Rahma & Yunara Pasutri Tuna Rungu Bersepeda Keliling Indonesia Singgah Juga Di Samarinda


Bersepeda keliling Indonesia mungkin terdengar sudah biasa bagi kebanyakan orang. Tapi perjalanan yang dilakukan sepasang suami istri penyandang tuna rungu barangkali boleh dikategorikan sebagai sesuatu yang luar biasa.

Perjalanan itulah yang kini dilakoni sepasang suami istri tuna rungu, Yunara (34) dan Rahma Anggraeni Chibro (29). Keduanya bertekad mengadakan perjalanan keliling Indonesia dengan bersepeda. Bahwa mereka ingin keliling Indonesia untuk membuktikan penyandang tunarungu memiliki kemampuan sama dengan orang normal untuk melakukan segala sesuatu yang luar biasa.

Suka duka telah mereka alami ketika hendak memulai perjalanan ini. Kendala komunikasi memang menjadi hambatan mereka saat melakukan persiapan. Rodalink dalam hal ini turut mendukung perjalanan mereka dengan bantuan service dan sparepart. Ketersediaan cabang-cabang Rodalink yang tersebar di seluruh Indonesia tentu saja dapat turut membantu selama perjalanan.

Dengan mengayuh sepeda, mereka mulai bertolak dari Bandung, 30 Juni 2009 lalu, menuju Jakarta. Berbekal dua sepeda Polygon Neptune terbaru, keduanya diberangkatkan dari depan Gedung Departemen Dalam Negeri Jalan Medan Merdeka Utara No 7, Jakarta Pusat, pada Selasa pagi, Tgl. 11 Agustus 2009 dan dilepas langsung oleh Menteri Dalam Negeri RI, Mardiyanto.

Mendagri dalam sambutannya sangat mendukung upaya yang dilakukan Yunara dan istrinya, sekaligus meminta untuk selalu menginformasikan keberadaan mereka setiap masuk di sebuah propinsi tertentu. Dua pesepeda ini direncanakan menuntaskan perjalanan selama kurang lebih setahun dengan menempuh setiap kota di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

Sementara ketua komunitas Bike to Work Indonesia, Toto Sugito mengatakan akan mengerahkan B2W setiap wilayah untuk membantu Yunara dan Rahma untuk menyediakan segala keperluan yang dibutuhkan, termasuk tempat penginapan.

Yanura dan Rahma juga mendapat dukungan dari Menteri Dalam Negeri Mardiyanto yang akan memberikan surat rekomendasi kepada gubernur di 33 Provinsi untuk memberikan bantuan dan dukungan bagi pasangan ini.

Setelah dari Jakarta, mereka telah menyinggahi Kota Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Mataram, Kupang, Makassar dan Ambon. Selanjutnya, mereka akan melanjutkan perjalanan menuju Jayapura, Merauke, Manokwari, Ternate, Manado, Gorontalo, Palu, Mamuju, Kendari, Balipapan, Samarinda, Banjarmasin, Palangkarya, Pontianak, Pangkal Pinang, Tanjung Pinang, Banda Aceh, Sabang, Medan, Pekanbaru, Padang, Jambi, Bengkulu, Palembang, Bandar Lampung, Serang, dan rencananya kalau tidak banyak halangan ditargetkan tiba di Jakarta pada 28 Oktober 2010 mendatang, bertepatan dengan peringatan hari “Sumpah Pemuda”.

Berangkat dari Bandung

Sebelumnya bertekad keliling Indonesia, pasutri ini telah berkeliling sepeda ke daerah-daerah di Jawa Barat, seperti Subang, Cianjur, Sumedang, Bogor, Purwakarta, dan Cibinong. “Kami akan memulai perjalanan dari Jakarta menuju Tangerang, Serang, Cilegon, Merak, Lampung, Palembang, Bengkulu dan berlanjut ke pulau-pulau lain di Indonesia. “Selagi muda saya ingin keliling Indonesia karena ingin melihat indahnya alam Indonesia, serta aneka ragam budayanya yang selama ini hanya dilihatnya dari televisi”. kata Rahma yang berasal dari Bandung itu.

Pasangan yang berpacaran dua tahun itu rela berpisah dengan putri kecilnya demi memenuhi impian, menginjakkan kaki di seluruh wilayah Indonesia. Mereka terinspirasi cerita beberapa tokoh yang pernah menjalani petualangan itu. Sepeda dipilih karena mudah dan tidak mahal.

Ide tersebut muncul pada Maret 2009. Karena aktif di Pramuka, mereka mengajukan rencana tersebut ke atasannya. Namun, mereka tidak mendapat dukungan maksimal. Keduanya lantas mengajukan usul tersebut ke PMI. Upayanya kembali gagal. Lalu berbelok ke komunitas B2W di Jakarta. Di organisasi itu keduanya langsung mendapat dukungan, termasuk dari jaringan B2W yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sementara itu, ketua komunitas Bike to Work Indonesia, Toto Sugito mengatakan, pasangan suami isteri tuna rungu tersebut mempunyai tekad yang bulat, karena modal yang dipunyai sangat minim. Dia juga akan mempertemukan kedua pasangan itu dengan Menegpora Adhiyaksa Dault dan produsen sepeda Polygon. Khusus kepada produsen sepeda Polygon dia akan meminta agar sepeda pasutri tuna rungu itu diganti dengan yang layak.

Sepeda milik Rahma dan Yunara pun diberi tanda keselamatan berupa tulisan “Tuna Rungu”. Tanda itu, katanya, untuk menjaga keselamatan keduanya selama berkendara di jalan raya.

“Ini penting untuk keselamatan mereka karena mereka memiliki keterbatasan pendengaran dan berbicara,” katanya.

Melewati jalan ramai sepanjang Bandung – Cianjur – Puncak – Bogor – Cibinong – Depok – Jakarta, Rahma ngeri dengan truk, bus, dan sepeda motor yang melaju kencang dan ugal-ugalan. ”Rahma depan. Saya belakang. Truk, bus, angkot (angkutan kota), bemo, sepeda motor tidak bagus. Mobil pribadi bagus tak ugal-ugalan,” kata Yunara dengan cara bicara kurang lancar.

Selama perjalanan, Rahma-Yunara sering berhenti melihat petunjuk jalan atau bertanya kepada polisi lalu lintas dan pedagang kaki lima untuk mengetahui arah tujuan. Jika tidak ada yang mengerti apa yang mereka tanyakan, Rahma siap dengan pena dan buku. Keduanya terus mengayuh sepeda tanpa sarapan. Jika tiba waktu makan siang, mereka hanya minum air putih dan roti. Makan nasi hanya pada malam hari. ”Kalau sudah gowes, lupa makan,” kata Yunara sambil tersenyum.

Selama perjalanan, banyak suka duka yang mereka alami. Yunara tetap berpuasa. Ketika sampai di Klaten, dia sempat pingsan karena kondisinya drop. Di Madiun, dia harus istirahat empat hari karena terserang batuk pilek. “Anginnya kencang,” kata Yunara dengan gerak bibir sambil memiringkan badan seolah diterpa angin.

Di kota-kota yang tak punya komunitas B2W, dia sering kesulitan mendapatkan tempat untuk sahur. “Sering tidak makan,” katanya seraya mengusap perutnya. Meski berat, pria 33 tahun itu tidak mau menyerah. “Tidak apa-apa,” tegasnya. Sedangkan Rahma tidak sekuat suaminya. Perempuan berambut ikal itu memilih tidak berpuasa.

Padahal, ransel yang dibawa di pundak lumayan berat karena berisi pakaian, baju pramuka, kaus, sepatu, obat-obatan, vitamin, dan peralatan mandi. Segala macam dokumen penting, seperti ijazah, sertifikat, foto, dan permohonan dukungan moril dan materiil, juga dibawa.

Meski pasangan suami-istri itu masih bisa sayup-sayup mendengar suara klakson, tetap saja tidak luput dari senggolan kendaraan lain. Rahma pernah tertabrak sepeda motor dan Yunara keserempet angkot. Tidak jarang pula keduanya dimaki-maki karena tidak juga minggir meski diklakson berkali-kali. ”Saya bilang maaf, maaf,” kata Rahma. Selain itu, pernah beberapa kali ban sepeda mereka pecah di tengah jalan.

Mencari Ayah

Ide keliling Indonesia muncul awal tahun ini dan terbentur masalah dana karena baik Rahma maupun Yunara tidak bekerja. Keduanya sehari-hari aktif sebagai pramuka luar biasa tunarungu. Rahma menganggur sejak 6 tahun lalu, sementara Yunara di-PHK sekitar 15 tahun lalu.

Kedua mantan atlet nasional kejuaraan khusus penyandang cacat—Rahma atlet lompat jauh dan Yunara atlet lari jarak 100 meter—itu berkali-kali mencoba melamar di pabrik dan ‘kerja kantoran’. Namun, mereka selalu ditolak karena perusahaan tidak mau menanggung risiko memiliki karyawan penyandang tunarungu. ”Takut kecelakaan. Tidak dengar,” kata Yunara.

Rahma segera menambahkan, ”Tunanetra kerja bagus. Cacat fisik ada kerja. Tunarungu tidak ada kerja. Saya ingin kerja,” kata Rahma geregetan. Rahma dan Yunara berharap hasil dari keliling Indonesia ini bisa dipakai sebagai modal usaha menjahit.

Berbekal Rp 250 ribu, keduanya memulai perjalanan. Sebelum berangkat, mereka menitipkan anaknya, Fadhilah Dzulfiani (3), kepada saudara sekaligus pemilik rumah kontrakan mereka di Jalan Jati Menak C4-7 RT 03 RW 06, Margaasih, Bandung.

Jika kangen Zulfi, mereka tinggal mengetik SMS dan mengaktifkan video call di telepon genggam low-end Sony Ericsson K800 karena tidak bisa memanfaatkan fasilitas suara. Keduanya bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat melalui video call dengan teman sesama penyandang tunarungu yang ikut membantu menjaga anak mereka. ”Bisa lihat Zulfi,” kata Rahma yang kerap menuliskan kalimat yang sulit dipahami lawan bicara.

Selain pembuktian diri, Rahma juga ingin mencari ayahnya, Suvenir Chibro, yang tak diketahui kabarnya lagi sejak 2000. Rahma hanya tahu ayahnya kini bekerja di kantor kejaksaan tinggi di Papua. ”Dua puluh tahun ditinggal ayah, ketemu sekali tahun 2000,” tutur Rahma yang ditinggal ayahnya ketika ia berusia 2 tahun. Sepeninggal ayahnya, Rahma demam tinggi dan kehilangan pendengaran.

Rahma-Yunara berharap bisa selesai keliling 33 provinsi selama 1,5-2 tahun. Selama perjalanan keliling itu, mereka absen dari latihan. Namun, seusai keliling Indonesia yang dijadwalkan rampung Oktober tahun depan, mereka akan kembali ke pelatihan untuk mengikuti Porcanas XIV, semacam PON khusus untuk penyandang cacat di Riau 2012 nanti.

Impian Rahma tak hanya berakhir di situ. Setelah keliling Indonesia, ia ingin mengayuh sepeda hingga ke luar negeri. ”Mau ketemu Obama (Presiden AS Barack Obama). Lama ya. Mungkin 7 tahun ya naik sepeda ke Amerika,” kata Rahma dengan tawa berderai.

Rahma dan Yunara Singgah juga di Samarinda

Setelah dari Balikpapan, Mampir ke Samarinda. Tiba di Samarinda, malam selasa (08 Maret 2010), kurang lebih jam 9 malam. Menginap beberapa hari di Wisma Ruhui Rahayu, Jl. Basuki Rahmat (Seberang RS Darjad). Kegiatan Selama di Samarinda :
Bersilahturahmi dengan Pejabat Pemerintah Daerah seperti bertemu dengan Gubernur Kaltim Awang Faroek dan Istri Walikota, Night Ride bareng komunitas bike to work Samarinda mengelilingi kota Samarinda malam hari, Rekreasi jalan-jalan ke Pampang dan ke Tenggarong.

Night Ride dan mampir di Islamic Center untuk foto bareng bersama Rahma dan Yunara depan Islamic Center.

…….

……

Night Ride bersama Komunitas Pedalis (Sepeda Lipat Samarinda).

Night Ride bersama Komunitas Bike To Work

Night Ride bersama Komunitas Bike To Work

Selama di Samarinda Rahma dan Yunara dapat bantuan untuk penginapan, perbaikan sepeda (penggantian peralatan sepeda yang rusak) dari Pemrov, Pemkot dan Bike To Work Samarinda.
Tapi perjalanan di Samarinda harus berakhir untuk melanjutkan perjalanan kembali ke daerah-daerah lainnya.

Beberapa Komunitas ikut mengiringi kepergian Rahma dan Yunara meninggalkan Samarinda.

Hari kamis sore Tgl. 11 Maret 2010, saya (Mad Lori) dari komunitas sepeda low rider (Samarinda Low Rider Community) mendapat pemberitahuan dari Mas Sophian, koordinator Bike To Work Samarinda yang juga dari komunitas Pedalis (Sepeda Lipat Samarinda) diundang untuk bisa turut serta besok pada Jum’at pagi yaitu konvoi komunitas sepeda mengantarkan kepergian Rahma dan Yunara meninggalkan kota Samarinda, rencana awal dilepas sampai jembatan mahakam saja, tapi dilapangan ada perubahan yaitu sampai di Samarinda seberang.

Jum’at pagi, Tgl. 12 Maret 2010, start dari wisma Ruhui Rahayu kurang lebih pukul 7 pagi. Dikawal oleh kawan-kawan komunitas sepeda di Samarinda seperti komunitas MTB, Sepeda Lipat (Pedalis), Bike To Work, Customs Cycling Club dan komunitas sepeda low rider (Samarinda Low Rider Community). Mereka berdua dilepas sampai Samarinda seberang, depan markas militer kompi A (setelah jembatan mahakam Samarinda).

Selama perjalanan menuju Samarinda seberang (setelah jembatan mahakam) beberapa kali kami foto bareng, yaitu di tepian mahakam depan Kantor Gubernur, di Islamic Center, di pos polisi lalu lintas jembatan mahakam dan terakhir di depan markas militer kompi A Samarinda seberang. Lalu berangkat meneruskan perjalanan dari Samarinda ke Banjarmasin kurang lebih pukul 8.30. Selamat tinggal, semoga selamat sampai tujuan.

Untuk saling berkenalan, bertanya tentang kabar atau bertanya posisi saat ini dimana dan lainnya bisa menghubungi Rahma dan Yunara lewat SMS saja di nomor : 081213474480. Memberi bantuan apapun sangatlah penting, ayo… mari beri suport sahabat kita ini. (dari beberapa sumber).

Mari kawan-kawan kita lihat foto-foto dokumentasi saat-saat Rahma dan Yunara berangkat meninggalkan kota Samarinda dengan diantar oleh kawan-kawan dari beberapa komunitas sepeda sampai di Samarinda Seberang dan meneruskan kembali perjalanan mengelilingi Indonesia.

……….

…….

……..

…….

……….

………

……….

………

………

………

……….

……….

………

……..

……..

……..

……..

……….

……..

………

……….

………..

……..

…….

……..

………..

……..

………

……….

………

……..

………..

……..

………

…….

…….

………

…….

………

………

………

………

………..

……….

………

……….

………

………

………..

………

………

………

……..

……..

………

……..

………

………

………

………..

………

……….

……..

……..

…….

……..

…….

……..

………

……….

……

……..

…….

………

……….

………..

……….

…….

……..

……..

……….

…..

……

…..

…..

…..

……

…….

……..

…..

……

……


3 Tanggapan to “Rahma & Yunara Pasutri Tuna Rungu Bersepeda Keliling Indonesia Singgah Juga Di Samarinda”

  1. Kami juga dari DESA (deli sepeda antik) Sumatera Utara telah menerima Rahma dan suaminya selam 2 hari di tebing tinggi sumut, dan saat ini rahma sudah sampai Prapat (danau toba) obyek wisata….

    • mantap sudah sampai sana. semoga perjalanan selalu dilindungi yang maha kuasa.

  2. […] Rahma & Yunara Pasutri Tuna Rungu Bersepeda Keliling Indonesia Singgah Juga Di Samarinda […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: