Makin Ceper Lebih Disukai


Tribun Kaltim, Jum’at 12 Desember 2008

Halaman 20

TRIBUN KOMUNITAS

SAMARINDA LOW RIDER COMMUNITY

VOX POPULI

Koleksi Tiga (Angga Mahasiswa Akper Poltekkes)

Pertama kali naksir sepeda low riders saat melihat bentuknya. Aneh bin lucu. Tapi, kerena saat itu kantong lagi tipis, saya pun merakit sendiri sepedanya. Pertama, saya pesen dulu komponen sepeda ini di Bandung, misalnya stang, bangku, pelek, hingga garpu depan. Setelah barang sampai, saya bawa ke tukang las untuk disambung, sesuai dengan gambar desain saya. Sekarang koleksi sepeda low rider saya ada 3 unit, dua unit rakitan sendiri dengan harga Rp. 800.000,- dan Rp. 1,5 juta, satu unit pesan dari Jakarta, kalau enggak salah pabrikan dari Jerman seharga Rp. 7,5 juta sudah termasuk ongkos kirim. (fix)


Bentuk tak Normal (Amad, Koordinator Samarinda Low Rider Community)

Saat ini, anggota Samarinda Low Rider Community yang sering ngumpul ada sekitar 20 orang, sebagian besar karyawan tapi ada juga yang mahasiswa dan pelajar. Setiap Minggu Sore, kami nongkrong dan mejeng di halaman GOR Segiri, lalu muter-muter kota sebentar. Biasanya sih, kalau kami sedang konvoi, banyak orang memperhatikan. Ada yang mengacungkan jempol, ada yang memuji kami. Rata-rata tertarik dengan bentuk sepeda kami yang kelihatan tidak normal dan ceper tetapi ada juga bentuknya yang memanjang. (fix)


‘Teman’ Kerja (Yukie, Karyawan)

Mungkin saya anggota Samarinda Low Rider Community yang paling gila. Dibanding pacar, saya lebih sayang sepeda low riders. Makanya, setiap hari saya tak mau jauh-jauh dari sepeda ini. Termasuk pulang dan pergi dari tempat kerja. Padahal, jarak rumah saya di Jalan Antasari dengan tempat kerja di Jalan Kusuma Bangsa cukup jauh dan melelahkan untuk ditempuh dengan sepeda ceper ini. Tapi karena suka dan sudah terbiasa, buat saya ini bukanlah beban. (fix)


Sejarah Singkat Tentang “Sepeda Low Rider”

Sepeda Low Rider pertama kali di perkenalkan pada tahun 1960an, sepeda ini pertama kali di perkenalkan oleh The “custom” king George Barris, sebelum menemukan sepeda low rider si Tuan King ini pekerjaanya adalah menceperkan mobil, Memang saat itu virus Mobil Low Rider sedang mewabah di kalangan anak muda Amerika, Tetapi trend itu hanya bisa dirasakan oleh anak-anak muda dari keluarga kaya saja karena untuk membuat sebuah mobil low rider membutuhkan uang yang tidak sedikit, sementara anak-anak dari kalangan bawah hanya bisa melongo.

Melihat situasi ini, Barris lantas memiliki ide untuk membuat sebuah sepeda yang mengacu pada konsep mobil ceper dan mulai memperkenalkan pada publik. Setelah dibuat dalam jumlah terbatas, ternyata sepeda rancangan Barris digandrungi anak-anak muda, hingga sejumlah pabrik sepeda di sana memproduksi sepeda low rider, misalnya Schwinn, Western Flyer, Giant dan Phoenix. Kalangan penggemar low rider terbagi beberapa aliran, antara lain classic alias orisinil, vegas alias oriental, low rider bicycle, chopper atau stretch dan beach cruiser.

Sepeda ini sempat tidak diproduksi dalam waktu yang lama, karena peminatnya makin menurun. Namun, belakangan ini demam sepeda ceper muncul kembali hingga pabrik-pabrik sepeda pun kembali memproduksi low rider. (fix)


Beberapa anggota Samarinda Low Rider Community (SLRC) bergaya di samping deretan sepeda ceper. Setiap hari Minggu sore, mereka berkumpul di halaman GOR Segiri kemudian keliling kota ramai-ramai.

Makin Ceper Lebih Disukai

SORE yang cerah, Minggu (6/12/2008). Puluhan anak muda berkumpul di halaman GOR Segiri Samarinda. Mereka tertawa, memotret satu sama lain dengan menggunakan ponsel kamera, lalu tenggelam dalam obrolan seru.

Di samping mereka, terdapat sepeda-sepeda berbentuk aneh : pendek tapi memanjang. Dibilang sepeda anak-anak, tapi stangnya tinggi dan tak terjangkau oleh tangan yang pendek. Dikatakan sepeda dewasa, tapi bentuknya ceper dan sangat pendek. Mereka menyebutnya sepeda low rider. Sepeda model inilah yang belakangan ini sedang naik daun, menggeser dominasi sepeda gunung (mountain bike) dan sepeda onthel.

Begitu jumlah pemilik sepeda low rider yang berkumpul dianggap banyak, seorang pria berkaos putih model lengan panjang. Achmad Zulkarnain (Mad Lori), lantas mengajak semua pemilik low rider untuk konvoi keliling kota.

Penampilan sepeda yang lucu, pendek namun memanjang, membuat sebagian besar pengendara sepeda motor dan mobil menoleh, berkomentar dan beberapa melempar senyum.

Itulah fenomena baru di Kota Samarinda. Sejak beberapa bulan lalu, sejumlah orang yang bosan dengan bentuk sepeda normal, mengadakan pertemuan rutin seminggu sekali. Mereka membentuk komunitas baru, perkumpulan pemilik sepeda berbentuk aneh dan tak normal.

“Saat melihat bentuknya yang aneh bin lucu, saya langsung jatuh hati. Beda banget sama sepeda kebanyakan, ini memang sepeda tidak normal bentuknya, “ ujar Angga, mahasiswa Akper Poltekkes Samarinda.

Karena saat itu dompet Angga sedang tipis, ia pun merakit sendiri sepedanya. Pertama, ia pesan dulu komponen sepeda low rider di Bandung, mulai dari stang, bangku, pelek, hingga garpu depan. Setelah barang sampai di Samarinda, ia membawanya ke tukang las untuk disambung sesuai dengan desain yang ia gambar.

Menurut Amad, Koordinator Samarinda Low Riders, saat ini jumlah anggota yang aktif berkumpul sekitar 20 orang, sebagian besar karyawan tapi ada juga yang mahasiswa dan pelajar.

“Malah ada yang satu keluarga masing-masing punya sepeda low riders, mulai bapak, ibu, sampai anak-anaknya, semua pegang low riders. Saya sendiri total punya 3 unit sepeda, 2 unit sepeda low rider cruiser, pesan di Ace Hardware Balikpapan dan 1 unit lagi sepeda Onthel antik merek Gazelle warisan ayah saya ,” kata Amad.

Samarinda Low Riders bukan yang pertama mencetuskan tren sepeda ceper yang ditemukan pertama kali di Amerika. Sebelumnya sudah pernah muncul pada tahun 2007, yang dimulai dari distro Scisors di Jalan Ahmad Yani. Hanya saja, jumlahnya masih sangat sedikit dan belum terorganisir. Namun, sejak beberapa bulan lalu, Amad didaulat oleh teman-temannya menjadi koordinator komunitas. (fix)

~ oleh samarindalowridercommunity pada 13 Februari 2010.

4 Tanggapan to “Makin Ceper Lebih Disukai”

  1. Boleh Ikut Gabung Club gg kk..?

    • boleh dong, kamu emang tinggal dimana bro ?
      untuk bersilahturahmi kamu bisa ngumpul-ngumpul di sekretariat kami di bengkel dan toko sepda rebellion castle custom di jalan anggur no 24 (samping warnet), jln anggur dekat jalan pembangunan vorfoo. anak-anak bisa ada di sana sore atau malam hari. cari yang namanya ardy atao bisa juga kitting

  2. maf gaes…
    w mau gabung nih…
    tpi ngumpulnya di samarinda mana tuh…
    sory w ga tau daerah…
    kalo gor jakarta w tau bro…

    mudah2n cih.. masih daerah jakarta… hehehe
    klo luar jakarta masya allah…
    bisa bengkak kaki w… hahaha

    • di luar jakarta tepatnya di pulau kalimantan bro, sangat-sangat jauh dari ibukota jkt karena udah di luar pulau, kalo ke sini bisa pake pesawat atau kapal tapi turun dulu di kota balikpapan lalu di lanjutkan perjalanan darat pake mobil atau bis hampir 3 jaman dan anda akan sampai di samarinda kota tepian (pinggir sungai mahakam). nah di smd kita biasa ngumpul sekarang tiap minggu sore atau kadang sabtu sore di depan islamic center samarinda, dulu ngumpulnya di gor segiri samarinda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: