Samarinda Low Rider Community, Sheet! #5 (November 2009)


SAMARINDA LOW RIDER COMMUNITY

Unik! Satu kata yang sontak menghentak di kepala ketika menyimak Sepeda bergaya beda ini. Lowrider mungkin bisa disebut semacam anak haram yang bandel jika dibandingkan dengan jenis sepeda lainnya. Mengadopsi tampilan motor Chopper klasik, Kesan rebel dan eksentrik menambah daya tariknya jika dibandingkan dengan sepeda-sepeda konservatif, terutama jika dibandingkan dengan sepeda-sepeda “keluarga” keluaran pabrik sepeda ternama, tak heran jika jenis sepeda ini dekat dengan kultur independen yang menolak tampil seragam. Dan itu menjadikannya sangat layak digemari semua kalangan.

Samarinda juga memiliki kultur bersepeda yang cukup kuat, komunitas berbasiskan kesukaan terhadap berbagai jenis sepeda (Mountain Bike, BMX, Onthel) sudah hadir dan menunjukan eksistensi yang cukup memuaskan, belakangan hadir pula komunitas untuk jenis sepeda Lowrider. Amad (atau dikenal pula dengan nick ‘Samarinda Lowrider Mad Lori’ di situs jejaring sosial Facebook) adalah salah satu yang paling aktif dalam gerakan komunitas ini, ia membuat Blog khusus (samarindalowridercommunity.wordpress.com) dan Pages SLRC di FB. Bisa dibilang Amad adalah sumber informasi yang tepat untuk mengenali komunitas ini.

Jadi mad, gimana sih perkembangan Komunitas Low rider di kota ini?

“Awalnya pengguna sepeda ini sudah ada sejak tahun 2007, biasanya nongkrong di Distro Scissors, jumlahnya masih sedikit sekitar 10 orang, namun kemudian orang-orang ini tidak bersemangat lagi, sekitar pertengahan 2008 semangat untuk menghidupkan komunitas ini muncul lagi, dan mulai 2009 ini pengguna sepeda Lowrider tanpa diduga semakin banyak, sekitar 40 sepeda” . Well.. pencapaian yang lumayan kalau kita mengukur secara kuantitas, namun kemudian Amad mengakui, perkembangan pesat ini bisa jadi hanya karena Trend semata, dilihat dari anggotanya yang terbagi merata dari anak SMP sampai Pekerja, tentunya jumlah ini akan mengalami naik-turun, pasang-surut dan keluar-masuk anggota. Karena jika memang hanya berawal dari trend semata, tentunya rawan bosan. “Awalnya Lowrider ini memang Cuma soal gaya, tapi dari situ kemudian bisa membuat sesuatu yang beda.. ketika jalan-jalan bersama ada perasaan bangga, ikutin Event rame-rame dan terus mempromosikan baiknya bersepeda”.

Berbicara mengenai Lowrider berarti juga berbicara tentang seni dan pengalihan fungsi. Tak bisa disangkal, dengan bentuk radikal seperti itu, mengendarai sepeda ini berjalan-jalan perlu usaha ekstra, keseimbangan dijaga dengan usaha lebih (belum lagi selangkangan akan lebih cepat terasa lelah terutama jika belum terbiasa). Berbeda dengan jenis sepeda lainnya yang berfungsi menyehatkan tubuh dan mengutamakan unsur sport dalam pemakaiannya, Lowrider mengutamakan Estetika. Jika BMX digunakan untuk beratraksi liar, Lowrider Lebih pas untuk sekedar dipajang dan dikagumi nilai estetikanya, walaupun dalam kultur Lowrider sendiri dikenal pula jenis-jenis ketangkasan seperti Drag Race, Slalom dan Slowrider, yang ini aneh, lambat-lambatan, siapa yang paling lambat dialah yang menang, tapi tak segampang yang dikira, ini butuh keseimbangan.

Oke, Mari kita membandingkan agar mengerti sejauh apa perkembangan SLRC dibanding komunitas serupa di pulau Jawa. Secara nasional, dimana posisis SLRC? “Bisa dibilang masih terbelakang, kendalanya disini tidak ada toko yang khusus menjual spare part Lowrider, keterbatasan sumber daya manusianya juga berpengaruh, misalkan di Samarinda ada toko khusus untuk Lowrider, orang orang juga bisa mencari informasi disitu… disini juga kita belum bisa bikin acara sendiri seperti di Jawa, disini masih nebeng nebeng acara orang aja..” ujar Amad dengan cukup miris, ia berharap kondisi ini akan berubah suatu saat.

Tapi tentunya SLRC masih punya semangat yang cukup untuk menyongsong masa depan dan mengejar ketertinggalan dari komunitas lain .. “Asalkan orang orang bisa mengerti lebih jelas soal kenapa mereka bersepeda Low Rider, dan tidak sekedar ikut ikutan…mudah mudahan bisa bertahan dan berkembang, dengan segala sarana yang lebih baik di kota ini”. Bisa disaksikan kekompakan yang tersisa dari komunitas ini saat mereka berkumpul bersama pada hari Minggu di Stadion Segiri. Bagi pemililik sepeda Lowrider yang belum bergabung dengan SLRC, mereka akan menerima anggota baru dengan tangan terbuka dan bersenang hati, dan bagi yang minat bergabung tapi belum memiliki sepeda, mereka akan merekomendasikan salah satu anggota yang memang dikenal mampu membuatkan sepeda (siapkan dana 1-2 juta untuk hasil yang memuaskan). Semoga Lowrider tak hanya ditanggapi sebagai trend biasa, Kumpulan sepeda unik ini akan selalu terlihat menarik.. dan keunikan memang selalu dibutuhkan kota ini.

Tulisan ini dari Majalah lokal Samarinda : Sheet!, Edisi ke #5 (November 2009)

Penulis artikel : Rhesa Arisy

Sumber info: Mad Lori (Amad)

……….

~ oleh samarindalowridercommunity pada 12 Februari 2010.

7 Tanggapan to “Samarinda Low Rider Community, Sheet! #5 (November 2009)”

  1. keren abiz bro…moga Samarinda Low Rider Community makin suskses and lebih nambah kreatifitasnya …

  2. pokokna jaya terus lah…Rockstage BAndung

  3. oh iya lupa uy..saudara2 yang di samarinda kl mau ordwer t shirt,Topi hub aja kita ya..thx…

  4. oh iya lupa uy..saudara2 yang di samarinda kl mau order t shirt,Topi hub aja kita ya..thx…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: