrider lebih berat dari sepeda lainnya. Menurutnya, sepeda ceper memang didesain tidak untuk trip, apalagi blusukan off road, namun lebih kepada desainnya yang anggun. “Perjalanan terjauh kita hanya sampai ke Teritip, kebetulan dari sini (Jl Jenderal Sudirman, Red.) jalannya relatif datar”.

Sepeda lowrider pertama kali diperkenalkan pada tahun 1960-an oleh The “custom” King George Barris, sebelum menemukan sepeda lowrider, Geroge Barris adalah tukang menceperkan mobil. Memang saat itu virus mobil lowrider sedang mewabah di kalangan anak muda di Amerika. Tetapi trend itu hanya bisa dirasakan oleh anak muda dari keluarga kaya saja, karena untuk membuat mobil lowrider membutuhkan uang yang tidak sedikit. Sementara anak kalangan bawah hanya bisa melongo.

Melihat situasi seperti itu si King mendapatkan ide, mencoba membuat sepeda lowrider dimulai pada sepeda miliknya. Dari situ mulailah banyak anak dari kalangan kurang mampu ikut berkreasi membuat sepeda lowrider. “Ini sebetulnya bentuk perlawanan orang-orang yang kurang mampu. Tapi sekarang sudah jadi trend dan penghobinya datang dari semua kalangan,” imbuh Fauzan.

Untuk mendapatkan sepeda lowrider itu bisa pesan jadi atau merakit sendiri. Biasanya ongkos merakit sendiri bisa lebih besar karena disesuaikan dengan keinginan pembeli. “Paling murah Rp 1,8 juta sudah bisa dapat yang jenis klasik. Tapi ada juga yang hingga Rp 4 juta seperti jenis Fire Bike. (dwa/lhl)

————————————————————————————————

18 Tanggapan to “16. Artikel – Artikel Tentang Sepeda Low Rider & Komunitasnya Dari Berbagai Sumber”

  1. mudah-mudahan artikel-artikel ini sangat berguna sekali untuk kawan-kawan semua dan menginspirasi kita semua

  2. mantap.artikel lowridernya kita jadi byk dpt info nih

  3. terimakasih banyak om…
    dengan adanya artikel ini…
    saya bisa menambah pengetahuan yg lebih banyak tentang lowrider…
    terimakasih ya om…

    • oke deh bro mudah-mudahan bermanfaat bagi semua yang membaca dan yang kepingin tau.

  4. hmmm… cukup byk jg referensinya
    thx komunitas kami ikut diliput

    • oke deh ini juga kami sering mengumpulkan info-info tentang lori dari liputan yang dulu sampai yang agak terbaru. membagi info ke kawan-kawan di daerah yang jauh dari kota besar.

  5. sukses buat anak2 (SLRC)samarinda lowrider community…

    • hai kawan-kawan low rider malang. sukses juga buat kawan-kawan di sana. punya info bengkel dan toko sepeda low rider di malang kah ? untuk berita info di blog saya. kalao ada saya minta boleh tidak ?

  6. mantap sekali artikelnya, sangat menginspirasi, jadi kepengen punya sepeda beginian nih

  7. mantap banget lah pokoknya keren abiss.

  8. bos kalau gue mau beli tapi gue dimakassar boleh ga???

  9. bos,,komunitas ginian dah nyampe ke kota tasik belom???

  10. baru dapet sepedanya..lg cari2 tau..tq for infonya..

  11. saya sangat puas ketika membaca artikel ini…jadi mengetahui sejarah keberadaan lowrider dan perkembangan di indonesia..salut…:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: